News

Derita Warga Kampung Pulo: Motor hingga Benda Elektronik Rusak


Derita Warga Kampung Pulo: Motor hingga Benda Elektronik Rusak
Kendaraan terendam banjir di kawasan Jalan Komplek BTN, Kembangan, Jakarta Barat, Kamis (2/1/2020). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, banjir Jakarta dan sekitarnya disebabkan curah hujan ekstrem. Akibat banjir, tercatat 31.323 warga yang berasal dari 158 kelurahan, mengungsi karena rumahnya terendam banjir.  (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Banjir di kawasan Kampung Pulo, Jakarta Timur surut,  namun menyisakan kotoran lumpur dan sampah yang belum dibersihkan oleh petugas kebersihan. 

Berdasarkan pantauan AKURAT.CO, akibat banjir, sebagian rumah warga mengalami kerusakan. Meskipun rumah-rumah yang rusak tidak cukup parah, hanya bagian depan dan samping karena diterjang banjir selama satu hari. 

"Banjir di Kampung Pulo sekarang ini setelah air surut, banyak lumpur hingga setengah mata kaki. Dan sampah plastik dan kayu yang belum dibersihkan petugas kebersihan," kata salah satu relawan yang enggan disebutkan identitasnya. 

Dampak banjir di Kampung Pulo itu mengakibatkan lumpur yang sulit dibersihkan, karena cukup banyak yang bercampur dengan sampah plastik dan kayu. Sejumlah warga yang menjadi korban mengeluhkan soal banyaknya lumpur di seluruh rumah warga dan jalan setelah banjir surut. 

"Kalau dulu setelah banjir, lumpur ikut terbawa arus air yang mengalir ke kali. Setelah ada tanggul, lumpur tidak ikut terseret air dan sampah-sampah plastik dan kayu," kata salah satu warga yang menjadi korban di kawasan Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (3/2/2020). 

Akibat banjir tersebut, puluhan kendaraan roda dua dan roda empat milik warga terendam air. Dan secara otomatis sejumlah rumah warga terendam banjir yang menyebabkan rumah rusak seperti jendela dan pintu rumah. 

"Banyak banget kendaraan yang terendam banjir setelah saya keliling di Kampung Pulo," ucapnya. 

Selain itu, cerita dia, barang elektronik seperti televisi dan kulkas juga ikut rusak karena kemasukan air. Pada saat banjir itu belum sempat menyelamatkan barang-barang miliknya. Karena baik dirinya maupun warga yang lain tidak ada yang mengetahui bahwa air akan naik hingga 2 meter. 

Bahkan tidak ada pemberitahuan dari lurah atau ketua RT/RW setempat dan juga petugas. "Tidak ada pemberitahuan sama sekali. Jadi tiba-tiba air naik, warga berusaha menyelamatkan diri," tuturnya. 

"Barang-barang saya rusak semua. Dan rumah saya dan warga lain ikut rusak walaupun nggak begitu parah banget," katanya. 

Ia menceritakan banjir di Kampung Pulo mulai terjadi sejak Rabu (1/1/2020) sore hingga Kamis (2/2/2020) sore karena luapan tanggul dari Kali Ciliwung. Pada saat air mulai naik, lanjut dia, tidak ada petugas dan Tim SAR yang membantu melakukan evakuasi warga yang rumahnya terendam air. 

Menurut dia, saat banjir terjadi, warga di Kampung Pulo enggan mengungsi karena ketinggian air belum mencapai lantai 2 rumahnya.  

"Saat mulai banjir, warga tidak langsung mengungsi karena ketinggian baru diatas lutut orang dewasa. Hingga malam pukul 23.00 WIB, ketinggian air mencapai 2 meter," ujarnya.

"Tidak ada petugas atau Tim SAR yang melakukan evakuasi. Setelah Anies (Gubernur DKI Jakarta) datang, hanya petugas PPSU yang membantu mengevakuasi," tambah dia. []