Ekonomi

Digitalisasi Sekolah Tak Boleh Hanya Sebatas Bagikan Laptop!

Program pemerintah untuk digitalisasi sekolah melalui pembagian laptop dan berbagai perangkat pendukung layak diapresiasi


Digitalisasi Sekolah Tak Boleh Hanya Sebatas Bagikan Laptop!
Pelajar sekolah menggunakan laptop untuk mengikuti sekolah online. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Latasha Safira mengatakan  program pemerintah untuk digitalisasi sekolah melalui pembagian laptop dan berbagai perangkat pendukung layak diapresiasi, namun tetap perlu disertai sederet langkah lainnya, seperti memastikan konektivitas internet yang baik, kriteria penerima yang jelas, literasi digital memadai dan kesiapan guru.

Tak kalah pentingnya dari perlunya memastikan pemerataan konektivitas internet untuk memperkecil kesenjangan digital antar daerah di Indonesia, kriteria penerima bantuan pun harus jelas agar program dapat tepat sasaran serta mampu menyetarakan landasan dan kesempatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi para siswa, dari kelas sosial dan daerah manapunmereka berasal.

“Kriteria penerima yang jelas akan sangat menentukan kesuksesan program ini karena dapat membantu mereka untuk mengejar ketertinggalan selama PJJ berlangsung,” ujar Latasha lewat keterangan tertulisnya, Selasa (3/8/2021).

Kewajiban siswa/orang tua penerima bantuan juga perlu dijelaskan, termasuk pihak mana yang akan bertanggung jawab kalau terjadi kerusakan atau kehilangan dan terkait pemeliharaan dari gawai yang mereka terima.

Selain kedua hal tadi, literasi digital perlu terus dibangun di kalangan para siswa, guru dan pihak sekolah. Salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan adalah dengan mengintegrasikan literasi digital ke dalam kurikulum sekolah.

Penelitian CIPS menyebut, integrasi ini dapat dilakukan ke dalam mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). 

Sayangnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 37 Tahun 2018, lebih menekankan fokus mata pelajaran tersebut kepada peningkatan kompetensi teknis dalam penggunaan alat. Padahal pemahaman tentang etika dan perilaku yang bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi dan berinteraksi di dunia maya, serta penerapannya, tidak kalah penting.

Terlebih lagi mengingat bahwa anak-anak masa kini hampir setiap saat bersinggungan dengan internet. Faktor terakhir yang perlu diperhatikan untuk memastikan efektivitas pelaksanaan PJJ adalah penyetaraan kompetensi guru dalam pengoperasian perangkat teknologi serta penyesuaian metode pengajaran dengan sistem yang didasarkan atas komunikasi digital.

Hal ini perlu menjadi masukan dalam memformulasikan program kompetensi guru yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman dan yang responsif terhadap perubahan. 

Pandemi Covid-19 telah memaksa para guru untuk mengadaptasikan metode pengajaran mereka agar sesuai dengan pembelajaran secara digital, dan tidak semua guru siap untuk  transformasi ke ranah digital tersebut. 

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim mengatakan pihaknya membeli alat-alat TIK dengan total anggaran mencapai Rp17,42 triliun hingga 2024 untuk program Digitalisasi Sekolah. Alat-alat TIK yang hendak dibeli antara lain, laptop, access point, konektor, layar proyektor, speaker aktif, hingga router internet.[]