News

Divonis 2 Tahun Kurungan, Aung San Suu Kyi Disindir Junta 'Tidak Ada Seorang pun yang Kebal Hukum'

Pengadilan di Myanmar yang dikuasai militer memutuskan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi, bersalah atas dakwaan hasutan dan melanggar peraturan Covid-19.


Divonis 2 Tahun Kurungan, Aung San Suu Kyi Disindir Junta 'Tidak Ada Seorang pun yang Kebal Hukum'
Dalam foto ini, Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi berada di Akasaka Palace State Guest House di Tokyo, Jepang, 9 Oktober 2018 ( Nicolas Datiche via Reuters)

AKURAT.CO  Sebuah pengadilan di Myanmar yang dikuasai militer telah memutuskan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi, bersalah atas dakwaan hasutan dan melanggar peraturan Covid-19. Atas putusan itu, Suu Kyi pada Senin (6/12) dijatuhi hukuman empat tahun kurungan, tetapi kemudian dikurangi menjadi dua tahun dengan alasan 'kemanusiaan' dari junta. 

Hukuman itu dikurangi setelah Suu Kyi mendapatkan pengampunan dari pemimpin kudeta dan panglima militer Min Aung Hlaing, kata TV pemerintah.

Menanggapi vonis itu, Suu Kyi pun 'disindir' oleh Menteri Penerangan Maung Maung Ohn. Dalam pernyataannya pada Selasa (7/12), pejabat senior junta itu mengatakan bahwa pemenjaraan Suu Kyi menunjukkan bahwa 'tidak ada seorang pun yang kebal hukum'.

baca juga:

Pada pengarahan virtualnya, Maung Maung Ohn juga mengklaim bahwa sistem peradilan Myanmar tidak memihak. Ia kemudian menjelaskan bahwa hukuman yang diterima peraih Nobel itu pada Senin 'sudah sesuai dengan hukum'.

"Tidak ada seorang pun yang berada di atas hukum," ujar Maung Maung Ohn seperti dikutip dari CNA. Pernyaan itu dibuat Maung Maung Ohn pada konferensi pers yang jarang terjadi di mana dia dan menteri investasi junta mengklaim bahwa situasi di Myanmar telah stabil.

Suu Kyi yang jabatannya dicopot oleh junta saat kudeta 1 Februari, telah mendapatkan lusinan dakwaan dari junta yang berkuasa. Kasus-kasus lain yang ditargetkan untuknya termasuk sejumlah tuduhan korupsi, pelanggaran undang-undang rahasia negara, hingga undang-undang telekomunikasi. Semua dakwaan ini jika ditotal akan membawa hukuman maksimum lebih dari 100 tahun penjara.

Namun, oleh banyak pihak, dakwaan yang dilancarkan kepadanya diangggap bermuatan politik. 

Hingga kini, tidak ada seorang pun selain junta yang  tahu di mana ia ditahan. Demikian pula pada saat divonis, pengadilan militer menghukumnya dengan penahanan di lokasi yang dirahasiakan.

Seperti diwartakan Al Jazeera, selain Suu Kyi, Presiden Win Myint juga diadili pada Senin. Dalam putusan militer, ia dijatuhi hukuman empat tahun, dan kemudian dipotong menjadi dua tahun.

Menurut laporan MRTV, hukuman itu akan diterapkan di tempat penahanan mereka saat ini. Ini kemungkinan berarti keduanya tidak akan dikirim ke sel penjara. 

Persidangan di Naypyidaw pada Senin ditutup untuk media, sementara militer melarang pengacara Suu Kyi berkomunikasi dengan media dan publik.

Sementara Suu Kyi dan Win Myint mendapatkan vonisnya, Maung Maung Ohn  dan pejabat junta lainnya telah mengkonfirmasi soal persiapan pemilihan. Dikatakan pemilihan akan diadakan sebelum Agustus 2023, tetapi tidak jelas apakan partai Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi, akan diizinkan untuk bersaing.

Partai tersebut sedang diselidiki oleh komisi pemilihan, yang menurut Maung Maung Ohn akan dilaporkan kembali awal tahun depan.

-Pendemo ditabrak truk militer, 5 tewas- 

Myanmar berada dalam krisis sejak militer merebut kekuasaan dengan meluncurkan kudeta, menangkap Suu Kyi dan sebagian besar anggota pemerintahannya.

Pasukan keamanan yang berusaha untuk menghancurkan oposisi sejak itu melakukan kekerasan hingga penangkapan. Lebih dari 1.200 orang tewas dan ribuan ditangkap karenanya, kata kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP). Selain menewaskan warga tak bersalah, kudeta juga telah memantik pemberontakan-pemberontakan bersenjata di seluruh negeri.

Pada Minggu (5/12), pasukan keamanan kembali membuat 'ulah'. Dilaporkan oleh Myanmar Now, mereka dengan truknya menabrak para pengunjuk rasa di protes di ibu kota komersial Yangon. Dalam insiden ini, sedikitnya lima orang tewas. 

Saksi mata mengatakan kepada media lokal bahwa tentara kemudian menembaki beberapa pengunjuk rasa yang melarikan diri, dan memukuli yang lain, kata BBC.

Momen nahas itu terekam dalam sebuah video yang dibagikan BBC, dimana awalnya, sekelompok massa meneriakkan aspirasinya. Beberapa menit kemudian, massa mulai berlarian dengan sebuah truk militer melaju kencang ke arah mereka.

 

Maung Maung Ohn, sementara itu, mengklaim protes adalah hasil dari tekanan kelompok anti-kudeta yang ingin agar kaum muda Myanmar menjadi emosional'. 

"Protes semacam itu harus dicegah sesuai hukum," katanya.[]