Tech

Disebut Lebih Mahal, Mitra Google Indonesia Ungkap Kelebihan Chromebook

Laptop chromebook memang berbeda dengan laptop-laptop yang selama ini beredar di pasaran


Disebut Lebih Mahal, Mitra Google Indonesia Ungkap Kelebihan Chromebook
Samsung Galaxy Chromebook 2 (dok. gsmarena)

AKURAT.CO, Belakangan ini publik ramai membicarakan soal laptop untuk bantuan sekolah dari Kemendikbudristek. Kemendikbudristek dikabarkan telah menggelontorkan anggaran hingga Rp17 Triliun untuk pengadaan laptop dan perangkat lainnya yang dibuat oleh vendor lokal.

Namun masyarakat mengkritik harga laptop yang senilai Rp10 Juta per unit, di mana harga tersebut dianggap tak sebanding dengan spesifikasi yang diberikan.

Terkait hal ini, Suryoprayudo selaku Founder PT DUGI yang merupakan partner resmi Google for Education menjelaskan bahwa laptop chromebook memang berbeda dengan laptop-laptop yang selama ini beredar di pasaran.

"Laptop chromebook adalah laptop dengan lisensi milik Google yang dapat dipasarkan dengan berbagai macam merk," ujarnya dalam diskusi virtual bertajuk "Belanja Laptop 17 T Vs Rekrutmen Guru Asn: Mana Yang Prioritas?" Minggu (8/8/2021).

Menurut Suryoprayudo, laptop ini menjadi salah satu favorit untuk pelajar karena harganya murah serta tidak membutuhkan tempat penyimpanan yang besar.

Hal itu karena dari mulai sistem operasi, penyimpanan dan aplikasi menggunakan teknologi komputasi awan (cloud) yang gratis dari Google.

“Laptop chromebook ini juga dapat dikontrol misalnya kapan bisa digunakan, kapan dimatikan, situs apa yang bisa dibuka, aplikasi apa yang boleh digunakan dan lain sebagainya. Jadi ini sangat cocok untuk pendidikan,” kata Suryo.

Ketika ditanya apakah harga laptop chromebook yang dibeli Kemendikbudristek terlalu tinggi dibandingkan pasar, Suryo mengatakan bahwa harga tersebut sudah termasuk dengan device management education upgrade yang tidak termasuk dalam chromebook di pasar bebas dan tentunya ada mekanisme niaga yang berbeda saat pemerintah melakukan pembelian.

Sementara itu, pengamat pendidikan dari Vox Point Indonesia, Indra Charismiadji menyatakan Kemendikbudristek kembali membuat kebijakan yang menghebohkan dengan belanja laptop dengan angka trilyunan. Tetapi kebijakan-kebijakan lain menurutnya seperti ditinggalkan begitu saja tanpa hasil yang jelas. 

Salah satunya adalah rekrutmen guru ASN yang harusnya dimulai sejak Mei 2021 dengan target satu juta guru, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan. “Kami tidak ingin Kemendikbudristek punya program yang kandas di tengah jalan. Yang satu belum berjalan, yang lain sudah mau dijalankan dengan anggaran yang lebih besar dan punya potensi kandas ditengah jalan juga. Semua program harusnya berjalan dengan baik,” pungkasnya.