News

Demonstrasi Antipemerintah Kolombia Makin Mencekam, 10 Polisi Nyaris Dibakar Hidup-hidup

Sejauh ini 24 orang tewas dalam demonstrasi dan hampir setengah dari jumlah korban yang telah teridentifikasi merupakan pengunjuk rasa


Demonstrasi Antipemerintah Kolombia Makin Mencekam, 10 Polisi Nyaris Dibakar Hidup-hidup
Demonstran bentrok dengan polisi di Bogota, Kolombia, pada Rabu (5/5).

AKURAT.CO, Polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata ke demonstran di Bogota, Kolombia, pada Rabu (5/5). Hari kemarin menjadi hari ke delapan aksi unjuk rasa nasional antipemerintah.

Dilansir dari Reuters, demonstrasi ini awalnya menentang rencana reformasi pajak yang kini telah dibatalkan. Namun, para pengunjuk rasa telah memperluas tuntutan mereka dengan mendesak pemerintah bertindak mengatasi kemiskinan, kekerasan polisi, serta ketimpangan dalam sistem kesehatan dan pendidikan.

Demonstrasi dan penentangan dari anggota parlemen ini menyebabkan reformasi pajak dicabut serta menteri keuangan mengundurkan diri. Organisasi internasional pun memperingatkan kekerasan yang dilakukan oleh polisi. Pasalnya, sejauh ini 24 orang tewas dalam aksi unjuk rasa. Hampir setengah dari korban yang telah teridentifikasi merupakan pengunjuk rasa.

Banyak demonstran menyerukan pembubaran polisi antihuru-hara ESMAD. Namun, beberapa mengaku mereka tidak menyalahkan masing-masing petugas.

"Mereka hanya mendapat perintah dari negara bagian yang harus mereka ikuti," ujar James Romero, mahasiswa 18 tahun yang ikut demonstrasi di Bolivar Plaza.

Romero mengaku ia dipukul berkali-kali di punggung oleh petugas ESMAD saat melarikan diri dari bentrokan pada Sabtu (1/5).

"Saya merasa takut, sangat takut," ungkapnya.

Beberapa menit kemudian, polisi menembakkan gas air mata untuk mencegah sejumlah demonstran masuk gedung Kongres Kolombia.

Sementara itu, unjuk rasa sebelumnya di wilayah utara berlangsung damai. Menurut psikolog Benjamin Paba al-Faro, ia menuntut pendidikan yang lebih baik dan memastikan kesinambungan proses perdamaian dengan pemberontak FARC yang kini telah didemobilisasi.

"Ini bukan tentang mengalahkan satu undang-undang saja," tuturnya.

Angka kemiskinan di Kolombia meningkat menjadi 42,5 persen pada tahun lalu di tengah penguncian virus corona. Situasi ini pun memperburuk ketidaksetaraan yang sudah berlangsung lama dan membalikkan beberapa kemajuan pembangunan baru-baru ini.

Jumlah warga Kolombia yang hidup dalam kemiskinan ekstrem tumbuh 2,8 juta orang pada 2020.

Unjuk rasa dan blokade jalan akibat aksi ini pun telah menghalangi pengiriman ekspor kopi yang menjadi komoditas pertanian teratas. Akibatnya, ekonomi bisa terdampak.

"Efek ini sementara, tetapi dapat mempengaruhi kebijakan moneter, tergantung pada durasi dan jangkauannya," kata Direktur Teknis Bank Sentral Hernando Vargas pada Rabu (5/5).

Di sisi lain, Presiden Ivan Duque berjanji pemerintah akan menciptakan ruang untuk mendengarkan rakyatnya dan mengembangkan usulan konkret. Tawaran ini mirip dengan tawaran yang diajukannya kepada pengunjuk rasa setelah demonstrasi 2019. Banyak kelompok, termasuk serikat besar, menyatakan kalau tawarannya gagal.

Dalam sebuah video pada Rabu (5/5), Duque mengulangi tuduhan dari pemerintah bahwa mafia penyelundup narkoba berada di balik vandalisme dan penjarahan. Ia mengaku ada lebih dari 550 orang telah ditangkap.

"Tidak akan ada gencatan senjata terhadap mereka yang melakukan kejahatan ini. Seluruh rakyat akan membawa mereka ke pengadilan," tegasnya.

Selama demonstrasi malam ketujuh pada Selasa (4/5), 30 warga sipil dan 16 petugas polisi terluka di Bogota, menurut pernyataan kantor wali kota. Puluhan kantor polisi Bogota pun mengalami kerusakan dalam semalam, sedangkan 3 lainnya hancur.

Dalam salah satu serangan, massa mencoba untuk membakar hidup-hidup 10 petugas polisi dengan membakar sebuah stasiun. Ditanya soal serangan itu, seorang petugas polisi di Bolivar Plaza mengaku kepada Reuters bahwa sebagai manusia ia merasa kecewa. Wali Kota Claudia Lopez juga terkejut akan kehancuran dan kekerasan di kota dalam semalam.

Demonstrasi di seluruh negeri itu telah mengakibatkan 24 kematian, menurut ombudsman HAM. Sebanyak 15 di antaranya berada di kota Cali. Polisi nasional atau pasukan antihuru-hara ESMAD ditandai oleh ombudsman sebagai entitas yang dianggap bertanggung jawab atas 11 kematian, termasuk seorang anak lelaki berusia di bawah 18 tahun.

Sementara itu, sebuah lembaga lokal pengamat HAM menyebutkan bahwa korban tewas mencapai lebih dari 30 orang. []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co