News

Dua Pekerja Thailand Tewas Usai Israel Dibombardir Hamas

Dua pekerja Thailand dilaporkan ikut menjadi korban saat Hamas meluncurkan gempuran roketnya ke Israel selatan pada Selasa (18/5) sore.


Dua Pekerja Thailand Tewas Usai Israel Dibombardir Hamas
Situasi di komunitas perbatasan Gaza yang dihantam mortir dari Gaza, Selasa (18/5) (Screen grab Twitter via Times of Israel)

AKURAT.CO , Dua pekerja Thailand dilaporkan ikut menjadi korban saat Hamas meluncurkan gempuran roketnya ke Israel selatan pada Selasa (18/5) sore waktu setempat. Dengan laporan ini, maka jumlah tewas di sisi Israel kini menjadi 12 orang.

Diwartakan Times of Israel hingga Bangkok Post, kedua warga Thailand itu tewas ketika Hamas membidikkan roket dan martirnya dari Gaza. Serangan kemudian menghantam sebuah rumah pengepakan di sebuah komunitas dekat perbatasan.

Karena serangan itulah, dua pekerja Thailand tadi langsung meregang nyawa. Sementara, delapan orang lainnya luka-luka, termasuk salah satu menderita kondisi serius.

Hingga kini, pihak berwenang belum membeberkan identitas kedua pekerja Thailand yang ikut jadi korban. Namun, dari penuturan petugas media, kedua pria tadi diperkirakan berusia 30 tahunan. 

"Dalam gelombang roket terakhir yang mendarat di wilayah Eshkol, dua orang tewas," kata juru bicara polisi Micky Rosenfeld, yang mengidentifikasi korban tewas sebagai pekerja dari Thailand.

Pejabat pemerintah setempat menambahkan bahwa kedua pekerja Thailand itu tidak memiliki akses ke benteng pelindung. Karena itu, mereka tidak bisa lari dan akhirnya ikut jadi korban. 

"Dampaknya dialami oleh komunitas tanpa perlindungan, yang tidak diberi kebijakan pendirian benteng, dan ini adalah hasil buruk yang kami alami hari ini," kata ketua Dewan Regional Eshkol Gadi Yarkoni, merujuk pada persyaratan untuk semua bangunan yang dekat dengan perbatasan Gaza agar memiliki perlindungan yang tepat.

Di bawah batasan militer saat ini, bisnis yang beroperasi di Eshkol hanya diizinkan untuk dibuka jika mereka memiliki akses siap ke tempat perlindungan bom.

Kemudian jika memang ada sirine serangan udara meraung-raung di seluruh wilayah, penduduk atau para pekerja biasanya akan langsung menuju benteng perlindungan bom. 

Menanggapi masalah itu, juru bicara daerah Eshkol menjelaskan bahwa di komunitas pekerja Thailand itu, sebenarnya ada akses ke tempat perlindungan bom yang berbentuk seperti kubah portabel.

Namun, tidak jelas mengapa para pekerja itu tidak masuk ke tempat tersebut. Kini, pihak berwenang masih menyelidiki kasus ini. 

"Mereka memiliki tempat berlindung. Saya belum tahu mengapa mereka tidak memasukinya," kata juru bicara tersebut.

Dengan adanya dua kematian pekerja Thailand itu, jumlah pekerja asing yang tewas di Israel kini menjadi tiga orang. 

Seminggu yang lalu, seorang warga Thailand juga sempat terluka karena serangan roket lain yang ditembakkan dari Gaza. 

Serangan mematikan itu terjadi tak lama setelah Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan bahwa seorang tentara terluka ringan dalam serangan mortir saat membantu pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza melalui Penyeberangan Erez.

Korban yang berusia 19 tahun itu menderita luka pecahan peluru dan kemudian dibawa ke Ashkelon's Barzilai Medical Center.

Roket juga sempat menghantam sebuah bangunan yang sedang dibangun di kota pesisir Ashdod, Israel. Rekaman dari media sosial menunjukkan roket mengenai sisi bangunan, tetapi tidak berhasil meruntuhkannya.

Menurut laporan, tidak ada korban jiwa atau luka dalam serangan ini.

Sebuah roket lain juga sempat mendarat di dekat kendaraan, di dekat kota selatan Beersheba. Dalam insiden ini, satu orang setidaknya dilaporkan menderita luka ringan.

Roket juga ditembakkan ke kota-kota selatan Ashkelon dan Kiryat Gat serta komunitas perbatasan. Salah satu roket menghantam sebuah rumah di Dewan Daerah Hof Ashkelon, yang saat itu kosong.

Kelompok Hamas mengumumkan bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Pesawat Israel juga terus melakukan serangan terhadap sasaran di Jalur Gaza, dengan IDF mengumumkan telah menghantam rumah dari 12 komandan Hamas selama beberapa hari terakhir. Tiga di antara komandan itu disebutkan tewas pada serangan Selasa kemarin. 

Sementara Hamas dan militer Israel terus bertempur, korban sipil di Gaza makin bertambah. Al Jazeera melaporkan bagaimana jumlah warga yang meninggal di Gaza telah meningkat menjadi sekitar 220 orang, dan 63 di antaranya adalah anak-anak.[]