Rahmah

Diterpa Berita Hoaks dan Bikin Geger Warga, Abu Nawas Sampaikan Hal Ini ke Baginda Raja

Diketahui Abu Nawas memberi pernyataan yaitu melarang rukuk dan sujud dalam salat.


Diterpa Berita Hoaks dan Bikin Geger Warga, Abu Nawas Sampaikan Hal Ini ke Baginda Raja
Ilustrasi Abu Nawas (pinterest.com)

AKURAT.CO  Abu Nawas merupakan orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 Masehi di Ahwaz. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdik dan mempunyai karakter nyeleneh dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Hingga pada suatu hari, diketahui Abu Nawas memberi pernyataan yang membuatnya viral yaitu dirinya melarang rukuk dan sujud dalam salat. Ia juga menyebut jika Baginda Raja Harun Ar-Rasyid adalah seorang pemimpin yang suka memfitnah.

Kabar penyataannya itu ternyata sudah terdengar oleh telinga Baginda. Kali ini Baginda sangat murka kepada sikap Abu Nawas yang dinilai berlebihan itu. Baginda pun berencana untuk menghukum Abu Nawas dengan hukuman pancung.

Karena saking geramnya, Baginda Raja langsung memanggil Abu Nawas ke istana untuk dimintai keterangan dan pertanggungjawaban atas segala kegaduhan yang terjadi. Dengan dijemput oleh beberapa pengawal kerajaan, akhirnya Abu Nawas datang ke istana.

"Wahai Abu Nawas, apakah benar engkau mangatakan bahwa rukuk dan sujud tidak diperlukan di dalam salat?" tanya baginda marah.

"Benar, Baginda!" jawab Abu Nawas seolah tidak ada apa-apa.

Baginda Raja semakin dibuat marah dengan jawaban Abu Nawas yang seolah-olah tidak bersalah itu. Meski begitu, Baginda masih sabar dan kembali melemparkan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas.

"Apakah benar engkau berkata kepada orang-orang bahwa aku adalah orang yang suka fitnah?” tanya Baginda.

"Benar Baginda yang mulia!" jawab Abu Nawas masih dengan sikap santainya.

Kali ini Baginda benar-benar tidak bisa membendung amarahnya. Tampaknya kesabarannya sudah hilang. Dengan sangat marah Baginda berkata kepada Abu Nawas,

"Wahai Abu Nawas, perlu diketahui, engkau pantas dihukum mati karena telah melanggar syariat Islam dan sudah menyebarkan fitnah tentang junjunganmu ini"  

"Tunggu dulu Baginda!! jangan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Izinkan hamba sedikit memberikan klarifikasi!!” pinta Abu Nawas.

“Kalau begitu, cepat jelaskan sekarang!” kata Baginda.

“Memang hamba akui dua pendapat tadi itu benar, namun sepertinya kedua pendapat hamba tersebut datang kepada paduka dalam keadaan tidak lengkap, seolah-olah hamba bersalah dan melanggar syariat Islam, hamba kali ini merasa difitnah," jelas Abu Nawas.

"Engkau ini aneh. Kenapa engkau membela diri jika mengaku bersalah?" tanya Baginda.

Abu Nawas kemudian memberikan penjelasan secara rinci dan jelas.

“Ampun Paduka yang mulia, hamba memang melarang rukuk dan sujud dalam salat, tapi bukan pada salat lima waktu atau salat lainnya, melainkan salat jenazah. Memang pada waktu itu hamba sedang menjelaskan salat jenazah," jelas Abu Nawas.

Baginda mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Abu Nawas. Meski sebelumnya Baginda sangat geram, namun sekarang dapat membenarkan apa yang menjadi pendapat Abu Nawas tersebut.

"Lalu bagaimana tentang pernyataanmu tentangku yang suka fitnah itu?" tanya baginda.

"Ohh, jika hal tersebut kebetulan pada saat itu hamba sedang menjelaskan tentang Surat Al-Anfal ayat 28 yang artinya sebagai berikut,

"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar,".

"Nah, Baginda sebagai seorang pemimpin yang memiliki banyak harta dan sebagai seorang ayah yang menyayangi anak-anak Baginda, Baginda termasuk orang-orang yang menyukai fitnah itu, karena Baginda menyayangi harta dan anak-anak Baginda" lanjut Abu Nawas.

Setelah mendengar penjelasan Abu Nawas, Baginda merasa malu. Karena kata-kata Abu Nawas, bukan hanya untuk pembelaan diri semata, melainkan sebuah sindiran dan teguran terhadap dirinya yang selama ini terlalu larut dalam kesenangan dunia. Kendati kenikmatan yang ia dapatkan itu adalah ujian dari Allah SWT.

Dengan demikian, Baginda Raja akhirnya meminta maaf kepada Abu Nawas karena telah berburuk sangka kepadanya. Ternyata penyebab berita yang tidak utuh ini tersebar karena terdapat beberapa orang kerajaan tidak suka melihat kedekatan Abu Nawas dengan baginda. Oleh sebab itu mereka sengaja menyampaikan informasi yang salah dan tidak utuh agar dapat menjatuhkan nama Abu di depan Baginda.[]