Olahraga

Dipicu Kasus Sha'Carri, WADA akan Tinjau Larangan Penggunaan Ganja

Kebijakan ini menyusul permintaan sejumlah pihak sejak pendiskualifikasian Sha'Carri Richardson dari Olimpiade Tokyo 2020.


Dipicu Kasus Sha'Carri, WADA akan Tinjau Larangan Penggunaan Ganja

AKURAT.CO, Agensi Anti-Doping Internasional (WADA) berencana untuk meninjau ulang apakah ganja (cannabis) masih tetap termasuk zat yang dilarang dikonsumsi atlet. Kebijakan ini menyusul setelah pelari 100 meter asal Amerika Serikat, Sha’Carri Richardson, kehilangan peluang tampil di Olimpiade Tokyo 2020 karena mengonsumsi ganja.

Sebagaimana dilaporkan BBC, tinjauan saintifik akan dimulai tahun depan. Itu berarti, aturan larangan terhadap ganja masih berlaku sepanjang 2022 sambil menunggu hasil tinjauan ulang.

Keputusan untuk melakukan penyelidikan dilakukan setelah WADA menerima permintaan dari sejumlah pihak untuk melakukan tinjauan terhadap penggunaan ganja.

Richardson sendiri mengatakan bahwa ia mengonsumsi ganja untuk menenangkan kondisi mentalnya karena kematian ibunya. Berhubung karena kematian ibunya terjadi sepekan setelah uji coba tim atletik olimpiade AS di Oregon, Juni lalu, Richardson didiskualifikasi.

“Saya mohon maaf untuk fakta bahwa saya bahkan tidak tahu bagaimana mengendalikan emosi atau mengatasi momen (kematian ibu saya) tersebut,” kata Richardson.

Padahal, atlet berusia 21 tahun tersebut diharapkan bisa meraih medali untuk AS di Tokyo. Ia memenangi uji coba 100 meter sekaligus mencatatkan diri sebagai putri tercepat keenam dalam sejarah atletik AS.

Baik Agensi Anti Doping AS (USADA) dan Federasi Atletik AS hanya bisa menyampaikan simpati terhadap Richardson. Mereka menyadari bahwa sang atlet menggunakan ganja tidak untuk meningkatkan performa namun tak bisa berbuat apa-apa karena patuh pada regulasi.

“Aturannya sudah jelas, tetapi ini menyedihkan pada berbagai level,” kata Pemimpin Eksekutif USADA, Travis Tygart.

“Semoga, pertanggungjawaban dan permohonan maafnya akan menjadi teladan penting bagi kita semua bahwa kita bisa dengan sukses mengatasi keputusan kita yang disesali, walaupun konsekuensinya seperti yang dialaminya.”

Terbukti menggunakan ganja saat ini bisa dihukum skorsing sampai empat tahun sesuai aturan saat ini. Namun bisa dikurangi hanya tiga bulan saja jika atlet bisa menunjukkan bahwa penggunaannya tidak berhubungan dengan performa.

Sanksi terhadap Richardson juga memicu kecaman dari banyak pihak. Mereka menganggap aturan tersebut telah merenggut peluang Richardson dengan argumen bahwa penggunaan ganja tidak semestinya membuat sang atlet kehilangan tiket ke olimpiade yang sebenarnya sudah digenggamnya.[]