News

Didesak AS, Taliban Izinkan Evakuasi Massal WNA dari Bandara Kabul

Pemerintahan baru Afganistan yang diumumkan oleh Taliban pun menuai kekecewaan negara-negara asing.


Didesak AS, Taliban Izinkan Evakuasi Massal WNA dari Bandara Kabul
Pasukan Taliban berjaga di depan gerbang Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afganistan. (Foto: REUTERS) ()

AKURAT.CO, Pemerintah baru Afganistan di bawah Taliban dikabarkan telah menyetujui evakuasi warga negara asing (WNA). Sekitar 200 warga Amerika Serikat (AS) dan WNA lainnya yang masih berada di Afganistan pun akan meninggalkan negara itu dengan pesawat sewaan dari Kabul pada Kamis (9/9), menurut keterangan yang dibocorkan seorang pejabat AS.

Dilansir dari Reuters, keberangkatan mereka akan menjadi salah satu penerbangan internasional pertama yang lepas landas dari bandara Kabul sejak milisi Islam tersebut merebut ibu kota pada pertengahan Agustus.

Menurut seorang pejabat AS yang tak mau disebutkan identitasnya, Taliban ditekan oleh Perwakilan Khusus AS Zalmay Khalilzad untuk mengizinkan keberangkatan itu. Namun, belum diketahui apakah rombongan itu termasuk orang-orang yang terdampar selama berhari-hari di kota Mazar-i-Sharif, Afganistan utara, lantaran pesawat pribadi sewaan mereka tak diizinkan untuk berangkat.

Sementara itu, Taliban telah mengumumkan pemerintahan baru pada Selasa (7/9). Namun, pemerintahan sementara tersebut disambut negara-negara asing dengan kekecewaan.

Menurut pernyataan Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki, tak seorang pun di pemerintahan Joe Biden akan menyarankan untuk menghormati dan menghargai Taliban sebagai anggota komunitas global. Uni Eropa pun menyuarakan ketidaksetujuannya atas penunjukan itu, tetapi siap untuk melanjutkan bantuan kemanusiaan. Bantuan jangka panjang pun akan tergantung bagaimana Taliban menjunjung tinggi kebebasan dasar.

Di sisi lain, Arab Saudi berharap pemerintahan baru ini akan membantu Afganistan mencapai keamanan dan kestabilan serta menolak kekerasan dan ekstremisme.

Terakhir kali Taliban memerintah Afganistan pada 1996-2001, wanita dilarang bekerja dan anak perempuan dilarang bersekolah. Kelompok itu pun melakukan eksekusi publik dan polisi syariatnya menerapkan interpretasi radikal atas hukum Islam.

Namun, para pemimpin Taliban kini telah berjanji akan menghormati hak-hak rakyat, termasuk hak-hak perempuan, sesuai dengan hukum syariat Islam. Meski begitu, banyak warga Afganistan yang telah mencecap kebebasan yang lebih besar selama 2 dekade terakhir khawatir akan kehilangan kebebasan itu.

Dalam sebuah wawancara dengan SBS News Australia, seorang pejabat senior Taliban mengatakan perempuan tak akan diizinkan bermain kriket, olahraga populer di Afganistan. Olahraga lainnya mungkin juga akan dilarang untuk wanita karena dianggap 'tidak perlu' dan tubuh mereka mungkin akan terekspos.

Dewan kriket Australia pun mengatakan akan membatalkan pertandingan uji coba yang direncanakan melawan tim pria Afganistan jika Taliban tak mengizinkan wanita untuk bertanding olahraga.

Sementara itu, sekelompok wanita mengadakan aksi protes di daerah Pul-e-Surkh. Mereka membawa poster bertuliskan 'Kabinet tanpa wanita adalah kegagalan'. Unjuk rasa yang lebih besar pada Selasa (7/9) pun bubar ketika orang-orang bersenjata Taliban melepaskan tembakan peringatan ke udara.

"Kabinet diumumkan dan ternyata tak ada wanita di dalamnya. Sejumlah jurnalis yang datang untuk meliput aksi protes semuanya ditangkap dan digelandang ke kantor polisi," kecam seorang wanita dalam video yang tersebar di media sosial.

Menurut pernyataan Kementerian Dalam Negeri yang baru, demi menghindari gangguan dan masalah keamanan, siapa pun yang mengadakan demonstrasi harus mengajukan izin 24 jam sebelumnya. []