News

Di Rapimnas Demokrat, AHY Banding-bandingke Prestasi SBY dan Jokowi

Di Rapimnas Demokrat, AHY Banding-bandingke Prestasi SBY dan Jokowi
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat yang dinilai ilegal di DPP Demokrat, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (5/3/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyinggung soal drama tangisan para elite pemerintahan kala menyikapi permasalahan bangsa. Hal ini khususnya terkait kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Menurut AHY, pada kenyataannya yang menangis saat ini adalah rakyat. Maka dari itu, rakyat kini membutuhkan bantuan dukungan.

"Demokrat tidak boleh menangis. Demokrat tidak boleh pura-pura menangis. Yang menangis rakyat. Ini bukan rekayasa. Ini kita temui setiap saat. Yang jelas, rakyat ingin perubahan dan perbaikan. Betul? Setuju?" kata AHY disambut tepuk tangan para kader di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (15/9/2022).

baca juga:

Lebih lanjut, AHY sempat menyebut sosok Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebab, dia mengklaim banyak masyarakat yang rindu masa kepemimpinan SBY.

"Rakyat juga membandingkan kehidupan mereka dulu dan sekarang. Dulu mah begitu, sekarang? Intinya apa? Rakyat merindukan siapa? SBY dengan kepemimpinan dari partai? Demokrat," tutur AHY.

"Ada yang rindu SBY? Ada. Ada lagunya itu, rindu serindu-rindunya. Apa yang rakyat rindukan? Meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Rata-rata tumbuh 6 sampai 7 persen. Alhamdulilah. Ini yang rakyat rindukan," sambung dia.

Menurut dia, bangsa Indonesia saat ini butuh perubahan dan perbaikan untuk mencapai tatanan hidup masyarakat yang lebih baik dan sejahtera. 

"Dan kalau rakyat ingin perbaikan dan perubahan mohon doa restu bagi Partai Demokrat. Ini narasi kita. Gelorakan semangat ini sampai 2024 ini. DPD siap? DPC siap ? Bersama-sama kita bisa," ujar AHY.

Selain itu, AHY turut menyoroti data tentang angka pengangguran yang mana saat ini setiap peningkatan 1 persen pertumbuhan ekonomi, akan membuka 2 juta lapangan pekerjaan baru.

"Angka pengangguran bagaimana? 10 juta orang keluar dari pengangguran. Rasio utang pemerintah pada PDB kita, menurun 55 persen," jelas AHY.

Terkait angka kemiskinan, AHY menambahkan, ini bukan kali pertamanya berada di single digit. Sebab, pada zaman pemerintahan SBY pun angka kemiskinan pernah berhasil diturunkan.

Maka dari itu, kata dia, menurunkan angka kemiskinan merupakan tugas besar semua pihak, terutama lintas generasi.

"Ini yang kita lakukan. Kalau ada yang mengatakan sepanjang sejarah RI pertama kalinya angka kemiskinan single digit. Kita enggak perlu melebih-lebihkan data. Tapi ini kita tersenyum miris saat ada yg mengatakan seolah-olah baru sekarang. Padahal ini pekerjaan besar semua. Pekerjaan besar lintas generasi," lanjut dia. 

Terakhir, ia juga menyoroti terkait banyaknya tenaga honorer yang belum diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). "Maka mereka akan menjadi PNS. Kita memberikan bukti yang nyata," tukas dia. []