Ekonomi

Dolar AS Membara, Anak Buah Erick Buka Opsi Cari Utang Bermata Uang Negara Lain

Dolar AS Membara, Anak Buah Erick Buka Opsi Cari Utang Bermata Uang Negara Lain
Wakil Menteri BUMN dalam konferensi pers Kinerja Portofolio BUMN Tahun 2021 di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (28/9/2022). (AKURAT. CO/Atikah Umiyani )

AKURAT.CO, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan pemerintah tengah mempertimbangkan opsi untuk menerbitkan utang dengan tiga mata uang utama selain dolar AS, yakni yen Jepang, euro Eropa dan yuan China.

Hal itu merespon pelemahan nilai tukar rupiah yang tembus Rp15.200 per dolar AS pada hari ini, Rabu (28/9/2022).

"Kalau nggak di dolar ada opsi di yen, samurai bond, terus di euro atau bahkan beberapa mungkin di China. Dulu sempat buka ada dimsum bond (China) dan sebagainya dan ini sedang kita kaji," jelas pria yang akrab disapa Tiko dalam konferensi pers Kinerja Portofolio BUMN Tahun 2021 di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (28/9/2022).

baca juga:

Tiko melihat bahwa penguatan dolar AS Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo melihat penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang, termasuk rupiah akan terus berlanjut. Hal ini ditopang oleh kenaikan suku bunga The Fed serta dolar AS yang dianggap sebagai safe haven, sehingga pemerintah harus mencari utang yang lebih murah.

"Tapi yang menarik rupiah justru menguat terhadap mata uang lainnya khususnya seperti yen (Jepang), GBP (poundsterling Inggris), maupun euro (Eropa). Ini memang jadi pemikiran buat kita untuk mencari pendanaan dari currency lain karena yen maupun euro dan GBP memang melemah," kata dia dalam konferensi pers di Kementerian BUMN, Rabu (28/9).

Oleh sebab itu Tiko menyebutkan dolar yang makin mahal memang sudah menjadi perhatian. Apalagi dengan kondisi inflasi yang terus menanjak dan membuat kebijakan The Fed makin agresif.

"Tentunya ini jadi 'PR' kita bersama dan di asset management bank kita sedang mereview untuk melakukan juga bebrapa konversi untuk mengurangi exposure terhadap USD-IDR," pungkasnya.[]