Andi Rahmat

Pelaku Usaha dan Mantan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI
Ekonomi

Desentralisasi Pemulihan Ekonomi

Desentralisasi Pemulihan Ekonomi
Dua orang pria berada di depan pertokoan di Pasar Baru, Jakarta, Kamis (2/4/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 akan turun menjadi 2,3 persen dan dalam skenario terburuk bahkan bisa mencapai -0,4 persen akibat penyebaran COVID-19. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Persoalan perekonomian kita bukan lagi soal apakah ekonomi kita sudah mengalami resesi atau belum mengalami resesi. Faktanya, perekonomian Indonesia dalam dua quartal berturut-turut mengalami kontraksi berat. Perekonomian tumbuh negatif. Komponen utama pembentuk PDB mengalami tekanan hebat. Konsumsi Rumah Tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), Harga yang deflatoir, dan deretan indikator makro lainnya semua menunjukkan situasi “ darurat” perekonomian.

Indonesia tidak sendiri dalam menghadapi situasi ini. Hampir semua negara mengalami tekanan ekonomi yang hebat. Dari kelompok G20, hanya china yang tumbuh positif di quartal kedua, 3,2%.

Tapi perekonomian Indonesia, terpapar pula resiko “ menyendiri” dalam menghadapi persoalan ini. Sistem moneter kita mungkin relatif kuat karena adanya mekanisme “ tolong-menolong” antar bank sentral, baik dalam bentuk Bilateral Swap Arrangement (BSW) maupun Repo Line Arrangement (RLA), yang melapisi daya tahan Bank Indonesia.

baca juga:

Tetapi sistem fiskal kita, terlihat rentan karena makin sempitnya ruang manuver fiskal yang diperlukan dalam mengungkit perekonomian. Ditambah lagi, tidak mudah memperoleh “bantuan“ internasional, baik institusi maupun swasta global yang juga tengah disibukkan dengan pemburukan ekonomi diberbagai negara.

Tulisan ini tidak bertujuan mendiskusikan soal tekanan pembiayaan pada Fiskal kita. Fokus tulisan ini adalah pada upaya mengoptimalkan seefektif mungkin sumber daya Fiskal untuk mengungkit perekonomian. 

Dalam situasi dimana waktu yang terbatas dan kerumitan birokrasi bisa menumpulkan efektivitas kebijakan Fiskal, memperkuat desentralisasi dalam pemulihan ekonomi merupakan pilihan terbaik dan semestinya  dijadikan opsi utama kebijakan pemulihan ekonomi.

Desentralisasi dalam pemulihan ekonomi bermakna dua. Pertama, melibatkan semaksimal mungkin pemerintahan daerah dalam pemulihan ekonomi. Yang kedua, Menanggalkan asumsi bahwa sentralisasi kebijakan pemulihan ekonomi akan membuat pemulihan ekonomi menjadi lebih cepat, efisien dan sederhana.

Kalau kita melihat kembali statisik pertumbuhan ekonomi, sejak otonomi daerah mulai diberlakukan, dan didalamnya juga termasuk konsepsi perimbangan keuangan pusat dan daerah ( baca: desentralisasi fiskal) , kita akan menemukan geliat pertumbuhan ekonomi lokal dalam dua dekade terakhir. Bahkan, dibeberapa wilayah, pertumbuhan ekonominya bisa lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Demikian juga dengan gairah perekonomian lokal. Desentralisasi terbukti merangsang local creative dalam mendorong aktivitas perekonomian. Dalam dua dekade terakhir, banyak sekali pelaku usaha lokal  yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi pemain kuat nasional. Sekurang-kurangnya, menjadi local champion di daerah mereka masing-masing.