News

Ditekan ASEAN, Junta Myanmar Bebaskan Ratusan Tahanan Politik

Jumlah tahanan yang bakal dibebaskan mencapai hingga 5.636 orang.  


Ditekan ASEAN, Junta Myanmar Bebaskan Ratusan Tahanan Politik
Dalam gambar ini, seorang tahanan pria dipersatukan kembali dengan anggota keluarganya di luar Penjara Insein di Yangon, Senin (18/10) (AFP )

AKURAT.CO  Junta Myanmar yang  berkuasa akhirnya membebaskan ratusan tahanan politik dari Penjara Insein di Yangoon yang terkenal kejam. Mereka yang dibebaskan itu sebelumnya ditangkap atau dicari karena peran mereka dalam protes menentang pengambilalihan militer awal tahun ini. Di antara ratusan tahanan politik yang baru dibebaskan termasuk juru bicara partai Aung San Suu Kyi dan seorang komedian ternama Myanmar, Zarganar.

Hal itu terjadi tidak lama usai Kepala Junta, Jenderal Min Aung Hlaing menyampaikan pengumuman soal pembebasan para tahanan anti-kudeta. Pernyataan itu diucap Min Aung Hlaing pada Senin (18/10) dengan menyebut jumlah tahanan yang bakal dibebaskan mencapai hingga 5.636 orang.  

Baca Juga: Tak Diundang KTT ASEAN, Kepala Junta Myanmar Akui Bakal Bebaskan 5 Ribu Lebih Tahanan Anti-Kudeta

Saat itu, Min Aung Hlaing mengatakan bahwa pembebasan menjadi semacam amnesty untuk menandai festival Thadingyut.

Akan tetapi, alasan jenderal junta itu telah ditentang oleh sejumlah aktivis. Mereka menggambarkan bahwa pembebasan para tahanan anti-kudeta hanyalah taktik junta yang ingin membangun kembali reputasi internasionalnya. Mengingat, pembebasan para tahanan hanya terjadi selang beberapa hari usai ASEAN mendepak Min Aung Hlaing dari pertemuan KTT ASEAN pada 26-28 Oktober mendatang. 

Diketahui, alih-alih mengundang Min Aung Hlaing, ASEAN telah memutuskan untuk menghadirkan perwakilan non-politik ke pertemuan puncak. Menurut AFP, keputusan ASEAN itu adalah penghinaan yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada para pemimpin militer yang melakukan kudeta terhadap pemerintah terpilih Myanmar.

Analisis yang sama juga dikemukan oleh Pelapor Khusus PBB, Tom Andrews. Melalui surat pernyataan yang diunggah di Twitter, Andrews mengatakan pembebasan tersebut semata-mata hanyalah produk dari 'tekanan', baik dari dalam maupun luar.

Dikatakan pula bahwa junta sebenarnya mencari tiga hal dari komunitas internasional, yakni uang, senjata, dan legitimasi. Dijelaskan bahwa pengumuman ASEAN untuk tidak menghadirkan junta telah menjadi bentuk penyangkalan terhadap legitimasi militer. 

"Junta membebaskan tahanan politik di Myanmar bukan karena perubahan hati, tapi karena tekanan," kata Andrews sembari mengatakan bahwa ia menyambut baik pembebasan, tetapi juga mengecam karena penanahan tersebut. 

Sementara, para tahanan yang dibebaskan telah menuturkan rasa leganya. Situasi haru para tahanan yang berkumpul dengan keluarga juga terekam dalam sejumlah foto dan video yang diposting di media sosial. Dalam salah satu gambar misalnya, seorang pria terlihat menangis sembari memeluk erat keluarganya di luar Penjara Insein pada Senin malam waktu setempat.

Ditekan ASEAN, Junta Myanmar Bebaskan Ratusan Tahanan Politik - Foto 2
AFP

Ada pula foto lain di mana deretan bus tampak meninggalkan pintu belakang penjara, dengan penumpang bersandar dari jendela sambil melambai pada kerumunan yang berkumpul di luar.

Monywa Aung Shin, juru bicara partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), menjadi salah satu tahanan yang dikeluarkan. Monywa Aung Shin ditangkap pada 1 Februari dan telah menghabiskan delapan bulan di penjara.

"Mereka datang kepada saya hari ini dan mengatakan mereka akan membawa saya pulang, itu saja," kata Monywa Aung Shin, kepada media lokal, Democratic Voice of Burma.

Ditekan ASEAN, Junta Myanmar Bebaskan Ratusan Tahanan Politik, Termasuk Juru Bicara Aung Suu Kyi - Foto 2
 AFP

Sejumlah tahanan politik termasuk anggota parlemen dan jurnalis juga dibebaskan pada hari Senin. Mereka yang dibebaskan termasuk yang ditahan di kota-kota lain, seperti Mandalay, Lashio, Meiktila, dan Myeik.

Namun, 11 dari 38 orang yang dibebaskan dari penjara Meiktila, dilaporkan telah ditangkap kembali. Laporan itu diungkap oleh media lokal dan belum jelas mengapa para tahanan itu ditahan lagi oleh junta. Reuters juga mengaku belum bisa memverifikasi informasi ini secara independen.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak kudeta Februari yang mengakhiri satu dekade demokrasi tentatif dan reformasi ekonomi.

Pasukan keamanan telah membunuh lebih dari 1.100 orang, menurut aktivis dan PBB. Selain melakukan pembunuhan, junta juga dilaporkan menangkapi warga hingga aktivis, dengan jumlah yang ditahan mencapai lebih dari 9 ribu orang. Di antara yang masih ditahan junta termasuk pemimpin sipil Aung San Suu Kyi yang kemudian menghadapi serangkaian dakwaan di pengadilan junta.[]