Rahmah

Dosen UIN Semarang: Rasulullah SAW Sebagai Teladan dalam Melawan Kemiskinan

Hakikat ajaran Islam mengandung nilai-nilai yang merespon terhadap kehidupan umat manusia.


Dosen UIN Semarang: Rasulullah SAW Sebagai Teladan dalam Melawan Kemiskinan
Bincang Hikmah. (Akmad Fauzi)

AKURAT.CO Keberadaan korupsi yang sudah merajalela dan dipraktekkan secara luas, secara tidak langsung mengungkapkan adanya sesuatu yang salah dalam struktur pengawasan sosial.

Menurut Dosen UIN  Walisongo Semarang, KH Drs Anasom M. Hum, agama Islam sangat mencegah seseorang untuk melakukan korupsi dan terjadinya kemiskinan.

Dia memberi contoh meskipun Rasulullah SAW adalah seorang Nabi dan Rasul yang harus menyampaikan perintah Allah kepada umatnya, akan tetapi Rasulullah tetap berdagang untuk memenuhi kebutahan sehari-harinya. 

"Rasulullah itu teladan yang anti kemiskinan, oleh karenanya, beliau sejak kecil sudah menjadi pengembala, saat dewasa menjadi pembisnis dan ketika berumur 25 tahun beliau juga melebarkan sayapnya dalam hal berbisnis," kata Anasom dalam acara Bincang Hikmah yang diselenggarakan atas kerjasama PMI UIN Walisongo Semarang dan Perkumpulan Pengembangan Masyarakat (P2MI), Rabu (14/7/2021).

Anasom yang juga merupakan ketua PC NU Semarang ini menjelaskan, di dalam agama Islam memiliki instrumen yang bisa mengatasi masalah kemiskinan seperti infaq, zakat, dan shodaqoh yang mana nilai-nilai tersebut tertuang dalam unsur rukun Islam. Hal itu karena, hakikat ajaran Islam sendiri mengandung nilai-nilai yang merespon terhadap kehidupan umat manusia.

"Jadi jika seseorang muslim melakukan nilai-nilai tadi dengan baik, maka akan terhindar dari masalah kemiskinan,"ujarnya.

Acara yang mengusung tema "Gerakan Pemberdayaan Islam Merespon Isu Korupsi dan Kemiskinan" ini juga turut mengundang Dosen PMI UIN Walisongo Semarang Nadiatus Salama Ph D.

Nadiatus Salama membahas mengenai definisi korupsi yang intinya adalah penyalahgunaan. Akan tetapi menurutnya, setiap negara memiliki arti korupsi yang berbeda-beda.

"Korupsi ibarat sebuah rumah besar yang di dalamnya terdapat kamar-kamar kecil, seperti suap, kolusi, nepotisme dan lainnya," katanya.

Selanjutnya, ia menegaskan dalam menanggulangi masalah korupsi perlu ada kedaran bagi masyarakat dan pendidikan karakter bagi calon-calon penerus bangsa.

"Masalah korupsi sepertinya akan sulit untuk dihilangkan karena sudah mengakar bersama budaya," ungkapnya.

Akan tetapi, tindakan korupsi harus diminimalisir agar masyarakat bisa mendapatkan hak-haknya kembali sebagai warga negara. Demikian sambungnya dalam webinar Bincang Hikmah Akurat.co itu.[]