News

Di 5 Suku Ini, Wanita Boleh Punya Banyak Suami


Di 5 Suku Ini, Wanita Boleh Punya Banyak Suami
Meski makin ditinggalkan, penduduk Tibet di pedalaman Himalaya masih mempraktikkan poliandri (Society and Culture)

AKURAT.CO, Poliandri adalah bentuk hubungan di mana seorang wanita punya suami lebih dari satu orang. Namun, praktik poliandri ini terbilang jarang ditemui. Wanita yang melakukannya pun kerap diberi stigma negatif dan dianggap tak bermoral.

Meski jarang ditemui, poliandri rupanya lazim dipraktikkan sejumlah suku di berbagai negara. Sebagian masih mempertahankannya, sebagian sudah meninggalkannya.

Dirangkum oleh AKURAT.CO dari berbagai sumber, inilah 5 suku yang membolehkan wanitanya punya banyak suami.

baca juga:

1. Suku Toda, India

Di 5 Suku Ini, Wanita Boleh Punya Banyak Suami - Foto 1
The Hindu

Suku yang menghuni bukit Nilgiri di India Selatan ini sudah berabad-abad mempraktikkan poliandri. Mereka menerapkan poliandri fraternal atau para lelaki bersaudara akan berbagi istri.

Artinya, saat seorang perempuan menikahi seorang lelaki, otomatis ia juga menikahi saudara-saudara suaminya. Jika sang istri hamil, suami pertamanyalah yang akan melakukan upacara pemberian busur dan panah kepada sang istri dan menjadi ayah untuk anak pertama itu.

Jika sang istri hamil lagi, suami keduanyalah yang akan melakukan upacara serupa dan menjadi ayah dari putra kedua itu, begitu seterusnya. Namun, praktik ini kini telah dilarang lantaran marak terjadi pembunuhan pada bayi perempuan yang baru lahir.

2. Suku Maasai, Kenya

Di 5 Suku Ini, Wanita Boleh Punya Banyak Suami - Foto 2
Suku Poliandri. Maasaiwilderness

Meski sebagian menerapkan poligami, suku yang mendiami wilayah danau-danau besar Afrika ini juga menerapkan poliandri. Jika seorang wanita menikah, otomatis ia juga menikahi teman-teman sebaya suaminya. Jika temannya datang berkunjung, sang suami harus merelakan ranjangnya untuk tamunya tersebut bersama sang istri. Semua anak yang dilahirkan pun dianggap merupakan anak sang suami.

Namun, praktik ini kini sudah ditinggalkan. Perempuan sekarang boleh memilih akan menemani tamu suaminya atau tidak.

3. Suku Guanches, Kepulauan Canary

Di 5 Suku Ini, Wanita Boleh Punya Banyak Suami - Foto 3
Owlcation

Suku Guanches adalah penduduk asli Kepulauan Canary di barat laut pesisir Afrika. Pada saat terjadi bencana kelaparan di abad ke-14 dan ke-15, banyak anak perempuan tewas sehingga terjadi ketimpangan jumlah penduduk. Jumlah pria pun lebih banyak dibandingkan pria. Akibatnya, mereka mempraktikkan poliandri sehingga wanita di suku tersebut bisa menikahi maksimal 5 pria.

4. Suku Mosuo, China

Di 5 Suku Ini, Wanita Boleh Punya Banyak Suami - Foto 4
Viola

Suku Mosuo yang tinggal di tepi Danau Lugu, Pegunungan Himalaya, mempraktikan poliandri lewat tradisi 'nikah jalan'. Zaman dahulu, wilayah itu sangat miskin. Saking miskinnya, mereka tak sanggup membentuk keluarga terpisah dari keluarga orang tuanya.

Solusinya, para pria berjalan mengunjungi wanita dari rumah ke rumah pada malam hari. Jika sang wanita mengizinkan, sang pria boleh 'bermalam' di sana. Artinya, wanita boleh memilih dan berganti pasangan sesuka hatinya.

Namun, bukan berarti wanita suku Mosuo bermoral rendah. Menganut prinsip matrilineal, tradisi pernikahan ini justru dianggap tak merugikan wanita.

5. Penduduk Tibet, China

Di 5 Suku Ini, Wanita Boleh Punya Banyak Suami - Foto 5
Society and Culture

Di Daerah Otonomi Tibet, terdapat tradisi agar tanah tak dibagi-bagi antar saudara. Lahan pertanian pun harus dipertahankan untuk menyokong kebutuhan keluarga. Itu sebabnya mereka mempraktikkan poliandri agar para saudara lelaki tetap berada dalam satu rumah.

Selain itu, letak Tibet yang berada di pegunungan membuat sebagian lahan pertanian sulit ditanami dan butuh banyak kekuatan fisik. Perempuan akhirnya menikahi banyak suami karena mereka lebih kuat dan bisa membantu mengurus lahan pertanian.

Dalam tradisi Tibet, pernikahan sudah dirancang sejak anak-anak mereka masih kecil. Dalam rumah tangga poliandri itu, saudara lelaki tertua menjadi kepala rumah tangga. Sementara itu, saudara lelaki lainnya berbagi pekerjaan secara adil, tetapi mereka semua punya hak yang sama untuk berhubungan intim dengan sang istri. Sang istri juga harus memperlakukan mereka dengan adil.

Semua anak juga diperlakukan sama dan semua 'ayah' tak boleh menunjukkan anak mana yang jadi kesayangan mereka, bahkan meskipun mereka tahu yang mana anak kandung mereka. Anak-anak pun harus menganggap semua paman sebagai ayah mereka. Namun, mereka biasanya hanya akan memanggil ayah pada suami tertua yang masih hidup.

Seiring berjalannya waktu, poliandri makin ditinggalkan, tetapi masih dipraktikkan di daerah-daerah terpencil Tibet.

Meski poliandri masih menjadi kontroversi, setiap tradisi dan budaya haruslah tetap dihormati.[]