Rahmah

Doa Nabi Adam di Bulan Zulhijah, Bisa Mengabulkan Permohonan Apapun

Nabi Adam membaca doa ini di bulan Zulhijjah.


Doa Nabi Adam di Bulan Zulhijah, Bisa Mengabulkan Permohonan Apapun
Ilustrasi (freepik.com)

AKURAT.CO Lumrah kita ketahui bahwa Nabi Adam AS bersama Siti Hawa telah melakukan kesalahan saat keduanya berada di surga. Kedua orang tua manusia itu diturunkan ke muka bumi sesaat setelah memakan buah Khuldi.

Nabi Adam As dianggap salah karena dari awal Allah SWT sudah mewanti-wanti agar tidak memakan buah Khuldi. Namun karena rayuan Iblis, ia tergoda dan memakannya.

Sebaik-baik manusia yang memiliki kesalahan adalah mereka yang berdoa memohon ampunan kepada Allah SWT. Demikian yang dilakukan Nabi Adam ketika di muka bumi, memohon ampunan kepada Allah SWT, yang ia lakukan pada bulan Dzulhijjah.

baca juga:

Berikut adalah doa Nabi Adam untuk memohon ampunan dari Allah SWT:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

Qālā rabbanā ẓalamnā anfusana wa il lam tagfir lanā wa tar-ḥamnā lanakụnanna minal-khāsirīn

Artinya: Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi."

Selain memohon doa ampunan atas kesalahannya, Nabi Adam dan Siti Hawa juga selalu mengamalkan doa harian. Doa ini dibaca beliau agar apa yang menjadi hajat dapat dipenuhi oleh Allah SWT.

Berikut adalah doa sehari-hari Nabi Adam saat menjalani hidup di bumi:

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِّيْ وَعَلاَنِيَتِيْ فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِيْ، وَتَعْلَمُ حَاجَتِيْ فَأَعْطَنِيْ سُؤْلِيْ، وَتَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذَنْبِيْ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا دَائِمًا يُبَاشِرُ قَلْبِيْ، وَأَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَنْ يُصِيْبَنِيْ إِلاَّ مَا كَتَبْتَهُ عَلَيَّ، وَالرِّضَا بِمَا قَسَمْتَهُ لِيْ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.

Allahumma innaka ta’lamu sirrii wa’alaa niyatii faqbal ma’dzirotii, wata’lamu haajatii fa a’thonii sulii, wata’lamu maa fii nafsii faghfirlii dzanbii, allahumma innii asalyka iimaanang daaimang katabtahu ‘alayya, warridhoo bimaa qosamtahulii yaa dzaljalaali wal ikroom.