Rahmah

Disunnahkan Berbicara saat Makan, Begini Ketentuannya

Kebanyakan orang menduga itu sebagai hal yang dilarang


Disunnahkan Berbicara saat Makan, Begini Ketentuannya
Ilustrasi makan bersama (Freepik)

AKURAT.CO Salah satu aktivitas kita semua adalah makan. Selain sebagai upaya agar kita sehat, makan juga bisa menjadi nilai ibadah manakala dilakukan atas dasar niat untuk beribadah, seperti agar salat kuat, dan lain sebagainya.

Ketika makan, hendaknya kita tidak mencela makanan, apapun bentuknya. Sebab, Rasulullah Saw memberikan teladan untuk selalu menghargai makanan, tidak mencacinya, dan beliau selalu memuji makanan.

Hal tersebut dijelaskan dalam hadits riwayat Sahabat Jabir:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - سَأَلَ أَهْلَهُ الأُدُمَ فَقَالُوا مَا عِنْدَنَا إِلاَّ خَلٌّ. فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ وَيَقُولُ « نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ »

Artinya: “Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah bahwa Nabi Muhammad SAW meminta pada keluarganya lauk-pauk, lalu keluarga beliau menjawab: ‘Kami tidak memiliki apa pun kecuali cuka’. Nabi pun tetap meminta cuka dan beliau pun makan dengan (campuran) cuka, lalu beliau bersabda: ‘Lauk yang paling baik adalah cuka, lauk yang paling baik adalah cuka’.” (HR. Muslim).

Kesunahan yang tidak banyak diketahui orang adalah berbicara saat sedang makan. Berbicara yang dianjurkan adalah berbicara makanan yang sedang dimakan, terlebih jika makanan itu pemberian orang lain, tujuannya untuk menggembirakan orang yang memberi makanan.

Imam Nawawi dalam, dalam Syarh an-Nawawi ala al-Muslim, juz 7, hal. 14, mensyarahi hadits di atas mengungkapkan:

وفيه استحباب الحديث على الأكل تأنيسا للآكلين

Artinya: “Dalam hadits tersebut tersirat pemahaman tentang kesunnahan berbicara atas makanan untuk menggembirakan orang-orang yang makan.”

Selain disunahkan berbicara soal hal-hal positif makanan, kita juga disunnahkan untuk berbicara tentang orang-orang saleh, dengan begitu kita akan mendapatkan keberkahan mereka.

Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Adzkar an-Nawawiyah, juz 2, hal. 1:

Sumber: NU Online