Ekonomi

Digandrungi Milenial, Apa Saja Kerugian Investasi Bitcoin dkk?

Berikut ini sejumlah kekurangan mata uang kripto yang kamu perlu perhatikan.


Digandrungi Milenial, Apa Saja Kerugian Investasi Bitcoin dkk?
Ilustrasi uang digital Bitcoin ( REUTERS/Benoit Tessier)

AKURAT.CO Mata uang kripto, seperti Bitcoin, Ethereum, Ripple, Tether, dan Doge pada tahun ini acap kali terdengar sebagai investasi yang digandrungi oleh para milenial.

Mata uang kripto sendiri memang memiliki banyak keuntungan salah satunya tidak memiliki batas, batas wilayah ataupun batasan berupa kebijakan atau aturan perbankan dan negara. Sebab, transaksi bitcoin bisa dilakukan lintas negara tanpa ada aturan terkait. Artinya siapapun bisa dengan mudah mengakses bitcoin.

Selain itu, mata uang kripto cenderung tak terlalu terpengaruh inflasi sehingga tren kenaikan tergantung dari para penggunanya. Meski demikian, di balik banyak keuntungannya, tentu mata uang kritpo memiliki sejumlah risiko.

Apa saja itu? Berikut ini sejumlah kekurangan mata uang kripto yang kamu perlu perhatikan.

1. Sangat fluktuatif

Kelemahan utama dari trading mata uang kripto lainnya adalah sangat fluktuatif karena tidak ada mekanisme pasar yang mengaturnya. Fenomena bubble atau gelembung sangat rentan terjadi dalam dunia mata uang kripto, yakni di mana harga suatu barang atau jasa menjadi naik drastis, hingga sangat tinggi, kemudian hancur seperti layaknya gelembung sabun yang ditiup disebabkan karena terlalu banyaknya beredar bitcoin di pasaran.

Untuk diketahui, harga salah uang kripto terpopuler yakni Bitcoin sempat mengalami bubble setelah harga meroket hingga menyentuh level US$20 ribu per Bitcoin pada 2017. Hanya dalam beberapa bulan, harga Bitcoin runtuh hingga menyentuh level terendah US$3.100 per Bitcoin pada Desember 2018. Perdagangan Bitcoin kala itu hanya didominasi oleh dana hedging yang lebih kecil dan dana dari perusahaan kripto itu sendiri.

2. Nilai bitcoin tak didukung dasar penjualan yang jelas

Tidak seperti pasar saham ataupun komoditi, bitcoin tidak memiliki dasar penjualan yang jelas. Artinya, bitcoin kamu bisa tak bernilai jika pengunaannya semakin berkurang. Jika semakin banyak negara atau perusahaan yang memperketat regulasi mereka terkait penggunaan bitcoin, maka harganya bisa turun kapan saja.

Fluktuasi dari nilai mata uang kripto ini benar-benar bergantung pada penawaran dan permintaan (supply and demand) dari para pengguna yang semakin hari semakin turun. Bedanya dengan saham atau komoditi, jika permintaannya turun, kamu tetap memiliki barang nyata berupa komoditas ataupun hak kepemilikan perusahaan dari saham yang kamu beli.

3. Rentan kena hack

uang kripto adalah mata uang berbasis teknologi blockchain, di mana memiliki risiko diretas oleh siapapun. Pada 26 Januari 2018, Coincheck, yang merupakan pasar OTC mata uang kripto terbesar di Jepang, sebesar US$530 juta dari NEM telah dicuri oleh peretas, dan kerugian itu adalah yang terbesar yang pernah terjadi karena insiden pencurian, yang menyebabkan Coincheck menghentikan perdagangan tanpa batas waktu.

Risiko peretasan masih sering sekali terjadi. Untuk itu, berhati-hati menyimpan bitcoin dalam jumlah besar.

4. Tidak ada badan otoritas

Seperti disebutkan sebelumnya, aset kripto hadir karena teknologi blockchain yang memungkinkan semua data transaksi otomatis. Karena semuanya diatur oleh sistem blockchain, tidak ada lagi otoritas manusia yang membuat peraturan atau bisa membatasi perdagangan. Artinya, tidak ada juga perlindungan investor atau layanan nasabah (customer service), yang mendengarkan keluhan masyarakat bila terjadi apa-apa terhadap aset kripto tersebut. 

Saat ini, Bappebti Kemendag hanya mengawasi para pedagang kripto dan aset kripto yang bisa diperdagangkan di Indonesia. Bappebti telah mengakui sebanyak 229 jenis mata uang kripto yang dapat diperdagangkan di Indonesia dan ada 13 perusahaan pedagang aset kripto yang terdaftar di Bappebti saat ini. 

5. Tidak ada fundamental untuk dianalisis

Mata uang kripto bukanlah mata uang seperti rupiah atau dolar AS. Sebab, meski disebut koin atau uang, crypto ini bukanlah mata uang yang memiliki dasar fundamental seperti kondisi ekonomi suatu negara, suku bunga acuan, dan data makroekonomi lainnya. 

Aset kripto juga tidak bisa dianalisis segi fundamentalnya seperti halnya saham emiten yang perusahaannya punya pendapatan, operasi bisnis, laba dan dividen. Adapun reksadana bisa dilihat isi portofolionya yang tertera dalam fund fact sheet. Maka dari itu, sangat sulit untuk memprediksi dan menganalisis valuasi atau nilai wajar dari Bitcoin dan koin-koin lainnya. []

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co