News

Deretan Negara yang Pernah Tolak Masuk UAS, Masalah Dokumen hingga Ekstremisme

Tak hanya Singapura, beberapa negara mulai dari Asia hingga Eropa pernah menolak masuk kedatangan Ustaz Abdul Somad dengan beragam alasan.


Deretan Negara yang Pernah Tolak Masuk UAS, Masalah Dokumen hingga Ekstremisme
Penceramah Ustad Abdul Somad (tengah) menggelar konferensi pers di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Rabu (21/8/2019). Kedatangannya merupakan undangan dari MUI dalam rangka klarifikasi atau tabayyun terkait videonya yang dianggap menistakan agama. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Indonesia baru-baru ini digegerkan dengan kejadian yang dialami Ustaz Abdul Somad (UAS) di Singapura. Ia mengaku dideportasi dari negara tetangga Indonesia tersebut ketika hendak liburan. Kementerian Dalam Negeri Singapura pun mengklarifikasi kejadian ini.

Menurut negara tersebut, UAS bukan dideportasi, melainkan ditolak masuk. Alasannya, ajaran UAS dianggap ekstremis dan segregasi. Kemendagri Singapura pun menganggap hal ini tak dapat diterima oleh masyarakat multiras dan multiagama di negara tersebut. Mereka bahkan menyebut contohnya, di mana UAS pernah berkhotbah bahwa bom bunuh diri sah dilakukan dalam konteks konflik Palestina dan Israel.

Ternyata, bukan kali ini saja kedatangan UAS ditolak di luar negeri. Alasannya pun beragam, mulai dari masalah dokumen hingga isu terorisme.

baca juga:

Dihimpun AKURAT.CO dari berbagai sumber, ini deretan negara yang pernah menolak kedatangan UAS.

1. Hong Kong

Deretan Negara yang Pernah Tolak Masuk UAS, Masalah Dokumen hingga Ekstremisme - Foto 1
Jetstar

UAS ditolak masuk Hong Kong saat memenuhi undangan ceramah di sana pada 2017. Kejadian itu diungkapkannya melalui akun Facebooknya.

Begitu keluar dari pintu pesawat, beberapa orang tak berseragam menghadang rombongannya dan menarik mereka secara terpisah. Menurut UAS, ia diminta membuka dompetnya dan ditanya apakah ada kartu nama Rabithah Alawiyah atau Ikatan Habaib. Sontak ia menduga orang-orang tersebut tertelan isu terorisme.

Para petugas juga menginterogasinya selama 30 menit. Ia ditanya identitas, pekerjaan, pendidikan, dan hubungannya dengan ormas dan politik. Setelah itu, para petugas menyatakan bahwa Hong Kong tak bisa menerima kedatangan UAS dan rombongannya, tanpa dijelaskan alasannya. Mereka langsung diantar ke pesawat untuk pulang ke Indonesia pada sore harinya.

2. Timor Leste

Deretan Negara yang Pernah Tolak Masuk UAS, Masalah Dokumen hingga Ekstremisme - Foto 2
Unsplash

Kejadian tak menyenangkan juga dialami UAS saat hendak masuk Timor Leste untuk mengisi acara tabligh akbar pada 2018. Menurut penjelasan UAS, pihak imigrasi Timor Leste baru menerima informasi dari Jakarta yang menyebutnya sebagai seorang teroris.

UAS mengaku paham dirinya dilarang masuk Timor Leste menjelang Pilpres Indonesia 2019. Ia berspekulasi ada pihak-pihak yang khawatir dirinya bakal mempengaruhi suara WNI di negara tetangga tersebut.

3. Uni Eropa

Deretan Negara yang Pernah Tolak Masuk UAS, Masalah Dokumen hingga Ekstremisme - Foto 3
CNTraveler

Kedatangan UAS juga ditolak sejumlah negara Eropa. Pada 2019, ia ditolak masuk Jerman lantaran dianggap kerap menyampaikan pernyataan intoleran dan provokatif.

Pada tahun yang sama, UAS hendak pergi ke Belanda melalui Swiss. Namun, kedatangannya di Swiss langsung dicegat petugas imigrasi. Menurut penjelasan UAS, pihak imigrasi mengatakan bahwa paspor yang dipegangnya tak memberikan akses memasuki Eropa.

4. Inggris

Deretan Negara yang Pernah Tolak Masuk UAS, Masalah Dokumen hingga Ekstremisme - Foto 4
GoingGlobal

Pada Februari 2020, UAS tak diizinkan masuk ke Belanda dan Inggris. Meski mengantongi visa, petugas imigrasi enggan memberikan cap masuk padanya.

UAS mengeklaim kedatangannya ditolak karena ada rencana aksi unjuk rasa terhadapnya oleh kelompok pendukung LGBT. Pasalnya, ceramahnya dianggap menyinggung kelompok LGBT.

Dalam poin terakhir pernyataannya, Singapura menegaskan kalau setiap warga negara asing bukan berarti bisa langsung masuk negara tersebut. Setiap kasus punya penilaian masing-masing. Meski UAS berdalih ke Singapura untuk kunjungan sosial, pemerintah negara tersebut menjelaskan bahwa mereka memandang serius setiap orang yang menganjurkan kekerasan dan/atau mendukung ajaran ekstremisme dan segregasi.  []