News

Digugat Pemerkosaan 27 Tahun Silam, Donald Trump Jadi Orang Pertama yang Dijerat UU Penyintas Dewasa

Digugat Pemerkosaan 27 Tahun Silam, Donald Trump Jadi Orang Pertama yang Dijerat UU Penyintas Dewasa
E Jean Carroll menjadi orang pertama yang menggunakan Undang-undang (UU) Penyintas Dewasa yang berlaku mulai Kamis (24/11) dengan menggugat Donald Trump atas pemerkosaan 27 tahun silam. (BBC dan Reuters)

AKURAT.CO Penulis E Jean Carroll telah menggugat mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di negara bagian New York atas dugaan pemerkosaan padanya pada 1990an. Ia menjadi orang pertama yang menggugat dengan Undang-Undang (UU) Penyintas Dewasa yang berlaku mulai Kamis (24/11).

Dilansir dari BBC, Carroll menuduh serangan itu terjadi di ruang ganti toserba mewah New York 27 tahun lalu. UU Penyintas Dewasa pun memungkinkan korban melapor jika mengalami serangan seksual ketika mereka berusia di atas 18 tahun dan terjadi pada tanggal yang melebihi batas waktu yang ada pada sebagian besar kejahatan.

Wanita 78 tahun itu juga menggugat Trump atas pencemaran nama baik setelah sang mantan presiden menuduhnya berbohong ketika ia pertama kali mengungkapkannya ke publik pada 2019. Trump menyebut klaim Carroll adalah 'fiksi'. Sidang perdata untuk kasus ini dijadwalkan pada 6 Februari.

baca juga:

Menurut pernyataan Roberta Kaplan, pengacara Carroll, gugatan baru yang diajukan pada Kamis (24/11) bertujuan untuk meminta pertanggungjawaban Trump atas dugaan pelecehan tersebut.

Sebaliknya, Alina Habba, seorang pengacara untuk Trump, menuding penyalahgunaan UU, meski ia mengaku menghormati dan mengagumi individu yang berani maju.

"Kasus ini sayangnya merupakan penyalahgunaan dari tujuan UU tersebut dan berisiko mendelegitimasi kredibilitas korban yang sebenarnya," ungkapnya.

UU baru tersebut juga rencananya akan digunakan para penyintas lainnya untuk mengajukan tuntutan hukum. Salah satunya adalah gugatan class action terhadap Robert Hadden, mantan dokter kandungan yang dituduh melakukan pelecehan seksual pada puluhan pasien di rumah sakit terkait dengan New York-Presbyterian dan Universitas Columbia.

Hadden divonis pada 2016 atas tuduhan terkait seks di pengadilan negara bagian. Namun, ia mengaku tak bersalah atas tuduhan federal pasien wanita selama 2 dekade.

Para pendukung penyinyas pelecehan seksual yakin UU ini memberikan kesempatan bagi para korban untuk berani maju setelah tak pernah melakukan sebelumnya karena trauma atau takut akan pembalasan.[]