News

Dua WNA Terlibat Pinjol Ilegal Masih Diburu Polisi

Bareskrim telah berkoordinasi dengan pihak imigrasi untuk melacak keberadaan dua WNA ini.


Dua WNA Terlibat Pinjol Ilegal Masih Diburu Polisi
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono (AKURAT.CO/Yudi Permana)

AKURAT.CO, Polisi masih memburu dua warga negara asing (WNA) yang terlibat kasus pinjaman online (pinjol) ilegal di Indonesia. Bareskrim telah berkoordinasi dengan pihak imigrasi untuk melacak keberadaan dua WNA ini.

“Masih proses, ada 2 DPO. Kami juga terus koordinasi dengan imigrasi karena ini menyangkut warga negara asing. Kami terus lakukan pelacakan terhadap keberadaan yang bersangkutan,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono dalam keterangannya, Minggu (1/8/2021).

Selain itu, Polri juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memberantas pinjol ilegal yang kian marak di Indonesia. Pasalnya, pemblokiran tidak menjadi solusi yang efektif lantaran pelaku akan beroperasi lagi dengan nama-nama yang baru untuk mencari korbannya.

Diketahui, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Mabes Polri berhasil membongkar sindikat pinjol ilegal. Sebanyak delapan pelaku ditangkap. Sedangkan dua WNA ikut terlibat masih dicari keberadaannya.

“Ada beberapa tersangka yang masih dilakukan pengejaran, WNA. Ini sudah kita lakukan pencekalan dan mengirimkan DPO kepada kedua orang ini,” kata Direktur Tipideksus Bareskrim Polri Brigjen Helmy Santika dalam jumpa pers virtual, Kamis (29/7/2021).

Helmy menyampaikan, para tersangka berasal dari pinjol KSP Cinta Damai. Dalam operasinya mereka menagih utang dengan memfitnah para nasabah sebagai bandar narkoba yang masuk dalam daftar pencarian orang.

"Mereka membuat pesan-pesan, tulisan yang mungkin sifatnya sudah mencemarkan nama baik. Contohnya adalah seperti dibuat seolah-olah bahwa borrower itu adalah bandar sabu, bandar narkoba,” ujar Helmy.

“Kemudian, mohon maaf, kalau dia perempuan, di-crop, ditempelkan dengan yang tidak senonoh, serta yang lain-lainnya,” sambungnya.

Helmy mengatakan, penangkapan delapan pelaku pinjol dilakukan di tempat berbeda. Dua pelaku ditangkap di Kota Medan, Sumatera Utara, berinisial Dea dan Andre. Keduanya merupakan penagih utang (debt collector) yang bekerja pada KSP Cinta Damai.

Seorang pelaku bernama Christopher ditangkap di Tangerang Selatan yang berperan sebagai pemberi perintah kepada debt collector untuk melakukan penagihan kepada peminjam dengan cara-cara mengancam, menistakan dan memfitnah lewat pesan berantai.

Berikutnya lima orang pelaku, yakni Elroy, Benedictus, Alfonsius, Sidharta, dan Rizky, ditangkap di Jakarta Barat sebagai operator kartu SIM ponsel.

Dalam penangkapan, polisi mengamankan beberapa barang bukti antara lain ribuan SIM card, modem pool untuk mengirim SMS blasting, HP, serta laptop yang berfungsi untuk melihat alur transaksi komunikasi dari para pelaku.[]