News

Disebut-sebut 500 Persen Lebih Menular dari Delta, 6 Fakta Penting Varian Covid-19 Omicron

Varian itu berpotensi lebih menular, lebih ganas, atau lebih mampu menghindari perlindungan yang diberikan oleh vaksin dibandingkan strain aslinya.


Disebut-sebut 500 Persen Lebih Menular dari Delta, 6 Fakta Penting Varian Covid-19 Omicron
Pada Jumat (26/11), WHO menamai varian baru tersebut dengan sebutan 'Omicron' dan mengklasifikasikannya sebagai 'variant of concern' (varian yang menjadi perhatian). (KARE 11)

AKURAT.CO  Varian Covid-19 terbaru, yang bernama Omicron, telah memicu kekhawatiran baru tentang pandemi hingga beberapa negara ramai memberlakukan larangan perjalanan. Menurut laporan DW, varian yang awalnya dinamai B.1.1.529 ini, pertama kali ditemukan pada 11 November 2021, di Botswana,  hanya di utara Afrika Selatan.

Sejak itu, B.1.1.529 ditemukan di Afrika Selatan, terutama di provinsi Gauteng, yang meliputi Johannesburg dan Pretoria. Sejak itu, kasus terus bermunculan di dunia, dengan beberapa negara seperti Belgia, Jerman, Israel, Italia, hingga Inggris.

Meskipun perlu beberapa minggu bagi ilmuwan untuk memahami varian itu, termasuk seberapa cepat ia dapat menyebar, WHO telah memberi label omicron sebagai 'variant of concern'. Ini berarti varian itu berpotensi lebih menular, lebih ganas, atau lebih mampu menghindari perlindungan yang diberikan oleh vaksin dibandingkan strain aslinya.

Informasi lebih lanjut dan mendetail tentang Omicron dipastikan akan muncul dalam beberapa hari atau minggu mendatang. Sementara para ahli virologi masih mendalami karakter varian ini, berikut 6 fakta penting yang dihimpun AKURAT.CO pada Senin (29/11) terkait varian baru Omicron.

1. Kata WHO, Omicron dapat memicu risiko global 'sangat tinggi'

Disebut-sebut 500 Persen Lebih Menular dari Delta, 5 Fakta Penting Varian Covid-19 Omicron - Foto 1
 KARE 11

WHO telah menungkap bahwa varian Omicron kemungkinan akan menyebar lebih jauh dan menimbulkan risiko global yang 'sangat tinggi'. Hal ini diungkap WHO pada Senin (29/11) di tengah makin banyaknya laporan kasus Omicron di sejumlah negara. 

Dalam saran tertulis kepada negara-negara anggotanya, badan PBB itu mendesak untuk mempercepat cakupan vaksinasi Covid-19 'secepat mungkin'.

"Mengingat mutasi yang dapat memberikan potensi pelarian kekebalan dan kemungkinan keuntungan penularan, kemungkinan potensi penyebaran Omicron lebih lanjut di tingkat global tinggi."

"Bergantung pada karakteristik ini, mungkin ada lonjakan Covid-19 di masa depan, yang dapat memiliki konsekuensi parah, tergantung pada sejumlah faktor termasuk di mana lonjakan dapat terjadi. Risiko global secara keseluruhan terkait dengan VOC baru [varian yang menjadi perhatian] Omicron dinilai sangat tinggi," kata WHO dalam ringkasan teknis kepada 194 negara anggotanya.

Sementara itu, dalam utasan Twitter miliknya, WHO mengonfirmasi bahwa Omicron memiliki jumlah mutasi lonjakan yang belum pernah terlihat sebelumnya, dengan konsekuensi parah di sejumlah area.

"Omicron memiliki jumlah mutasi lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, beberapa di antaranya mengkhawatirkan dampak potensial pada lintasan pandemi. Jika lonjakan besar Covid-19 terjadi didorong oleh Omicron, konsekuensinya mungkin parah," kata WHO dalam Twitter miliknya, seperti dikutip dari NBC News. 

