News

Dianggap 'Pemberani', Remaja Perekam Video Pembunuhan George Floyd Dianugerahi Pulitzer

Darnella Frazier, yang sekarang berusia 18 tahun, dianugerahi penghargaan Pulitzer karena keberaniannya


Dianggap 'Pemberani', Remaja Perekam Video Pembunuhan George Floyd Dianugerahi Pulitzer
Foto ini menunjukkan Darnella Frazier (ketiga dari kanan) yang merekam adegan penangkapan George Floyd yang disertai kekerasan (Reuters via BBC)

AKURAT.CO, Seorang remaja yang merekam video pembunuhan George Floyd oleh seorang polisi kulit putih telah diberikan penghargaan jurnalisme khusus oleh Dewan Hadiah Pulitzer. Sebagai catatan, Pulitzers selama ini dikenal sebagai penghargaan jurnalisme paling bergengsi di Amerika Serikat (AS).

Seperti diwartakan NBC News hingga BBC, Darnella Frazier, yang sekarang berusia 18 tahun, dianugerahi penghargaan Pulitzer karena keberaniannya.

"Frazier dengan berani merekam pembunuhan George Floyd, sebuah video yang kemudian memicu protes terhadap kebrutalan polisi di seluruh dunia, menyoroti peran penting warga dalam pencarian jurnalis untuk kebenaran dan keadilan," terang Dewan Hadiah Pulitzer dalam sebuah pernyataan. 

Tepat pada 25 Mei 2020, Frazier menjadi saksi penangkapan dan pembunuhan Floyd di Minneapolis. Saat itu, dengan inisiatifnya, Frazier mengambil ponselnya dan langsung merekam semua adegan kekerasan yang dilakukan oleh mantan perwira Chauvin Derek kepada Floyd.

Gambaran detik-detik saat Derek menjepit leher Floyd itu pun turut diungkap oleh Frazier selama sidang kasus Floyd awal tahun ini. Saat itu, Frazier menceritakan bagaimana pada awal mulanya, ia hanya berjalan dengan sepupunya untuk membeli makanan ringan di toko kelontong sekitar lokasi. Namun, belum sempat membeli, Frazier melihat situasi menegangkan di mana seorang pria kulit hitam dijepit lehernya oleh polisi kulit putih. Diceritakan pula bagaimana saat itu, pria berkulit hitam tersebut terlihat sangat ketakutan dan memohon untuk dilepaskan.

Frazier pun mengaku bahwa saat itu, ia tidak ingin sepupunya menyaksikan adegan kekerasan tersebut. Karenanya ia langsung mengantarkan sepupunya yang berusia 9 tahun pergi ke dalam toko. Sementara sepupunya berada di dalam toko, Frazier lari ke trotoar dan mulai merekam adegan yang menurutnya 'tidak benar'.

"Dia menderita. Dia kesakitan.

"Saya merekam insiden itu karena saya melihat seorang pria ketakutan, memohon untuk hidupnya.

"Ia berkata bahwa ia tidak bisa bernapas. Dia ketakutan, dia memanggil ibunya," ungkap Frazier sambil mengaku sempat merasa terancam karena Chauvin mengabaikan seruan warga untuk segera melepas Floyd.

Video yang menunjukkan Floyd dijepit selama 9 menit 29 detik itu diunggah ke Facebook hanya beberapa  jam setelah insiden terjadi. Sejak saat itu, video Frazier diputar terus menerus di seluruh dunia dan menjadi titik protes besar-besaran atas diskriminasi rasial di AS. 

Bagi banyak orang, Floyd yang tewas saat masih dalam tahanan dianggap menjadi simbol kebrutalan polisi, terutama terhadap orang kulit berwarna.

Selain itu, rekaman Frazier juga ikut dijadikan sebagai bukti di pengadilan pembunuhan Chauvin pada awal tahun ini. Berkat rekaman itu, Chauvin akhirnya dinyatakan bersalah atas tiga tuduhan, yakni pembunuhan tingkat dua, pembunuhan tingkat tiga, dan pembunuhan tidak disengaja.

Baca Juga: Rakyat AS Bergembira! Polisi Pembunuh George Floyd Diputus Bersalah atas Dakwaan Pembunuhan

Sementara Chauvin divonis bersalah, Frazier mengaku bahwa kematian Floyd telah mengubah hidupnya. Ini terutama karena secara kebetulan, Frazier juga keturunan Afrika-Amerika.

"Ketika saya melihat George Floyd, saya melihat ayah saya, saya melihat saudara laki-laki saya, sepupu saya, paman saya karena mereka semua berkulit hitam.

"Dan saya melihat bagaimana kejadian itu bisa menimpa salah satu dari mereka," Frazier sembari berurai air mata.

Diketahui pada awal tahun lalu, Frazier juga sempat dianugerahi PEN/Benenson Courage Award oleh PEN America, sebuah organisasi sastra dan hak asasi manusia.[]

Anugrah Harist Rachmadi

https://akurat.co