Ekonomi

Digugat PT Lumbung Padi Indonesia, Begini Kata Wilmar Padi Indonesia

Digugat PT Lumbung Padi Indonesia, Begini Kata Wilmar Padi Indonesia
PT. Wilmar Padi Indonesia (agrofarm.co.id)

AKURAT.CO Founder PT. Lumbung Padi Indonesia (LPI) Luwia Farah Utari melaporkan PT. Wilmar Padi Indonesia atas dugaan kasus pelanggaran merek dagang yang telah ditetapkan dengan kerugian senilai Rp5,5 triliun yang saat ini ditangani oleh Kepolisian Daerah Metro Jaya (Polda Metro Jaya).

Menanggapi hal tersebut, Kuasa Hukum Wilmar Mauliate P. Situmeang mengungkapkan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah menolak gugatan perdata yang diajukan oleh Farma International PTE LTD dan Luwia Farah Utari terhadap perusahaan afiliasi Wilmar. 

Adapun hakim menolak gugatan tersebut dalam putusan sela yang dibacakan pada sidang terbuka untuk umum pada 26 Agustus 2021. Terhadap putusan tersebut, baik tergugat maupun penggugat tidak mengajukan upaya hukum sesuai tenggang waktu yang ditentukan undang-undang. 

baca juga:

“ Putusan hakim telah inkracht (berkekuatan hukum tetap) karena sudah lebih dari 14 hari para pihak tidak melakukan langkah hukum selanjutnya,” tutur Mauliate melalui keterangan resminya di Jakarta, Jumat (12/11/2021).

Seperti diberitakan sebelumnya, Farma International PTE LTD sebagai pemegang mayoritas saham di PT Lumbung Padi Indonesia (LPI) dan Luwia Farah Utari telah menjual sahamnya kepada dua perusahaan afiliasi Wilmar. Farma International PTE LTD dan Luwia Farah Utari   mengajukan permohonan pembatalan jual-beli saham dimaksud, padahal proses jual-beli saham tersebut  telah memenuhi ketentuan hukum, dan juga telah disepakati oleh kedua belah pihak, serta telah dituangkan ke dalam perjanjian jual beli saham.

Terkait dengan pelaporan atas dugaan penggunaan merek dagang milik Luwia Farah Utari oleh perusahaan afiliasi Wilmar, perusahaan menyatakan akan mengikuti dan mematuhi proses yang berlaku. 

Mauliate menambahkan, perusahaan memahami dan mematuhi proses hukum yang berjalan. Perusahaan juga berharap agar apa yang diinformasikan kepada masyarakat sudah pasti kebenarannya. 

“Kami selalu memastikan apa yang kami lakukan dan informasikan sudah sesuai hukum dan aturan yang berlaku,” ujar dia.

Sekadar informasi, Laporan Polisi terhadap PT. Wilmar Padi Indonesia dilakukan pada 8 November 2021 oleh karena adanya dugaan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 ayat (1) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis (UU Merek) yang menyatakan bahwa Pasal 100 ayat (1) UU Merek: "Setiap orang yang dengan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi dan/atau diperdagangkan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp2.000.000.000.[]