2. WHO belum menetapkan apakah Omicron lebih menular atau menimbulkan gejala lebih parah dari varian lainnya

Disebut-sebut 500 Persen Lebih Menular dari Delta, 5 Fakta Penting Varian Covid, Omicron - Foto 1
Dennis Farrel/AP Photo/picture alliance

Kendati telah mengingatkan risiko global, tetapi WHO pada Senin masih menekankan bahwa masih ada banyak ketidakpastian dan ketidaktahuan mengenai Omicron. Pernyataan itu mengulangi pembaruan soal Omicron yang dimuat dalam situs WHO pada Minggu (28/11). Dalam lamannya itu, WHO mengatakan bahwa masih belum jelas apakah Omicron lebih menular dibandingkan varian lain, termasuk Delta. 

Demikian pula dengan tingkat keparahan penyakit, WHO menulis bahwa belum jelas apakah infeksi Omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan infeksi dengan varian lain, termasuk Delta.

Namun, dijelaskan bahwa jumlah orang yang dites positif telah meningkat di wilayah Afrika Selatan yang terkena varian ini. Sementara,  studi epidemiologi sedang dilakukan untuk memahami apakah itu karena Omicron atau faktor lainnya.

Dikatakan pula bahwa menurut data awal, ada peningkatan tingkat rawat inap di Afrika Selatan. Akan tetapi, menurut WHO, hal ini mungkin disebabkan oleh peningkatan jumlah keseluruhan orang yang terinfeksi, bukan akibat infeksi spesifik dengan Omicron. 

"Saat ini tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa gejala yang terkait dengan Omicron berbeda dari varian lainnya. Infeksi awal yang dilaporkan terjadi di antara mahasiswa—individu yang lebih muda yang cenderung memiliki penyakit yang lebih ringan—tetapi memahami tingkat keparahan varian Omicron akan memakan waktu berhari-hari hingga beberapa minggu."

"Saat ini, WHO sedang berkoordinasi dengan sejumlah besar peneliti di seluruh dunia untuk lebih memahami Omicron. Studi saat ini sedang berlangsung termasuk penilaian tentang tingkat penularan, tingkat keparahan infeksi (termasuk gejala), kinerja vaksin dan tes diagnostik, dan efektivitas pengobatan," tulis WHO dalam situsnya.

3. Ahli  memprediksi Omicron 500 persen lebih menular dari Delta

Disebut-sebut 500 Persen Lebih Menular dari Delta, 5 Fakta Penting Varian Covid, Omicron - Foto 2
 Earth.com

Sebelum WHO akhirnya memperingatkan soal ancaman Omicron, sejumlah ilmuwan sudah mulai memberikan analisis mengkhawatirkan soal virulensi Omicron. Ini terutama dari data awal, para peneliti mengatakan bahwa varian itu memiliki jumlah mutasi virus corona yang 'sangat tinggi'. Mereka telah menemukan setidaknya 32 mutasi pada protein spike. Sebagai perbandingan, varian delta, yang dianggap sangat menular, hanya menunjukkan delapan mutasi.

Kekhawatiran terhadap penularan Omicron yang tinggi lantas diungkap oleh banyak ahli. Salah satunya Ulrich Elling, seorang pemimpin penelitian di Wina. Seperti diwartakan Express UK, Elling telah memperingatkan bahwa perkiraan awal tentang Omicron menunjukkan bahwa varian itu bisa 500 persen lebih menular dibanding Delta. 

Elling, yang laboratoriumnya mengurutkan virus Covid-19 dan mendeteksi variannya, mengungkap soal ancaman lanjutan. Kepada DW,  ia mengatakan bahwa penyebaran penularan Omicron yang saat ini terlihat di Afrika Selatan memiliki arti bahwa 'penyebaran varian itu hampir tidak mungkin ditahan meski dengan penguncian'.

Elling juga mengungkap bahwa ada 100 kali lebih banyak kasus Covid-19 di wilayah Afrika Selatan yang terkena dampak varian baru dibandingkan sebulan lalu.

