News

Dikekang Junta dan Diamuk COVID-19, Derita Myanmar Kini Ditambah Terjangan Banjir

Bencana banjir menambah kesengsaraan Myanmar yang kini sedang berjibaku melawan wabah virus corona dan kekacauan yang tercipta oleh kudeta militer.


Dikekang Junta dan Diamuk COVID-19, Derita Myanmar Kini Ditambah Terjangan Banjir
Pasien COVID-19 di Myanmar terpaksa dipindahkan karena untuk menghindari genangan banjir. (Foto: Facebook/Karen Information Center) ()

AKURAT.CO, Banjir memaksa ratusan penduduk Myanmar mengungsi pada Selasa (27/7). Bencana ini pun menambah kesengsaraan negara tersebut yang sedang berjibaku melawan wabah virus corona dan kekacauan yang tercipta oleh kudeta militer pada Februari lalu.

Dilansir dari Reuters, hujan deras yang mengguyur sejak akhir pekan menyebabkan banjir di sejumlah daerah. Akibatnya, tenaga kesehatan (nakes) harus memindahkan pasien COVID-19 melintasi jalanan dan gang yang becek untuk mencari lokasi yang lebih kering.

"Ratusan rumah terendam air dan hanya atapnya yang terlihat. COVID menyebar di kota. Ada begitu banyak orang yang kehilangan indra penciuman dan banyak yang sakit. Tak jelas apakah itu COVID atau flu musiman," ungkap Pyae Sone, seorang pekerja sosial di Hlaingbwe, Negara Bagian Kayin, melalui telepon.

Relawan dan nakes menyeret tempat tidur dengan seorang pasien terbaring di atasnya. Ia masih terhubung ke tangki oksigen. Tempat tidur itu pun diseret di atas air bah yang keruh di Kota Kayin, Myawaddy, menurut unggahan Pusat Informasi Karen (KIC) di Facebook.

Sekitar 500 daerah pemukiman di sepanjang perbatasan Thailand terkena dampak. Ratusan orang pun tergusur. Menurut Bo Bo Win, kepala badan amal di Kota Mawlamyine, sedikitnya 500 orang di sana juga menderita akibat banjir.

"Banjir yang menggenangi sebagian besar wilayah timur Myanmar ini merupakan yang terburuk selama bertahun-tahun. Bencana ini menambah kesengsaraan bagi masyarakat yang sudah menderita karena lonjakan COVID-19 di seluruh negeri," tutur Joy Singhal, kepala delegasi Myanmar di Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC).

Menurut keterangannya, IFRC langsung mengamankan lebih banyak pasokan bantuan untuk menolong ribuan warga yang rentan terdampak banjir susulan.

Infeksi COVID-19 telah melonjak sejak Juni dengan 4.630 kasus dan 396 kematian dilaporkan pada Senin (26/7). Namun, menurut nakes dan jasa pemakaman, jumlah korban sebenarnya jauh lebih tinggi.

Baca Juga: Mirisnya Situasi Corona di Myanmar, Warga Krisis Oksigen hingga Dokter Harus Bersembunyi karena Diburu Junta

Sementara itu, pengambilalihan kekuasaan oleh militer telah memicu aksi protes nasional, kerusuhan, dan pemogokan massal di berbagai bidang. Geram dengan dukungan dokter terhadap protes antijunta, militer Myanmar pun meringkus sejumlah dokter yang merawat pasien COVID-19 secara mandiri.

"PBB harus segera bertindak untuk menghentikan serangan, pelecehan, dan penahanan junta militer di tengah krisis COVID-19," ujar Thomas Andrews, pelapor khusus PBB untuk HAM di Myanmar.

Ia pun menyerukan 'Gencatan Senjata COVID' demi mengatasi krisis.[]