Lifestyle

Dua Wajah Kesehatan Jiwa, Stigma Negatif ODGJ dan Romantisasi Mental Illness

Kenapa ODGJ dipandang negatif namun banyak yang self-diagnose mental illness?


Dua Wajah Kesehatan Jiwa, Stigma Negatif ODGJ dan Romantisasi Mental Illness
Ilustrasi kesehatan mental (Pixabay/Wokandapix)

AKURAT.CO Isu kesehatan jiwa santer menggaung kencang di masyarakat Indonesia berapa tahun belakangan. Berbagai macam jenis gangguan kesehatan jiwa kini makin akrab di telinga masyarakat, seperti Bipolar, Depresi, Gangguan Kecemasan, Kepribadian Ambang, OCD, hingga Skizofrenia.

Perbincangan terkait kesehatan jiwa kini bukan lagi hal yang tabu untuk dibahas. Salah satu aktris yang memperkenalkan isu kesehatan jiwa adalah Marshanda, yang namanya erat dengan gangguan Bipolar. Ya, Marshanda mengalami gangguan kesehatan jiwa Bipolar, yang mana nama penyakit tersebut muncul ketika video viral dirinya tersebar.

Dua Wajah Kesehatan Jiwa, Stigma Negatif ODGJ dan Romantisasi Mental Illness - Foto 1
Potret terbaru Marshanda Potret terbaru Marshanda Instagram/marshanda99

Saat itu, Marshanda membuat video sambil bernyanyi, menari dan menyampaikan isi hatinya pada teman-teman sekolahnya dulu yang dirasa menyakitinya. Perilaku Marshanda disebut-sebut merupakan reaksi dari mania, salah satu episode suasana hati pada pengidap Bipolar.

Selain itu, ada Ariel Tatum yang juga kerap mengedukasi masyarakat terkait gangguan kesehatan jiwa yang diidapnya, yaitu Kepribadian Ambang atau Borderline Personality Disorder (BPD). Sempat menghilang dari dunia hiburan, Ariel Tatum kembali muncul ke masyarakat dan menceritakan pengalamannya yang hidup dengan Gangguan Kepribadian Ambang.

Borderline Personality Disorder sendiri merupakan gangguan kepribadian yang mempengaruhi perasaan dan cara berpikir penderitanya.

Dua Wajah Kesehatan Jiwa, Stigma Negatif ODGJ dan Romantisasi Mental Illness - Foto 2
Ariel Tatum penderita gangguan mental Ariel Tatum penderita gangguan mental Instagram/arieltatum

Masyarakat patut berterima kasih pada Marshanda dan Ariel Tatum lantaran telah mengubah stigma negatif gangguan jiwa. Seiring edukasi yang digaungkan keduanya, kini makin banyak penderita ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa) atau mental illness, berani mengakui apa yang dideritanya. Ya, menderita gangguan jiwa bukan aib yang harus ditutupi. Namun dalam melakukan perubahan, termasuk stigma, seringkali melalui proses yang tak mudah.

Dalam laman American Psychiatric Association, mental illness berarti kondisi kesehatan yang melibatkan perubahan emosi, pemikiran atau perilaku (atau kombinasi dari semuanya). Penyakit mental berhubungan dengan distres dan/atau masalah yang berfungsi dalam aktivitas sosial, pekerjaan atau keluarga.

Sementara dalam laman Alodokter, ODGJ merupakan orang dengan gangguan jiwa yang kerap menerima diskriminasi dari masyarakat karena dianggap berperilaku menyimpang. Menelaah dari kedua istilah tersebut, dengan kata lain, ODGJ merupakan orang yang menderita mental illness.

Namun jika bicara ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa), selalu terbentuk stigma negatif pada penderita. Tapi jika bicara penderita mental illness, akan timbul asumsi yang setidaknya tidak semenyeramkan ODGJ.