"Kami melihat ledakan kasus infeksi di Afrika Selatan, terutama di mana varian ini terdeteksi."

"Kami melihat kasus 100 kali lebih banyak dibanding 25 hari sebelumnya."

"Ini berkorelasi dengan munculnya varian baru ini, yang memiliki jumlah mutasi baru yang mengejutkan bahkan pada protein lonjakannya saja."

"Mutasi terjadi di area yang meningkatkan infektivitas dan kekebalan."

"Saat ini perkiraan pertama adalah varian ini mungkin 500 persen lebih menular daripada Delta, dan ingat bahwa Delta hanya 60 persen lebih menular daripada Alpha."

"Penyebaran yang kita lihat akan jauh lebih cepat daripada Delta. Mungkin hampir tidak mungkin untuk menahan ini bahkan dengan penguncian," tutur peneliti yang berbasis di Austria itu.

Pendapat hampir serupa juga telah disampaikan Eric Feigl-Ding, ahli epidemiologi dan rekan senior di Federasi Ilmuwan Amerika (FAS). Dia mencatat bahwa Omicron memiliki lebih dari dua kali lipat jumlah mutasi lonjakan dibandingkan dengan varian Delta yang sangat menular. 

"Ya Tuhan — varian baru #B11259 [B.1.1.529] yang mungkin ~500 persen lebih menular secara kompetitif adalah statistik yang paling mengejutkan. 

"Lonjakan #B11259 ini menggusur Delta sekarang telah menyebabkan gelombang kejut di seluruh dunia. Ini benar-benar buruk. Tidak hanya itu, varian #C12 sebelumnya juga tampaknya tumbuh perlahan dan menggusur Delta juga di Afrika Selatan," ungkap Feigl-Ding dalam rangkaian tweet lengkap dengan gambar grafik yang dimaksudkan untuk menunjukkan keunggulan kompetitif dari sejumlah strain virus corona. 

4. WHO sebut para penyintas Covid-19 mungkin lebih mudah terinfeksi ulang dengan Omicron

Disebut-sebut 500 Persen Lebih Menular dari Delta, 5 Fakta Penting Varian Covid, Omicron - Foto 4
The Australian

Meski belum jelas tingkat penularannya, tetapi WHO dalam lamannya menulis bahwa penyintas Covid-19 bisa lebih mudah terinfeksi ulang dengan Omicron, dibanding varian lainnya. Kendati demikian, WHO juga menjelaskan bahwa informasi ini masih terbatas, dan diharapkan akan ada penjelasan lanjutan dalam beberapa waktu ke depan.

"Bukti awal menunjukkan bahwa mungkin ada peningkatan risiko infeksi ulang dengan Omicron (orang yang sebelumnya memiliki Covid-19 dapat terinfeksi ulang dengan lebih mudah dengan Omicron), dibandingkan dengan varian kekhawatiran lainnya, tetapi informasinya terbatas. Informasi lebih lanjut tentang ini akan tersedia dalam beberapa hari dan minggu mendatang," tulis WHO.

Laporan dari WHO ini sejalan dengan keterangan dari Dr Anup Kanodia, ahli pengobatan alternatif, integratif, dan fungsional di rumah sakit OhioHealth, AS. 

Seperti dikutip dari 10WBNS, Kanodia membeberkan bahwa para peneliti memang telah melihat pasien yang sudah terinfeksi varian sebelumnya bisa terinfeksi ulang dengan Omicron. 

5. Gejala dari pasien terinfeksi Omicron berbeda, beberapa hanya menunjukkan gejala ringan tanpa anosmia 

Disebut-sebut 500 Persen Lebih Menular dari Delta, 5 Fakta Penting Varian Covid, Omicron - Foto 5
 Wexter Medical Center-The Ohio State University

Menurut Kanodia, dokter dan ilmuwan telah melihat gejala yang berbeda di antara pasien yang didiagnosis dengan varian Omicron.

