Ekonomi

Dihadapkan Risiko Stagflasi, Airlangga Pede Ekonomi RI Tetap Ngegas

Airlangga: indikator ekonomi RI mengonfirmasi bahwa ekonomi diproyeksikan masih menguat dan peluang resesi RI sangat kecil jika dibanding negara lain.


Dihadapkan Risiko Stagflasi, Airlangga Pede Ekonomi RI Tetap Ngegas
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers usai melakukan pertemuan di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis (12/5/2022). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Perekonomian global tengah dihadapkan pada turbulensi yang tidak hanya menghambat laju pemulihan, namun juga meningkatkan risiko stagflasi dan resesi global. Terutama dari yang disebut sebagai The Perfect Storm (5C) yakni Covid-19, Conflict, Climate Change, Commodity Prices, dan Cost of Living. Dalam sisi penanganan Covid-19, terkendalinya pandemi mendorong pemulihan ekonomi di berbagai negara, sehingga menyebabkan permintaan global meningkat cepat.

"Di Indonesia menerapkan langkah dan resep berbeda yaitu dalam penanganan pandemi Covid-19 tidak bisa bottom-up, tapi satu komando melalui KPC-PEN. Hasil yang telah dicapai misalnya suntikan vaksin yang sudah lebih dari 420 juta dosis, dan tidak banyak negara yang berhasil seperti ini. Hal ini menyebabkan imunitas kita mencapai 99%, khususnya di wilayah Jawa dan Bali," ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Diskusi Ekonomi Berdikari bertema "Antisipasi Indonesia terhadap Potensi Krisis Global yang diadakan Harian Kompas, Kamis (4/8/2022).

Di sisi lain, pandemi Covid-19 dan Konflik Rusia-Ukraina turut memperparah disrupsi pasokan pangan dan energi. Ditambah kebijakan berbagai negara yang menerapkan pembatasan ekspor komoditas esensial serta kebijakan zero covid policy (lockdown) di Tiongkok. Akibatnya tekanan inflasi semakin tinggi, mendorong berbagai negara merespon melalui pengetatan kebijakan moneter secara agresif, sehingga pembiayaan (cost of fund) semakin mahal. Kondisi tersebut meningkatkan risiko stagflasi dan resesi global.

baca juga:

Laporan IMF terbaru periode Juli 2022 kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan global tahun 2022 menjadi hanya sebesar 3,2% (yoy), atau menurun 0,4% dibandingkan laporan April 2022. Di Amerika Serikat secara teknis telah mengalami resesi, karena pertumbuhan ekonominya berturut-turut terkontraksi pada Kuartal I sebesar 1,6% dan Kuartal II sebesar 0,9%. Sementera itu, ekonomi Tiongkok tumbuh rendah 0,4% (yoy) pada Kuartal II 2022 atau terkontraksi 4,4% dibanding kuartal sebelumnya.

Lebih lanjut, inflasi diproyeksikan mencapai 6,6% pada advanced economies dan 9,5% di emerging market dan developing economies, atau meningkat 0,9% dan 0,8% poin dibanding proyeksi IMF pada April 2022.

"Di tengah berbagai tantangan global yang masih berlangsung, indikator ekonomi Indonesia mengonfirmasi bahwa ekonomi diproyeksikan masih menguat dan peluang resesi indonesia sangat kecil jika dibanding negara lain. Kita juga telah melihat keberlanjutan perbaikan dalam pemulihan ekonomi Indonesia setelah pandemi," tutur Menko Airlangga.

Prospek ekonomi ke depan juga diperkirakan semakin optimis, apalagi Indonesia punya bekal baik yakni pada Kuartal I 2022 mengalami pertumbuhan ekonomi 5,01%. Pada sisi konsumsi, Indeks Keyakinan Konsumen serta penjualan ritel terus tumbuh dan menjadi insentif bagi industri untuk meningkatkan produksi, hal ini tercermin dari Purchasing Managers Index (PMI) yang terus mencatatkan ekspansi selama 11 bulan beruntun sejak September 2021 dan pada Juli 2022 ini tercatat 51,3. Di saat yang sama, di tengah kenaikan inflasi global, inflasi Indonesia per Juli 2022 sebesar 4,94% juga relatif terkendali.

Dari sisi eksternal, Indonesia memiliki ketahanan yang terjaga dengan baik dan semakin solid, didukung neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus selama 25 bulan berturut-turut. Bahkan pada periode Januari-Juni 2022, surplus Indonesia telah mencapai US$24,8 miliar atau dua kali lipat dari surplus pada periode sama tahun lalu.

Dibandingkan dengan kondisi negara lain, prospek ekonomi Indonesia ke depan diperkirakan masih menguat (ekspansi). Per Juni 2022, indikator utama yang memberikan sinyal awal titik balik siklus ekonomi masih berada di atas tren jangka panjang (>100). Negara lain yang indikatornya juga di atas 100 yakni India dan Tiongkok. Demikian pula dari survei Bloomberg terhadap para ekonom, probabilitas resesi Indonesia masih sangat kecil dibandingkan negara lain.

"Dengan berbagai prospek baik tersebut, Pemerintah tetap optimis bahwa di 2022 ekonomi Indonesia dapat tumbuh sebesar 5,2% (yoy). Pemulihan tersebut didorong oleh sinergi kesehatan dan kebijakan ekonomi yang mampu mendorong peningkatan konsumsi, investasi, dan ekspor," tukas Menko Airlangga.[]

Lihat Sumber Artikel di Warta Ekonomi Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan Warta Ekonomi. Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari Warta Ekonomi.
Sumber: Warta Ekonomi