Ekonomi

Di Tengah Pandemik, BEI Kedatangan 2 Emiten Baru


Di Tengah Pandemik, BEI Kedatangan 2 Emiten Baru
Bursa Efek Indonesia (BEI) (Sopian)

AKURAT.CO PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatat adanya emiten yang baru melantai di bursa saham (IPO) yakni milik PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT) dan PT Karya Bersama Anugerah Tbk (KBAG).

Pencatatan kedua saham, hari ini (8/4/2020), di kantor BEI, Jakarta, terjadi tanpa melakukan seremoni langsung yang kedua kalinya diterapkan oleh BEI. Hal ini terjadi ditengah penerapan Work from Home dan social distancing.

Meski demikian, di perdagangan pagi hari ini, SBAT memeroleh penguatan hingga 34,29% ke 141 dari penawaran perdana Rp105 per lembar saham. Hal ini berarti SBAT hampir mencapai batas autoreject atas. Disisi lain, KBAG menguat hingga 35% ke Rp135 dari Rp100 yang berarti telah mencapai batas autoreject atas.

Mengacu Surat Keputusan Direksi BEI Kep-00096/BEI/08-2015 tentang Perubahan Batasan Auto Rejection, batasan auto reject yakni: Saham dengan rentang harga Rp 50-Rp 200: batasan auto rejection 35% pada saham yang naik. 

“Walaupun ditengah kondisi gejolak Pasar Modal yang sedang terjadi, Perseroan tetap optimis untuk mengembangkan bisnisnya dan menjadi Perusahaan Publik yang terus bertumbuh dengan menerapkan prinsip tata kelola yang sehat,” kata Direktur Utama Perseroan Jefri Junaedi, melalui siaran persnya, Rabu (8/4/2020). 

IPO SBAT ini menawarkan 425 juta lembar saham dengan setiap pemegang 1 saham baru Perseroan berhak memperoleh 1 Waran Seri I dan setiap 1 Warrant Seri I memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru yang dikeluarkan dalam portepel sebesar harga penawaran saham.

Warrant seri I yang diterbitkan jumlahnya sama dengan saham, yaitu 425 juta dan mempunyai jangka waktu pelaksanaan selama 3 tahun yang baru dapat dilaksanakan selama 6 bulan setelah efek tercatat di Bursa Efek Indonesia.

SBAT adalah perusahaan penghasil benang hasil daur ulang (recycle) bahan tekstil dengan kapasitas maksimum 20.000 ton per tahun. Benang yang diproduksi Perseroan berupa benang jenis Open End dan Ring Spinning, benang tersebut digunakan oleh pelanggan Perseroan untuk memproduksi kain batik, handuk, sarung tangan rajutan, kain denim, kain kanvas, karpet, pel, serbet, kain lap dan produk lainnya untuk industri rumah tangga. 

Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik Indonesia, Perseroan telah mendistribusikan produk-produknya ke berbagai belahan dunia seperti: Kanada, Columbia, Uruguay, Mesir, Afrika Selatan, Belgia, Kroasia, Rusia, Ukraina, Bangladesh, Pakistan, China, Korea Selatan, Jepang, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan lainnya. 

Dengan rencananya mencatatkan saham Perseroan di Bursa Efek Indonesia, maka akan menjadikan Perseroan sebagai perusahaan daur ulang pertama dalam bidang tekstil yang menjadi perusahaan terbuka di Indonesia. 

“Perseroan terus berupaya mengembangkan usaha dengan memperluas pangsa pasar melalui penyediaan layanan terbaik dan kualitas yang konsisten dengan menjalankan usaha yang ramah lingkungan dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah pada khususnya dan nasional pada umumnya,” kata Jefri.

Sementara, IPO KBAG menawarkan sebanyak 30,07% saham ke publik atau sekitar Rp 152 miliar.  Perseroan melaksanakan penawaran umum perdana saham selama 3 (tiga) hari, yakni pada tanggal 1 s/d 3 April 2020. Berdasarkan laporan penjatahan yang diterbitkan BAE pada tanggal 6 April 2020, diketahui adanya oversubscribed pesanan saham sebanyak 1,42 kali dari total penawaran atau 43,13 kali dari porsi pooling.

Dana yang akan diperoleh dari hasil penawaran umum ini setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk: - sekitar 78,55% akan digunakan untuk kebutuhan belanja modal Perseroan yaitu penambahan fasilitas produksi berupa pembelian mesin Open End Machine dan Finisher Drawframe serta beberapa mesin lainnya - sekitar 21,45% akan digunakan untuk keperluan modal kerja Perseroan dalam rangka pembelian bahan baku, biaya pemasaran dan perlengkapan keperluan lainnya.

Perusahaan Real Estate KBAG dan Entitas Anak memiliki tabungan landbank yang berlokasi di Jakarta Barat seluas 7.346 m2, melalui Entitas Anak PT Kharismatama Niaga Makmur dan tanah seluar sekitar 150 Ha di daerah Jonggol, melalui Entitas Anak PT Singasari Purabuana dan PT Arthapurwa Budijaya.

Pendapatan usaha Perseroan per September 2019 adalah sebesar Rp 15.982 juta yang terdiri dari segmen real estat sebesar 99,87% atau sebesar Rp 15.962 juta dan segmen pengelolaan lingkungan sebesar 0,12% sebesar Rp 19,99 juta. Sedangkan laba usaha serta laba bersih Perseroan berturut- turut adalah sebesar Rp 2.771 juta dan Rp 613 juta.

Setelah IPO, KBAG akan membangun produk dan pelayanan yang berkualitas dengan harga terjangkau, serta bernilai tambah untuk kepuasan seluruh konsumen.

Saat ini, perseroan sedang melakukan pengembangan dan pembangunan aset tanah Perseroan yang berlokasi di Kelurahan Gunung Sari Ulu, Kecamatan Balikpapan Tengah, dimana memiliki lokasi sangat strategis di tengah kota dan mudah untuk diakses dari berbagai sudut kota, seperti jarak yang ditempuh ke bandara dan ke pusat kota dan bisnis hanya 10 menit.

Lokasi aset tanah Perseroan juga berdekatan dengan pasar tradisional, sekolahan, universitas dan rumah sakit. Perseroan telah merancang dan mengembangkan aset Perseroan tersebut menjadi hunian vertikal dengan konsep Rumah Kota, yang dikenal sebagai “Rumah Kota Green Valley”.

Rumah Kota Green Valley adalah sebuah kawasan hunian nyaman dan lengkap untuk gaya hidup modern dan sehat, yang memberikan pilihan produk berupa Hunian Rumah Susun Sederhana Milik, rumah tapak, dan ruko dengan struktur beton bertulang, dinding bata ringan dan atap baja ringan. Berlokasi di wilayah Balikpapan menjadikan Rumah Kota Green Valley memiliki nilai investasi yang menguntungkan dan terus berkembang.

Konsep rumah kota yang sedang dikembangkan oleh Perseroan yang merupakan pionir di Balikpapan, merupakan salah satu jawaban atas masalah backlog yang sekarang terjadi. Perseroan berkeyakinan bahwa animo masyarakat terhadap konsep rumah kota ini akan cukup tinggi dan akan mendapatkan respon positif dari masyarakat setempat. Hingga saat ini, boleh dikatakan belum terdapat kompetitor yang cukup berarti untuk produk dengan konsep ini.

Lebih lanjut, dengan ditetapkannya Ibukota baru ke Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur maka akan berdampak juga ke pertumbuhan nilai real estat di Balikpapan. Sehingga dampak positif tersebut khususnya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan industri real estat di Balikpapan.[]