Kanodia mengatakan gejalanya mirip dengan pilek di mana pasien mengalami nyeri otot, kelelahan, dan batuk ringan. Sejauh ini, mereka yang didiagnosis dengan Omicron tidak kehilangan indera perasa atau penciuman (anosmia).

Hal yang hampir sama juga diungkap oleh dokter asal Afrika Selatan yang pertama kali memperingatkan tentang jenis baru virus corona ini. Ia adalah Dr Angelique Coetzee yang juga menjadi ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan (SAMA).

Kepada BBC, Coetzee mengungkap bahwa ia mulai melihat sejumlah pasien sekitar 18 November, dan mereka datang dengan 'gejala yang tidak biasa'. Dikatakan pula bahwa gejalanya sedikit berbeda dengan yang terkait dengan varian Delta. Kendati demikian, Coetzee menggambarkan gejalanya 'sangat ringan'. 

"Ini sebenarnya dimulai dengan seorang pasien laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun ... dan dia berkata kepada saya bahwa dia sangat lelah selama beberapa hari terakhir dan dia merasakan sakit dan nyeri di tubuhnya dengan sedikit sakit kepala," kata Coetzee pada Minggu.

Coetzee juga mengungkap bahwa pasien lain yang dia lihat sejauh ini dengan Omicron juga mengalami gejala ringan. Ia menambahkan bahwa rekan-rekannya telah mencatat kasus serupa.

"Apa yang kami lihat secara klinis di Afrika Selatan – dan ingat saya berada di pusat tempat saya berlatih – sangat ringan, bagi kami [ini] adalah kasus ringan. Kami belum mengakui siapa pun, saya sudah berbicara dengan rekan saya yang lain dan mereka memberikan gambaran yang sama," tambahnya.

Kendati demikian, pengamatan awal Coetzee hanya didasarkan pada jumlah kasus yang sangat kecil, dengan sebagian besar pasiennya adalah orang muda yang sehat. Sementara, para ahli lain masih khawatir tentang sejumlah besar mutasi Omicron. Mengingat bukti awal menunjukkan strain ini memiliki peningkatan risiko infeksi ulang.

6. WHO pastikan Tes PCR bisa deteksi Omicron

Disebut-sebut 500 Persen Lebih Menular dari Delta, 5 Fakta Penting Varian Covid, Omicron - Foto 6
 Infectiousdiseasesadvisor.com

Varian Omicron memang telah memicu kekhawatiran global karena jumlah mutasinya yang sangat banyak. Namun, virus tinggi mutasi ini disebut masih bisa dideteksi dengan menggunakan tes PCR.

Hal itu telah ditegaskan WHO dalam laman info pembaruan tentang Omicron. Badan Kesehatan PBB ini menjelaskan bahwa sejauh ini, tes PCR masih bisa mendeteksi infeksi virus corona varian Omicron.

"Tes PCR yang banyak digunakan terus mendeteksi infeksi, termasuk infeksi dengan Omicron, seperti yang telah kita lihat dengan varian lain. Studi sedang berlangsung untuk menentukan apakah ada dampak pada jenis tes lain, termasuk tes deteksi antigen cepat," tulis WHO.

WHO menjelaskan bahwa semua varian Covid-19, termasuk varian Delta yang dominan di seluruh dunia, dapat menyebabkan penyakit parah atau kematian, khususnya bagi orang-orang yang paling rentan, sehingga pencegahan selalu menjadi kunci.

Sementara WHO masih bekerja sama dengan mitra peneliti untuk memahami dampak Omicron, vaksin dikatakan masih tetap penting untuk pencegahan. Selain itu, disebutkan bahwa obat Kortikosteroid dan IL6 Receptor Blockers masih akan efektif untuk menangani pasien dengan Covid-19 dengan gejala parah.

Sejauh ini, para ilmuwan masih berupaya untuk meneliti Omicron, varian Covid-19 yang disebut-sebut tinggi mutasi.[]