Rahmah

Dihina Seseorang, Abu Nawas Beri Nasihat Ini, Endingnya Bikin Salut

Kedekatan Abu Nawas dengan Baginda Raja ternyata membuat banyak pihak merasa iri.


Dihina Seseorang, Abu Nawas Beri Nasihat Ini, Endingnya Bikin Salut
Ilustrasi Abu Nawas (AKURAT.CO/Candra Nawa)

AKURAT.CO Dalam khazanah ke-Islaman, nama Abu Nawas begitu familiar di telinga umat Muslim. Tokoh sufi yang hidup pada zaman Khilafah Harun Ar-Rasyid ini dikenal lewat kisah-kisah cerdiknya yang dapat mengocok perut.

Kedekatan Abu Nawas dengan Baginda Raja ternyata membuat banyak pihak merasa iri. Termasuk para penyair lainnya yang tidak mendapatkan tempat di kerajaan.

Hingga pada suatu waktu, ada seorang penyair yang dengan terang-terangan mencaci, mengejek, dan menghina Abu Nawas. Diketahui, si penyair itu melakukan perbuatan tidak menyenangkan tersebut di belakang Abu Nawas.  

baca juga:

Namun kabar akan cacian tersebut sampai di telinga Abu Nawas. Dirinya pun segera menyusun rencana agar dapat memberikan pelajaran untuk si penyair itu.

Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Tanpa ada rencana sebelumnya, Abu Nawas dan penyair itu bertemu dalam sebuah acara istana.

"Wahai saudaraku, apa engkau kira cacian, ejekan serta hinaan yang ditujukan kepadaku itu merugiganku? Lalu apa engkau kira namaku akan redup setelah engkau lakukan itu? Apa engkau juga kira anakku akan mati mendengar cacianmu?" tanya Abu Nawas saat dihadapan penyair itu.

"Tidak," tegas penyair itu.

"Lantas apakah rumahku akan hancur setelah mendengar cacian darimu?" tanya Abu Nawas kembali.

"Tidak juga," jelas penyair itu.

"Ingatlah. Selagi kakiku ini masih menopang badanku, cacianmu tidak akan mengubah apapun dalam hidupku, sampai kapanpun dan bagaimanapun juga," kata Abu Nawas menjelaskan. 

"Heii, sombong sekali engkau ini. Sebenarnya engkau ini mau apa Abu Nawas?" kata si penyair balik bertanya.

"Aku hanya ingin melihat apa yang engkau bisa lakukan di depanku setelah kejadian ini?" ucap Abu Nawas dengan santainya.

Setelah mendengar pernyataan Abu Nawas, para tamu undangan yang hadir merasa kagum. Pasalnya si penyair itu terserang mentalnya dan lidahnya sepertinya tercekat tak bisa berkata apa-apa. Dirinya hanya bisa diam karena merasa bersalah atas perbuatan yang selama ini ia lakukan kepada Abu Nawas. 

Dengan adanya kejadian itu, sang penyair sudah tidak lagi mengina Abu Nawas. Wallahu A'lam Bishawab. []