Ekonomi

Dolar AS Menguat, PLN Klaim Keuangan Terkendali Meski Punya Utang Bentuk Valas

Dolar AS Menguat, PLN Klaim Keuangan Terkendali Meski Punya Utang Bentuk Valas
Direktur Distribusi PLN Adi Priyanto (paling kiri) dalam acara Ngobrol Pagi Seputar BUMN” (Ngopi BUMN) di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (29/9/2022) (AKURAT. CO/Atikah Umiyani )

AKURAT.CO, Direktur Distribusi PLN Adi Priyanto mengakui bahwa penguatan dolar AS bakal berpengaruh terhadap keangan perseroan. Apalagi BUMN Kelisrikan tersebut memiliki pinjaman dalam bentuk valuta asing.

"Penguatan dolar ini pasti berdampak terhadap profit and loss PLN karena beberapa pinjaman kita dalam bentuk valas," jelasnya dalam acara Ngobrol Pagi Seputar BUMN” (Ngopi BUMN) di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (29/9/2022).

Namun demikian, Adi mengaku telah berdiskusi dengan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PLN Sinthya Roesly hari ini dan menyebutkan bahwa kondisi keuangan PLN masih terkendali.

baca juga:

“Tapi tadi pagi diskusi dengan Dirkeu kami, masih bisa dikendalikan dengan baik. Kalau (rupiah) masih sekitar Rp15 ribu masih terkendali,” tuturnya.

Nilai tukar rupiah anjlok terhadap dolar AS. Melansir RTI, rupiah hari ini kembali tertekan di kisaran level Rp15.100 per dolar AS pada perdagangan Kamis (29/9/2022).

Sentimen kenaikan suku bunga AS masih menjadi sentimen bagi pergerakan nilai tukar rupiah. Mata uang rupiah berpotensi tertekan di tengah ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed yang lebih agresif. Diketahui, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps pada September 2022 dan diperkirakan aksi serupa masih akan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.

Hingga saat ini, rupiah terkoreksi -0,68% ke level Rp15.178 per dolar AS. Rupiah juga melemah atas euro (-0,14%). Namun, rupiah masih menguat atas dolar Australia (0,05%) dan poundsterling (0,24%).

Sementara itu, rupiah merah membara di Asia. Rupiah keok melawan yuan (-0,91%), won (-0,86%), baht (-0,81%), dolar Hong Kong (-0,62%), yen (-0,51%), dolar Singapura (-0,27%), dolar Taiwan (-0,27%), dan ringgit (-0,18%).[]