News

Dirayu Joe Biden, Turki Akhirnya Setuju Finlandia dan Swedia Gabung NATO

Meski punya tradisi panjang netralitas, Finlandia dan Swedia akhirnya ketar-ketir setelah menyaksikan Rusia menyerang tetangganya, Ukraina.


Dirayu Joe Biden, Turki Akhirnya Setuju Finlandia dan Swedia Gabung NATO
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mencabut keberatannya atas bergabungnya Finlandia dan Swedia ke dalam NATO pada Selasa (28/6) malam. ()

AKURAT.CO Turki mencabut hak vetonya atas keanggotaan Finlandia dan Swedia terhadap NATO, menurut Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada Selasa (28/6) malam. Ini membuka jalan bagi salah satu ekspansi aliansi paling signifikan dalam beberapa dekade. Para pemimpin NATO pun akan mengundang kedua negara itu secara resmi untuk bergabung dengan aliansi tersebut pada Rabu (29/6).

Dilansir dari New York Times, setelah perundingan selama berminggu-minggu, dan diakhiri dengan pertemuan selama berjam-jam di Madrid, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan setuju untuk mencabut blokadenya terhadap keanggotaan Swedia dan Finlandia dengan imbalan berbagai tindakan dan janji melawan terorisme dan organisasi teroris.

"Sebagai sekutu NATO, Finlandia dan Swedia berkomitmen untuk sepenuhnya mendukung Turki melawan ancaman terhadap keamanan nasionalnya. Ini termasuk mengamandemen lebih lanjut undang-undang dalam negeri mereka, menindak aktivitas PKK dan menyetujui perjanjian ekstradisi dengan Turki," terang Stoltenberg, mengacu pada Partai Buruh Kurdistan (PKK) yang mengupayakan negara Kurdi merdeka di wilayah sebagian dalam perbatasan Turki.

baca juga:

Erdogan telah memblokir tawaran NATO negara-negara Nordik karena khawatir dengan dukungan lama Swedia untuk PKK. Kelompok tersebut telah menyerang sasaran nonmiliter dan membunuh warga sipil di Turki, dilarang di Turki, dan ditetapkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa sebagai organisasi teroris.

Namun, memorandum yang disetujui Turki, Swedia, dan Finlandia tak merinci ekstradisi sedikitnya 45 orang yang diinginkan Erdogan untuk dibawa ke Turki guna diadili atas tuduhan terorisme. Swedia sendiri telah mengesahkan UU yang lebih keras terhadap terorisme yang mulai berlaku 1 Juli.

Baik Finlandia dan Swedia tak bersekutu secara militer selama bertahun-tahun. Namun, keduanya memutuskan bergabung dengan NATO setelah Rusia menginvasi Ukraina pada bulan Februari. Karena Rusia menyerang tetangganya, Finlandia dan Swedia merasa ketar-ketir. Meski punya tradisi panjang netralitas, Swedia semakin ragu-ragu.

Presiden Rusia Vladimir Putin pun memperingatkan keduanya agar tak bergabung dengan NATO. Namun, ancamannya terbukti kontraproduktif.

Kedua negara tersebut membawa manfaat geostrategis bagi NATO. Finlandia berbagi perbatasan 1.335 km dengan Rusia dan memiliki alutsista modern yang lengkap. Sementara itu, Swedia dapat mengontrol pintu masuk ke Laut Baltik, yang akan sangat membantu dalam perencanaan NATO untuk mempertahankan negara-negara yang lebih rentan di Eropa Timur.

Desakan terakhir untuk menyelesaikan perselisihan dimulai pada Selasa (28/6). Saat itu, Presiden AS Joe Biden menelepon Erdogan untuk mendesaknya 'memanfaatkan momen' pada malam KTT. Keduanya pun berdiskusi lebih lanjut tentang topik tersebut, menurut seorang pejabat senior pemerintah yang enggan disebutkan namanya.

Biden lantas membocorkan substansi pembicaraannya dengan Erdogan kepada para pemimpin Finlandia dan Swedia. Setelah beberapa jam negosiasi malam itu, kedua pemimpin Nordik berkonsultasi lagi dengan Biden sebelum mengumumkan kesepakatan dengan Turki.

Menurut pejabat AS tersebut, kesepakatan antara Turki, Swedia, dan Finlandia melibatkan sejumlah kompromi, termasuk pernyataan Turki yang menyambut pengajuan keanggotaan Finlandia dan Swedia, masalah soal embargo senjata yang dikenakan pada Turki, dan keyakinan Turki bahwa Finlandia dan Swedia telah menawarkan tempat persembunyian yang aman bagi kelompok-kelompok yang mereka anggap teroris.

Kesepakatan mereka pun diumumkan pada Selasa (28/6) malam.

Langkah selanjutnya, NATO akan memberikan suara pada Rabu (29/6) untuk menerima pengajuan keanggotaan mereka. Akan ada juga kajian singkat soal kapasitas dan kebutuhan pertahanan mereka. Namun, rapatnya diharapkan menjadi rutin lantaran keduanya adalah mitra NATO dan telah melakukan latihan bersama dengan sekutu NATO.

Langkah terakhir lebih sulit karena membutuhkan persetujuan 30 anggota saat ini untuk mengubah perjanjian pendirian NATO guna menerima anggota baru. Di masa lalu, itu memakan waktu hingga 1 tahun. Namun, ini diperkirakan akan jauh lebih cepat untuk negara-negara Nordik.[]