News

Diduga Terima Suap, KPK Tahan 4 Pegawai BPK Sulsel

Diduga Terima Suap, KPK Tahan 4 Pegawai BPK Sulsel
Konferensi Pers penahanan tersangka penerima suap pada BPK perwakilan Sulsel di Gedung Merah Putih KPK, Kamis (18/8/2022). (AKURAT.CO/Fajar Rizky Ramadhan)

AKURAT.CO, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan empat anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Sulawesi Selatan (Sulsel) karena diduga menerima suap.

Keempat tersangka yakni Kepala Perwakilan BPK Sulawesi Tenggara atau mantan Kasuauditorat Sulsel I BPK Perwakilan Provinsi Sulsel Andi Sonny; pemeriksa pada BPK Perwakilan Provinsi Sulsel Yohanes Binur Haryanto Manik; mantan Pemeriksa Pertama BPK Perwakilan Provinsi Sulsel atau Kasubbag Humas dan Tata Usaha BPK Perwakilan Sulsel Wahid Ikhsan Wahyudin; dan pemeriksa pada BPK Perwakilan Sulsel Gilang Gumilar.

Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengatakan, keempat pegawai BPK Sulsel diduga menerima suap dari Sekretaris Dinas PUTR Provinsi Sulawesi Selatan Edy Rahmat terkait pemeriksaan laporan keuangan. Kasus ini merupakan pengembangan dari perkara yang menjerat mantan Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah.

baca juga:

"Pihak pemberi (suap) adalah ER (Edy Rahmat) Sekretaris Dinas PUTR Provinsi Sulawesi Selatan," kata Alexander dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan Persada, Kamis (18/8/2022).

Dalam kasus ini, Alex menyebut BPK Perwakilan Sulsel memiliki sejumlah agenda, termasuk melakukan pemeriksaan laporan Pemda Provinsi Sulsel tahun anggaran 2020. Untuk melancarkan kegiatan ini, dibentuk tim pemeriksa yang salah satu anggotanya adalah Yohanes.

"Salah satu entitas yang menjadi objek pemeriksaan adalah Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Pemprov Sulsel," ungkapnya.

Namun sebelum pemeriksaan, Yohanes diduga kerap menjalin komunikasi anggota lainnya seperti Andi, Wahid, dan Gilang. Dalam pembicaraan tersebut terdapat salah satu pembahasan di antara mereka yakni mengkondisikan temuan pemeriksaan. Manipulasi tersebut diyakini berujung pada pemberian uang.

Alex mengungkapkan pemberian uang  disepakati Edy dengan menyebutnya sebagai dana partisipasi. Uang suap tersebut diyakini berasal dari para kontraktor yang menjadi pemenang proyek di tahun anggaran 2020. 

"Diduga besaran dana partisipasi yang dimintakan 1 persen dari nilai proyek. Dan dari keseluruhan dana partaisipasi yang terkumpul nantinya ER mendapatkan 10 persen," ujar Alex.