News

Diterpa Kabar Miring, Ini Sepak Terjang Amien Rais di Perpolitikan Indonesia

Amien Rais dikabarkan meninggal dunia di Facebook.


Diterpa Kabar Miring, Ini Sepak Terjang Amien Rais di Perpolitikan Indonesia
Amien Rais saat mendeklarasikan Partai Ummat (Youtube/Amien Rais Official)

AKURAT.CO, Ketua Majelis Syuro Partai Ummat Amien Rais diterpa kabar miring. Dia dikabarkan meninggal dunia. Namun, informasi Amien meninggal dunia dipastikan hoaks oleh Wakil Ketua Umum Partai Ummar Agung Mozin.

Informasi Amien Rais meninggal sebelumnya beredar di media sosial Facebook. Akun Trending News yang menyebarkannya. Akun ini mengunggah video berdurasi 19 detik dengan judul 'Berita Terkini Meng3jutk4n. Penyebab K3m4ti4an Amien Rais Tak Di Duga Ternyata Karna Ini.".

Meski begitu, dalam video tersebut tidak ada penjelasan yang menyatakan penyebab kematian Amien Rais. Video hanya berisi cuplikan-cuplikan polemik antara Amien Rais dengan beberapa tokoh politik nasional.

Sosok Amien Rais dan Karir Perpolitikannya di Tanah Air

Amien Rais merupakan seorang tokoh yang kerap mengkritik kebijakan Presiden Joko Widodo. Tidak jarang, pernyataan Amien Rais kontroversial. Pernah dia menyebut Jokowi membohongi publik. Pernyataan itu disampaikan Amien Rais pada 18 Maret 2018 silam.

Amien Rais menuding pembagian sertifikat tanah oleh Presiden Jokowi adalah kebohongan publik. Dia mengatakan, saat pemerintah sibuk membagikan sertifikat tanah, setidaknya ada 74 persen negeri ini dikuasai kelompok tertentu.

Jauh sebelum itu, sikap kritis Amien Rais sudah fonemenal. Dia merupakan salah satu tokoh penting di akhir era pemerintahan Presiden Soeharto yang menentang kebijakan-kebijakan Orde Baru.

Sebelum orde baru runtuh, Amien Rais pada Mei 1998 bersama 50 tokoh cedekiawan dan budayawan mendirikan Majelis Amanat Rakyat (MARA). Amien kala itu menjabat sebagai juru bicara. Dia adalah orang yang membacakan tuntutan agar Presiden Soeharto mundur dari jabatannya agar proses reformasi bisa berjalan.

Setelah pemerintahan orde baru runtuh, Amien Rais mendorong BJ Habibie menyatakan diri sebagai pemerintahan transisional. Dia juga mendesak agar pemilu dipercepat. 

MARA kemudian bertranspormasi menjadi partai politik pada Agustus 1998. Adalah Partai Amanat Nasional (PAN) yang sampai kini masih eksis. Dia menjabat sebagai ketua umum sampai 2005.

Akhir 1998, Amien diusung PAN sebagai calon presiden sebagaimana rekomendasi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PAN pertama di Bandung.

Namun, hasil Pemilu 1999 menyatakan PAN hanya mampu mendapat 34 kursi di DPR.

Meski begitu, Amien Rais dipilih menjadi MPR hasil pemilu. Dia menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 1999-2004. Sementara, kepemerintahan digenggam Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden dengan wakilnya Megawati Soekarnoputri.

Amien Rais menyorot kepemerintahan Gus Dur di pertengahan tahun 2000. Dia mengaku kecewa dengan kinerja Gus Dur. Kemudian Amien menyatakan Poros Tengah siap berkoalisi dengan PDI Perjuangan.

Amien sebagai Ketua MPR mendesak Gus Dur mundur. Akhirnya pada 23 Juli 2001, Gus Dur dimakzulkan lewat Sidang Istimewa MPR.

Pada 2004, keinginan Amien Rais untuk menjadi presiden tampaknya sudah diujung tanduk. Dia mencoba keberuntungan di Pilpres 2004. Amien dicalonkan sebagai calon presiden, sementara wakilnya Siswono Yudhohusoso.

Namun, Amien harus mengubur niatnya menjadi presiden. Dia hanya mendapat posisi keempat di bawah Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi, serta Wiranto-Salahuddin Wahid.

Amien Rais Keluar dari PAN dan Dirikan Partai Ummat

11 Februari 2020, Amien Rais keluar dari PAN usai Zulkifli Hasan (Zulhas) terpilih menjadi ketua umum.

Setelah itu, Amien Rais mendeklarasikan Partai Ummat pada 29 April 2021. Deklarasi disampaikan melalui virtual menyusul Indonesia tengah diserang wabah virus corona atau COVID-19.

Berikut susunan pengurus Partai Ummat:

Ketua Majelis Syuro Partai Ummat: Amien Rais

Ketua Umum: Ridho Rahmadi

Wakil Ketua I: MS Kaban

Wakil Ketua II: Thalib Sagaf Aldjufri

Wakil Ketua III: Neno Warisman Sekretaris: Ansufri Idrus Sambo

Sekretaris Jenderal: Ahmad Muhajir Sodruddin Bendahara Umum: Benny Suharto

Wakil Ketua Umum I: Agung Mozin Wakil Ketua Umum II: Sugeng

Wakil Ketua Umum II: Chandra Tirta Wijaya.[]