News

Dokter China Sebut Obat HIV Bisa Bantu Sembuhkan Pasien Corona


Dokter China Sebut Obat HIV Bisa Bantu Sembuhkan Pasien Corona
Sejumlah orang mengantre di luar Stasiun Kereta Api Hankou, Wuhan, Hubei, Cina, Rabu (8/4/2020). Ribuan orang meninggalkan Wuhan setelah otoritas setempat mencabut larangan warga untuk berpergian setelah corona mereda di Wuhan. (REUTERS/Aly Song)

AKURAT.CO, Dokter di sebuah rumah sakit kunci di China mengungkapkan bahwa mereka telah menggunakan obat HIV Kaletra untuk merawat pasien corona (COVID-19) sejak Januari. Hal ini berlawanan dengan penelitian sebelumnya yang menyebut bahwa obat itu tidak efektif.

Mereka telah meresepkan Kaletra, versi lopinavir/ritonavir yang tidak dipatenkan yang diproduksi oleh AbbVie, serta obat kedua, bismuth potassium citrate, kata Zhang Dingyu, presiden Rumah Sakit Jinyintan di Wuhan - kota yang jadi titik awal penyebaran virus.

"Kami percaya mengonsumsi obat ini dapat membantu," kata Zhang kepada wartawan, dilansir dari laman Reuters, Jumat (10/4).

Dia mengatakan dokter di Jinyintan telah mulai meresepkan obat untuk pasien mereka pada 6 Januari. Itu adalah salah satu rumah sakit pertama yang mulai mengobati infeksi setelah virus corona muncul di Wuhan pada bulan Desember.

Pada puncak epidemi di kota itu, Jinyintan merawat hampir 500 pasien. Saat ini masih ada 123 pasien yang dalam pengawasan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan bulan lalu di New England Journal of Medicine, berdasarkan tes pada pasien China dengan COVID-19 parah di Jinyintan, mengatakan bahwa Kaletra yang juga dikenal sebagai Aluvia, tidak efektif sebagai pengobatan potensial.

Bulan lalu, Israel menyetujui lisensi Kaletra versi generik untuk mengobati pasien yang terinfeksi virus corona.

Zhang mengatakan kumpulan data yang digunakan oleh penelitian yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine itu memasukkan pasien yang belum minum obat sebelum meninggal dunia, dan orang lain yang dokternya telah memutuskan untuk tidak meresepkan obat.

"Anda harus melihat bahan pelengkap," katanya.

Dia mengatakan tiga petugas medis sudah mulai mengambil Kaletra 2-3 hari setelah gejala virus muncul.

"Menjelang akhir minum obat, perubahan yang dialami paru-paru mereka benar-benar hebat," terangnya.

Studi yang diterbitkan oleh jurnal BioScience Trends pada bulan Februari, para dokter di Shanghai juga meresepkan Kaletra, dalam kombinasi dengan obat flu arbidol dan pengobatan tradisional China dan mengatakan beberapa pasien menunjukkan perubahan positif.

Pada penelitian sebelumnya, Kaletra juga dikaitkan dengan hasil terapi positif dalam pengobatan Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS).[]