Rahmah

Dikenal Kontroversi, Abu Nawas Sesungguhnya Adalah Tokoh yang Cerdas, ini Buktinya

Dikenal Kontroversi, Abu Nawas Sesungguhnya Adalah Tokoh yang Cerdas, ini Buktinya
Ilustrasi Abu Nawas (Nambla)

AKURAT.CO Meski dikenal nyeleneh, namun siapa sangka ternyata Abu Nawas memiliki kecerdasan cara berpikirnya yang membuat orang-orang disekitarnya terkagum. Begitu juga dengan Baginda Raja, sebagai seorang pemimpin negeri, Baginda tak segan memanggil Abu Nawas dengan tujuan untuk meminta jawaban yang tidak dapat diselesaikan oleh para menterinya.

Seperti biasanya, pagi itu Baginda menyuruh beberapa pengawal kerajaan untuk memanggil Abu Nawas. Sebelumnya, belum lama ini Baginda Raja Harun Ar-Rasyid telah melaksanakan ibadah haji di tanah Suci Makkah.

Sesampainya di istana, Baginda langsung menyambut Abu Nawas dengan mengajaknya menuju ke pendopo untuk berbincang-bincang sambil. Sambil meminum teh hangat, terjadilah dialog antara keduanya. Ternyata, kali ini Baginda Raja ingin membahas seputar ibadah haji yang baru saja ia tunaikan.

baca juga:

Baginda merasa penasaran dengan orang-orang yang berputar-putar mengelilingi Kakbah Baitullah atau disebut dengan Tawaf. Padahal menurut Baginda, orang yang menunaikan ibadah haji adalah tamu Allah SWT.

Kalau status para jamaah haji adalah sebagai tamu Allah SWT, kenapa tidak dipersilahkan saja masuk ke dalam Baitullah satu persatu. Hal tersebut yang kemudian ditanyakan kepada si cerdik Abu Nawas.

"Jadi begini Abu Nawas, apakah arti Kakbah Baitullah?".

"Kakbah adalah rumah Allah SWT, Baginda yang mulia," jawab Abu Nawas.

"Lalu sebagai apakah orang-orang yang menunaikan ibadah haji itu?" tanya baginda berikutnya.

"Sebagai tamu Allah, wahai Baginda," jawab Abu Nawas.

"Nahh kalau sebagai tamu Allah, mengapa mereka tidak dipersilahkan masuk saja ke dalam Baitullah?" tanya Baginda mulai serius.

"Mohon izin Baginda Raja, Baitullah hanyalah sebagai lambang," kata Abu Nawas.

"Jika begitu di mana Allah SWT bersemayam?" tanya Baginda Raja yang masih penasaran.

"Di dalam hati orang Mukminin," kata Abu Nawas.

"Karena tidak ada suatu ruang yang bagaimanapun luasnya mampu menampung Zat Allah SWT kecuali hati orang Mukminin. Qalbu Mukmin Baitullah (hati orang mukmin adalah rumah Allah)," jelas Abu Nawas.

"Lalu mengapa Baitullah dijadikan kiblat?" tanya Baginda.

"Kalau itu, untuk memudahkan pemahaman orang awam, Baginda raja yang mulia," kata Abu Nawas.

"Baitullah itu terlihat mata. Dari itu salat syariat kiblatnya adalah Baitullah, yang waktunya ditentukan dan dengan bacaan tertentu juga," lanjut Abu Nawas.

"Sedangkan salat tharikat kiblatnya hati, waktunya bisa setiap saat dan bacaannya dzikir kepada Allah SWT," jelas Abu Nawas.

Baginda Raja Harun pun merasa puas dengan jawaban yang diberikan Abu Nawas. Setelah menyeruput teh hangat yang masih hangat itu, Abu Nawas pamit meninggalkan istana kerajaan. []