News

Ditemukan Mutasi Baru Virus Corona, Lebih Cepat Menular namun Sakitnya Tak Lebih Parah


Ditemukan Mutasi Baru Virus Corona, Lebih Cepat Menular namun Sakitnya Tak Lebih Parah
Ilmuwan menemukan mutasi SARS-CoV-2 baru yang lebih cepat menular, tetapi tidak menyebabkan sakit yang lebih parah (Medical News Today)

AKURAT.CO, Sebuah penelitian global menemukan bukti kuat adanya jenis baru virus corona yang telah menyebar dari Eropa hingga Amerika Serikat (AS). Mutasi baru ini gampang menular, tetapi sakitnya tidak lebih parah daripada jenis virus sebelumnya.

"Virus ini menjadi jenis yang dominan menginfeksi masyarakat sekarang," kata Erica Ollmann Saphire dari Institut Imunologi La Jolla dan Konsorsium Imunoterapi Corona yang menulis penelitian tersebut, dilansir dari CNN.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal Cell pada Kamis (2/7), data pelacakan global tim ilmuwan menunjukkan jenis G614 menyebar lebih cepat daripada D614. Artinya, virus itu kemungkinan lebih menular. Namun, tidak ditemukan bukti G614 menyebabkan dampak penyakit yang parah.

Tim menguji sampel dari pasien di seluruh Eropa dan AS, lalu mengurutkan genomnya. Mereka kemudian membandingkannya dengan urutan genom yang telah dipublikasikan. Perbandingan ini pun membantu mereka menggambar peta penyebaran kedua jenis virus SARS-CoV-2 tersebut. Hasilnya, varian G614 jarang ditemukan di luar Eropa hingga 1 Maret 2020, tetapi frekuensinya meningkat di seluruh dunia pada akhir Maret. Bahkan, saat jenis D614 telah menyebabkan epidemi luas di Wales dan Nottingham di Inggris serta negara bagian Washington, G614 langsung menggesernya begitu muncul.

Ditemukan Mutasi Baru Virus Corona, Lebih Cepat Menular namun Sakitnya Tak Lebih Parah - Foto 1
Daily Mail

Lonjakan frekuensi G614 ini bahkan terus berlanjut setelah diberlakukannya protokol tetap di rumah dan melewati masa inkubasi 2 minggu berikutnya. Namun, ada pengecualian di Santa Clara, California, dan Islandia, di mana D614 tak pernah tergeser oleh G614.

Varian baru ini tampaknya berkembang biak lebih cepat di saluran pernapasan bagian atas, seperti hidung, sinus, dan tenggorokan. Itu sebabnya ia menyebar dengan lebih mudah. Namun, hasil tes pada 1.000 pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit Inggris menunjukkan kondisi mereka yang terinfeksi jenis baru tidak lebih buruk daripada yang tertular jenis virus aslinya.

Mutasi G614 dapat dinetralkan dengan serum pemulihan, produk darah yang diambil dari orang yang sudah sembuh dari infeksi virus corona. Tim Saphire menguji darah yang disumbangkan 6 pasien virus corona di San Diego. Setelah itu, diperiksa apakah kisaran antibodi dalam darah mereka sama efektifnya menetralkan jenis baru dengan jenis lama. Hasilnya, penetralan pada jenis baru sedikit lebih baik daripada untuk jenis lama.

Tim peneliti pun khawatir mutasi baru ini menyebabkan virus berkembang cepat dan meroket, sehingga dibutuhkan lebih banyak sistem imun untuk menetralkannya. Namun, butuh penelitian lebih lanjut untuk memastikannya. Selain itu, mereka tetap mengawasi mutasi lainnya.

"Kita mungkin bisa menghindari mutasi khusus ini. Namun, bukan berarti tidak ada mutasi lainnya setelah ini. Kita harus tetap waspada," pungkasnya.[]