News

Diterjang Tebing 150 Meter, Ini 5 Fakta Bencana Tanah Longsor di Sumedang

Tebing setinggi 150 meter yang ada di wilayah Dusun Sukasari, Desa Ciherang tiba-tiba-tiba longsor pada hari Sabtu (15/1) sekitar pukul 16.30 WIB.


Diterjang Tebing 150 Meter, Ini 5 Fakta Bencana Tanah Longsor di Sumedang
Peristiwa longsor di Sumedang (DOK: BNPB)

AKURAT.CO Sejumlah kepala keluarga (KK) warga Kelurahan Pasanggrahan Baru, Kecamatan Sumedang Selatan, Sumedang, Jawa Barat terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Pasalnya, daerah yang ditinggali kini dinilai tidak aman setelah adanya longsor yang diperkirakan telah menelan 2 hektare ladang. 

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan sejumlah fakta penting terkait bencana alam longsor di Sumedang, Jawa Barat. 

1. Terjadi di Desa Ciherang dari tebing 150 meter

Bencana longsor tersebut terjadi di wilayah perbukitan Desa Ciherang, Kecamatan Sumedang Selatan, Sumedang, Jawa Barat. Tebing setinggi 150 meter yang ada di wilayah Dusun Sukasari, Desa Ciherang tiba-tiba-tiba longsor pada hari Sabtu (15/1) sekitar pukul 16.30 WIB. Titik longsor dan dampaknya berada di wilayah berbeda. Dampak longsor tersebut dirasakan secara langsung oleh lingkungan Cimareme, Kelurahan Pasanggrahan Baru, Kecamatan Sumedang Selatan. 

baca juga:

2. Hancurkan 2 hektare ladang

Berdasarkan hasil dari BPBD, bencana longsor yang disebabkan oleh runtuhnya tebing setinggi 150 meter dan lebar 80 meter tersebut meluluhlantakkan sekitar 2 hektare ladang yang ketika itu siap panen. Selain menimbun ladang, longsor tersebut juga telah menutup aliran Sungai Cipongkor yang bermuara di Sungai Cipeles. Sungai tersebut menjadi salah satu sumber air yang sangat penting bagi warga sekitarnya. 

3. Sebanyak 69 orang mengungsi

Tidak hanya menghancurkan 2 hektare ladang dan menutup akses Sungai Cipongkor, bencana longsor tersebut juga membuat sekitar 22 kepala keluarga (KK) atau 69 orang harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Namun, sejumlah warga diketahui hanya mengungsi ketika malam hari. Sedangkan pada siang hari, warga tersebut masih beraktivitas di rumahnya. Selain itu, tidak ada korban jiwa akibat dari tanah longsor ini.

4. Kakek selamat dari timbunan longsor

Seorang kakek berhasil selamat dri terkaman longsor. Kakek Tata diketahui pergi ke ladang sejak pagi karena harus mengangkut hasil panen. Setelah sempat beristirahat karena hujan deras, menjelang sore, ia baru melanjutkannya. Namun, ketika menuju pulang, ia mengaku merasa seperti ada sesuatu yang mengejar, yang ternyata adalah tanah longsor. Sambil lari, ia pun terus berusaha menghindar dari terkaman tanah longsor. Hingga akhirnya, ia diterkam oleh tanah tersebut. Namun, ia berhasil selamat meski badannya penuh dengan lumpur. 

5. Bukan disebabkan oleh Tol Cisumdawu

Banyak yang menyebutkan bahwa tanah longsor tersebut merupakan salah satu akibat dari dibangunnya Tol Cisumdawu. Namun, Sekretaris Daerah Kabpaten Sumedang menyatakan bahwa tanah longsor tersebut terjadi bukan karena adanya pembangunan Tol Cisumdawu. Meski begitu, di lokasi yang tidak jauh dari titik longsor terdapat sebuah area yang dijadikan sebagai tempat pembuangan disposal tanah proyek tol. 

Sebelumnya, Kabupaten Sumedang juga mengalami bencana tanah longsor yang sempat menyedot perhatian warganet pada awal tahun 2021 lalu. Pasalnya, becana ini merenggut 40 korban jiwa dan menyebabkan sekitar 14 rumah hancur dan tertimbun.[]