News

Diberhentikan dengan Hormat, Novel Cs Meradang

Novel menyatakan, pemecatan terhadap dirinya dan puluhan rekannya harus diprotes karena banyak masalah.


Diberhentikan dengan Hormat, Novel Cs Meradang
Penyidik senior KPK Novel Baswedan saat memberikan sambutan kepada karyawan dan wartawan di hari pertama kerja di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/7/2018). Novel Baswedan mulai kembali bekerja di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terhitung Jumat (27/7). Setelah absen selama 16 bulan memberantas korupsi lantaran untuk rehabilitasi pasca disiram air keras pada 11 April 2017 lalu. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memberhentikan dengan hormat 56 pegawainya tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) pada tanggal 30 September mendatang. Pemberhentian itu langsung direspons penyidik nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Novel menyatakan, pemecatan terhadap dirinya dan puluhan rekannya harus diprotes karena banyak masalah.

“Saya kira ini suatu hal yang luar biasa. Kita tahu bahwa ada banyak permasalahan yang jelas perbuatan melawan hukum, perbuatan manipulasi, perbuatan ilegal yang dilakukan dengan maksud menyingkirkan pegawai KPK tertentu. Itu jelas ditemukan, bukti-buktinya jelas,” kata Novel ditemui di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (15/9/2021).

Novel menyampaikan kinerja pemberantasan korupsi tak mudah. Banyak lawan yang harus dihadapi. Namun hal ini harus dilakukan demi kepentingan bangsa dan negara.

“Kami mengambil jalan itu. Kami akan selalu sampaikan bahwa setiap langkah yang kami lakukan, kami sadar dengan segala risikonya dan kami akan berbuat sebaik-baiknya. Setidaknya sejarah akan mencatat kami berbuat baik,” tegas Novel.

Novel mengatakan, langkah Pimpinan KPK memecat 56 pegawai, seharusnya bisa menjadi dasar evaluasi bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Kalaupun ternyata, negara memilih atau pimpinan KPK dibiarkan untuk tidak dikoreksi perilakunya melanggar hukum, masalahnya bukan karena kami,” ucapnya.

Dia menegaskan, dirinya bersama rekan seperjuangannya sangat serius dalam kerja-kerja pemberantasan korupsi. Namun keseriusan itu justru menyingkirkannya dari KPK.

"Kami berupaya memberantas korupsi yang sungguh-sungguh ternyata justru kami yang diberantas. Tentu ini kesedihan yang serius, saya kira ini juga dirasakan seluruh rakyat Indonesia,” kata Novel.