News

Dituduh Berzina, Pasangan di Iran ini Dieksekusi Gantung

Karena tuduhan perzinahan itu, Meysam dan Sareh sempat diganjar dengan hukuman rajam.


Dituduh Berzina, Pasangan di Iran ini Dieksekusi Gantung
Seorang pria dan wanita yang sudah menikah dilaporkan telah divonis mati oleh pengadilan Iran karena tudingan perzinahan (irahhr.net)

AKURAT.CO Mahkamah Agung dilaporkan telah mengubah vonis rajam menjadi hukuman gantung bagi pasangan yang didakwa melakukan perzinahan. Seperti diwartakan Iran Human Rights hingga Jerusalem Post, hukuman gantung itu dijatuhkan kepada seorang pria 27 tahun yang diidentifikasi sebagai Meysam, dan seorang wanita bernama Sareh, 33 tahun. Baik, Meysam maupun Sareh, keduanya dilaporkan telah menikah.

Menurut laporan, keduanya ditangkap pada 24 Desember 2020, setelah adanya pengaduan dari istri Meysam. Sareh yang saat diinterogasi, mengaku telah menikah, tetapi kemudian mengembangkan perasaannya untuk Meysam. Keduanya lantas bertemu di sebuah rumah di Yousef Abad di Teheran, tetapi pada paginya, langsung ditangkap.

"Saya menikah pada tahun 2014 dan memiliki seorang putra berusia 4 tahun sekarang. Saya bertemu Meysam beberapa waktu lalu dan mengembangkan perasaan untuknya. Meysam dan saya pergi ke rumahnya di Yousef Abad pada tengah malam dan ditangkap pada pukul 8 pagi,” kata Sareh dikutip dari Iran Human Rights.

baca juga:

Tidak jelas apakah keduanya benar-benar melakukan perzinahan. Menurut laporan itu, Meysam dan Sareh mengaku tidak bersalah. Namun, menurut laporan, istri Meysam telah menyerahkan bukti berupa rekaman video.

Aktivis Iran yang ikut mengungkap kasus, Masih Alinejad juga mengatakan adanya bukti berupa ponsel. Dikatakan melalui ponsel inilah, Meysam dan Sareh terbukti melakukan hubungan seks di luar pernikahan. 

Menurut Alinejad, di bawah hukum pidana Iran, perzinahan adalah 'kejahatan terhadap Tuhan' bagi pria dan wanita. Tindakan itu memicu hukuman hingga 100 cambukan untuk pria dan wanita yang belum menikah, tetapi pelanggar yang sudah menikah bisa dihukum mati."

"Pria berusia 27 tahun dan wanita berusia 33 tahun. Melalui ponsel mereka, sistem peradilan menemukan bahwa mereka berhubungan seks di luar nikah," cuit Alinejad, juru kampanye dan jurnalis wanita Iran-Amerika seraya meminta CEO Twittter, Jack Dorsey untuk tidak membredel foto eksekusi. 

Karena tuduhan perzinahan itu, Meysam dan Sareh sempat diganjar dengan hukuman rajam. Dilaporkan pula bagaimana keduanya sempat mengajukan banding atas hukuman rajam oleh pengadilan tingkat pertama. Namun, mertua Saren kemudian mendesak pengadilan untuk memberi hukuman eksekusi dengan cara digantung. 

Sementara, istri Meysam sendiri sempat berupaya mencabut pengaduan demi menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi, ayahnya tetap bersikeras dan menuntut eksekusi untuk Saren dan Meysam.

Cabang 26 Mahkamah Agung pun mengamini permintaan itu, dan kini, mereka mengubah hukuman rajam menjadi vonis mati. 

Hukuman mati dengan rajam yang dianggap kejam dan biadab oleh masyarakat internasional. Namun, hukuman ini menjadi salah satu cara hukuman mati yang disanksikan untuk para pelaku zina dan diatur dalam Pasal 255 KUHP di Iran. Metode abad pertengahan itu mengharuskan kelompok penghukum untuk melempar batu yang tidak cukup besar tetapi juga tidak terlalu kecil. 

Menurut undang-undang, atas usul hakim dan dengan persetujuan Ketua Kehakiman, hukuman rajam dapat diubah menjadi hukuman mati (dengan cara digantung) jika perzinahan dibuktikan melalui empat saksi mata atau terdakwa telah mengaku zina hingga empat kali. 

Republik Islam Iran tertatat menjadi salah satu dari enam negara yang mempertahankan hukum rajam.

Pada 2020 lalu, Iran menjadi berita utama internasional karena rencana rajam sampai mati terhadap Sakineh Mohammadi Ashtiani. Dalam kasus itu, Ashtiani dihukum karena tuduhan perzinahan saat menikah.

Setelah kemarahan internasional atas hukuman itu, rezim Iran mundur dari hukuman rajamnya sampai mati. Sebagai gantinya, rezim Iran memberlakukan 99 cambukan pada Ashtiani yang diamati oleh putranya yang masih remaja.

Kemudian pada 2014, The Times of London melaporkan bahwa Ashtiani diizinkan meninggalkan penjara setelah hampir sembilan tahun menunggu hukuman mati.

Meskipun tidak ada hukuman rajam yang dilaksanakan di Iran sejak 2010 karena tekanan internasional, pengadilan telah diberikan alternatif untuk menjatuhkan hukuman mati atas persetujuan dari Kepala Kehakiman.

Pada 2018, Kurdistan 24 melaporkan bahwa pengadilan Iran menjatuhkan hukuman mati pada dua wanita Kurdi atas tuduhan perzinahan. 

"Seorang wanita Kurdi untuk Mako dengan nama Gulistan Jnikanlou dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Kriminal Khoy Provinsi Azerbaijan Barat, dituduh melakukan zina," kata surat kabar itu, dikutip dari Jerusalem Post.[]