News

Dituduh Iran Jadi Mata-mata karena Terbangkan Helicam, Turis Prancis Diganjar 8 Tahun Penjara

Dituduh Iran Jadi Mata-mata karena Terbangkan Helicam, Turis Prancis Diganjar 8 Tahun Penjara


Dituduh Iran Jadi Mata-mata karena Terbangkan Helicam, Turis Prancis Diganjar 8 Tahun Penjara
Briere ditangkap pada tahun 2020 dan dituduh melakukan mata-mata dan propaganda melawan sistem Islam Iran. (Iranhumanrights via DW)

AKURAT.CO, Seorang turis Prancis didakwa dengan tuduhan mata-mata dan divonis 8 tahun penjara oleh Iran. Hukuman itu dibacakan oleh pengadilan Iran pada Selasa (25/1), dengan pihak pengacara terdakwa menyebut tuduhan bermuatan politik.

Kasus bermula saat Benjamin Briere melakukan perjalanan keliling di Iran, dan berlibur ke gurun dekat perbatasan Iran dengan Turkmenistan. Saat di gurun, Briere menerbangkan sebuah helicam, minihelikopter jarak jauh yang dapat menangkap gambar bergerak dan memotret. Oleh pemerintah Iran, aksi Briere itu dianggap melanggar hukum. Pada Mei 2020, ia ditangkap atas tuduhan mata-mata. 

Selain hukuman atas tuduhan spionase, turis Prancis itu juga divonis delapan bulan penjara karena 'propaganda' terhadap sistem Islam Iran.

baca juga:

Pengacara Briere yang berbasis di Paris, Philippe Valent, mengecam persidangan yang dimulai sejak Kamis (20/1) lalu. Dalam pernyataannya, Valent menegaskan bahwa proses hukum atas kliennya 'cacat'. Ia juga mengatakan bahwa Briere tidak 'memiliki pengadilan yang adil di depan hakim'. Valent kemudian membeberkan bagaimana selama proses persidangan, dia tidak diizinkan untuk mengakses dakwaan penuh Briere

"Putusan ini murni adalah hasil dari proses politik.... (putusan) ini tidak ada dasar apapun," ucap Valent, dikutip dari France2. Valent menyebut persidangan itu hanyalah 'kedok' pemerintah Iran.

Putusan pada Selasa juga telah dikonfirmasi oleh salah satu pengacara Iran yang membela Briere, Saeid Denghan. Kepada kantor berita Reuters, Denghan mengungkap Briere 'terkejut' dengan hukuman itu dan bahwa dia bermaksud untuk mengajukan banding atas putusan dalam waktu 20 hari.

Briere, yang kini berusia 36 tahun, hanyalah salah satu di antara lebih dari selusin warga negara Barat yang ditahan di Iran. Para aktivis telah menggambarkan para tahanan asing Iran itu sebagai 'sandera'. Mereka juga menyebut bahwa orang-orang itu ditahan atas perintah Pengawal Revolusi Iran yang ingin mendapatkan konsesi dari Barat.

Pengacara Briere, sementara  itu, mengungkap kondisi Briere yang 'semakin lemah'. Dikatakan bahwa dalam sebulan ini, warga Prancis itu telah melakukan mogok makan. 

"Tidak dapat ditoleransi bahwa Benjamin Briere disandera oleh negosiasi oleh rezim yang membuat warga negara Prancis ditahan secara sewenang-wenang hanya untuk menggunakannya sebagai mata uang untuk pertukaran," kata Valent pada Selasa.

Briere telah berkeliling Iran dengan sebuah van, dan berharap untuk menjelajahi jalan-jalan di negara itu seperti yang telah dilakukannya di tempat lain, seperti di sekitar Skandinavia, Balkan, hingga Turki. Berbagai petualangan itu kemudian didokumentasikan Briere melalui media sosial, termasuk Instagram.

Latar Belakang Pembicaraan Nuklir

Pengadilan atas Briere datang ketika Amerika Serikat dan pihak-pihak yang terkait berupaya untuk menghidupkan kembali pakta kesepakatan nuklir Iran 2015 . Upaya itu dilakukan setelah sebelumnya, pada 2018, mantan Presiden Donald Trump menarik Washington dari perjanjian tersebut.

Terkait isu itu, sejumlah tahanan yang ditahan Iran ternyata berasal dari ketiga kekuatan Eropa yang terlibat dalam pembicaraan tentang program nuklir Teheran. Mereka berasal dari Inggris, Prancis dan Jerman.

Para tahanan termasuk seorang pekerja Inggris-Iran untuk Thomson Reuters Foundation, Nazanin Zaghari-Ratcliffe. Hingga kini, Zaghari-Ratcliffe masih ditahan atas tuduhan mata-mata.

Pihak keluarga, sementara itu, telah mengaitkan penangkapan Zaghari-Ratcliffe dengan sengketa utang antara Teheran dan London, dengan nilai mencapai USD 530 juta (Rp7,5 triliun). Utang terkait dengan masalah sisa pengiriman tank tempur Chieftain yang ditolak dikirim Inggris pada 1970-an lalu. []