News

Dianggap Melawan Tuhan, Iran Eksekusi Gantung Pendemo Anti-Pemerintah

Dianggap Melawan Tuhan, Iran Eksekusi Gantung Pendemo Anti-Pemerintah
Warga Iran menggelar protes di Teheran pada 1 Oktober 2022 (Middle East Images/AP)

AKURAT.CO Iran mengaku telah menghukum gantung seorang pengunjuk rasa pria dengan tuduhan 'melawan Tuhan', karena melukai seorang perwira paramiliter.

Media pemerintah, Mizan Online, yang berafiliasi dengan pengadilan Iran, dan kantor berita semi-resmi Tasmin, mengonfirmasi hukuman itu pada Kamis (8/12), dalam eksekusi pertama yang diungkap ke publik terkait dengan protes yang telah meluas sejak kematian Mahsa Amini pada September.

Pengunjuk rasa yang dihukum gantung itu diidentifikasi sebagai Mohsen Shekari. Menurut laporan media pemerintah, Shekari dihukum karena 'mengobarkan perang melawan Tuhan', setelah menikam seorang anggota pasukan paramiliter Basij selama protes di Teheran pada 23 September.

baca juga:

Hanya sebulan setelahnya, pada 23 Oktober, Shekari divonis hukuman mati, dan pada Kamis pagi, ia dieksekusi dengan cara digantung, menurut Mizan Online.

Hukuman tersebut menjadi eksekusi pertama terkait protes yang dilaporkan secara publik oleh media pemerintah.

Sejumlah warga Iran juga dilaporkan telah divonis mati selama protes nasional, yang dipicu oleh kematian Amini. Gadis Kurdi-Iran ini wafat pada 16 September setelah ditangkap oleh polisi moral negara karena diduga tidak mengenakan jilbab dengan benar.

Kematian Amini telah berhasil 'menyentuh saraf' warga di Republik Islam, dengan tokoh-tokoh masyarakat terkemuka bergegas keluar untuk mendukung gerakan tersebut, termasuk aktor top Iran Taraneh Alidoosti. Protes sejak itu terus meluas, menyatu menjadi keluhan dan seruan akan rezim Iran yang otoriter.

Menurut Amnesty International, per November, otoritas Iran menuntut hukuman mati untuk setidaknya 21 orang sehubungan dengan protes tersebut.

Sementara makin banyak warga yang dieksekusi, 458 orang telah tewas dalam kerusuhan sejak September, menurut Hak Asasi Manusia Iran yang berbasis di Norwegia pada Rabu (7/12).

CNN tidak dapat secara independen memverifikasi jumlah orang yang menghadapi eksekusi di Iran, atau angka penangkapan terbaru maupun jumlah kematian terkait dengan protes, karena angka yang tepat tidak mungkin dikonfirmasi oleh siapa pun di luar pemerintah Iran.

Sejak demonstrasi dimulai, pihak berwenang Iran telah melakukan tindakan keras yang mematikan, dengan laporan penahanan paksa dan penganiayaan fisik digunakan untuk menargetkan kelompok minoritas Kurdi.

Bahkan, dalam investigasi CNN baru-baru ini, kesaksian rahasia mengungkap adanya kekerasan seksual terhadap para pengunjuk rasa, termasuk anak laki-laki, di pusat penahanan Iran sejak awal kerusuhan.

Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran memuji Basij – sayap Pengawal Revolusi Iran – atas perannya dalam tindakan keras, seraya menggambarkan gerakan protes sebagai 'perusuh' dan 'preman' yang didukung oleh pasukan asing.

Pada akhir November, Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB mengatakan Iran berada dalam 'krisis hak asasi manusia penuh'. Mereka menyerukan penyelidikan independen atas pelanggaran hak asasi manusia di negara itu. []