News

Dr. Tuswadi Kirimkan 40 Pemuda Indonesia Kuliah di Jepang

Dr. Tuswadi kini tercatat sebagai anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI)


Dr. Tuswadi Kirimkan 40 Pemuda Indonesia Kuliah di Jepang
Dr. Tuswadi bersama mahasiswa S2 dan S3 yang telah lulus dari Hiroshima University. (Istimewa)

AKURAT.CO, Di desa kecil di kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah tinggal seorang ilmuwan muda, pengagum presiden pertama RI. Sang ilmuwan mengikuti jejak langkah Ir. Soekarno dengan menemukan anak-anak muda Indonesia yang unggul untuk kemudian dibimbing, dibina, dan dikirimkan kuliah ke luar negeri, terutama ke Jepang. Sejak 2009 sampai 2021 tercatat ada lebih dari 40 pemuda/pemudi tanah air yang telah terkirim dan lulus S2/S3. 

Sang ilmuwan bernama Dr. Tuswadi, yang kini tercatat sebagai anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dan menduduki jabatan sebagai Direktur Politeknik Banjarnegara. Uniknya semua itu dia lakukan tanpa bayaran alias gratis.

Tuswadi merampungkan studi S1, S2, dan S3-nya du Aichi University of Education dan Hiroshima University. Ketika menjalani studi S2 dan S3 (2009-2014) dia membangun jejaring yang kuat dengan para profesor di Hiroshima University dari berbagai fakultas. Dengan jejaring ini awalnya dia memperjuangkan istri, adik ipar, dan keponakannya diterima untuk menjalani studi S2 bersamanya. Lalu berturut-turut puluhan sarjana dari berbagai daerah silih berganti ia bawa ke Hiroshima untuk lanjut studi pasca sarjana, baik sebagai mahasiswa berbeasiswa maupun mandiri.

“Saya ingin makin banyak sarjana Indonesia terkirim ke Jepang untuk terdidik dengan sistem pendidikan dengan mutu prima di sana; harapannya terjadi perubahan mental dan loncatan ilmu pengetahuan sehingga para sarjana yang lulus S2 dan S3 dari Jepang akan menjadi sumber daya manusia berkualitas pembangun bangsa," tutur Tuswadi

Dr. Tuswadi Kirimkan 40 Pemuda Indonesia Kuliah di Jepang - Foto 1
Tuswadi | Dr. Tuswadi bersama mahasiswa S2 dan S3 yang telah lulus dari Hiroshima University. | Istimewa

"Saya terinspirasi Ir. Soekarno yang mengirimkan pemuda-pemuda unggul seperti BJ Habibie dan teman-temannya ke luar negeri dan sepulangnya dari Amerika, Jerman, dan lainnya, mereka menjadi pembaharu pembangunan bangsa,” imbuhnya.

4 Smart Steps 

Proses memperjuangkan studi lanjut di Hiroshima University dilakukan dengan empat langkah pintar. Pertama, memastikan prestasi akademik (IPK) calon mahasiswa di atas 3.50, memiliki kemampuan bahasa Inggris yang memadai, dan berkepribadian unggul. Kedua, membimbing penyusunan proposal riset S2/S3 sesuai bidang keilmuan calon mahasiswa dan calon profesor pembimbing. Ketiga, membantu komunikasi calon mahasiswa dengan calon profesor pembimbing. Keempat, memandu proses aplikasi seleksi calon mahasiswa baru dan beasiswa sampai diterima.

Dengan keempat langkah cerdas tersebut, Tuswadi menghindari menerima calon mahasiswa yang berkepribadian buruk seperti tidak patuh pada arahan, menuntut yang tidak-tidak, malas atau lamban, dan tidak jujur. Menurutnya, ini menjadi salah satu kata kunci keberhasilan studi di Jepang di mana profesor sangat senang menerima mahasiswa bimbingan yang patuh dan taat pada setiap instruksi dan arahan, cekatan, dan jujur alias tidak suka menyontek atau plagiat.

Untuk menjamin bahwa calon mahasiswa yang akan dia bawa ke Jepang benar-benar berkepribadian unggul, sejumlah calon mahasiswa juga Tuswadi izinkan untuk magang di Rumah Pintar Dr. Tus di Banjarnegara. Di tempat itu, mereka ditugaskan untuk ikut menjadi mentor bahasa Inggris bagi anak-anak sekolah yang belajar di rumahnya, menjadi pembicara di sekolah-sekolah pada kegiatan Kelas Inspirasi Ilmuwan Muda Goes to School, dan kegiatan lainnya yang strategis untuk menguji karakter calon mahasiswa.

“Bahkan ketika ada calon mahasiswa dan di rumah saya uji menyapu dan mengepel lantai tidak bagus hasilnya—maka dia tidak saya terima untuk proses lebih lanjut karena Jepang tidak cocok untuk tempat kuliah bagi generasi yang malas dan sok priyayi,” ujar Tuswadi sambil tertawa. 

Berbekal pengalaman 7 tahun studi dan riset post doctoral di Hiroshima dan bagusnya jejaring dengan para profesor, sudah sekitar 40 pemuda Indonesia studi dan lulus S2/S3 melalui mediasi yang ia dilakukan. Mereka berasal dari sejumlah provinsi termasuk Nusa Tenggara, Nanggroe Aceh Darussalam, Sulawesi Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan lainnya.

Mereka kini berkarier dalam berbagai profesi seperti guru (ASN), dosen (ASN), peneliti, dan staf di Facebook Office Thailand. Harapannya mereka semua memiliki taraf kehidupan yang lebih baik dan turut membangun Indonesia berkemajuan. 

“Ini salah satu cara terbaik bagi saya membangun Indonesia, selain menjalani tugas pokok sebagai guru/pendidik dan pimpinan di Perguruan Tinggi. Bentuk rasa syukur saya yang telah diberikan kesempatan untuk ngangsu kawruh di negeri Jepang,” kata Tuswadi menutup perbincangan. []