News

Demokrat Komitmen Lakukan 3 Hal Ini Demi Cegah Polarisasi di Pilpres 2024

Selain itu, dirinya mempertanyakan siapa dalang di balik polarisasi yang selama ini terjadi pada dua kali pertarungan pemilu 2014 dan 2019


Demokrat Komitmen Lakukan 3 Hal Ini Demi Cegah Polarisasi di Pilpres 2024
Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakomstra) Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor DPP Demokrat, Jakarta, Minggu (3/10/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Juru Bicara (Jubir) DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengatakan bahwa Partai Demokrat di bawah pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) siap memberantas polarisasi yang terjadi pada pemilu 2024 mendatang. 

"Demokrat, seperti yang ditegaskan Ketum AHY di berbagai kesempatan, bakal berjuang melawan pihak-pihak yang berupaya melanggengkan keterbelahan masyarakat. Agar polarisasi tak lagi mendapat tempat di Pilpres 2024," kata Herzaky dalam keterangannya, pada Selasa (28/6/2022). 

Menurutnya, polarisasi dalam dunia politik seolah-olah kembali digaungkan dengan mengusung dua nama yang bakal bertarung pada 2024 nanti, yakni Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. 

baca juga:

Selain itu, dirinya mempertanyakan siapa dalang di balik polarisasi yang selama ini terjadi pada dua kali pertarungan pemilu 2014 dan 2019 antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto. 

"Padahal, jelas-jelas polarisasi ini, keterbelahan di masyarakat, terjadi sejak Pilpres 2014, ketika hanya ada dua kubu capres, Jokowi dan Prabowo, yang kemudian berlanjut di 2019," tuturnya. 

"Pertanyaannya, mengapa seakan perang di antara Jokowi dan Prabowo seakan mau diturunkan ke Ganjar dan Anies? Siapa sebenarnya yang mendapat untung dari polarisasi selama 2014 dan 2019? Pihak mana? Tokoh mana? Parpol mana?" tanya Herzaky. 

Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat itu mengungkapkan tiga alasan untuk mengatasi polarisasi demi kesiapan pemilu yang lebih baik ketimbang periode sebelumnya. 

"Pertama, elit politik harus memberikan contoh. Mesti terbuka dan jaga komunikasi dengan semua pihak. Menghargai perbedaan. Melihat pihak yang berbeda pendapat atau berbeda kubu, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai lawan berdialektika, dan mitra dalam membangun negeri," ucap Herzaky. 

Dalam poin kedua, elite politik juga harus terbiasa dan siap berkompetisi. Bukan malah alergi berkompetisi. Demi kepentingan elektoral dan kemenangan semata, malah berupaya menghalang-halangi calon lain muncul dalam kontestasi, dan memastikan hanya dua kubu yang berlaga di pilpres. 

"Pilpres 2014 dan 2019 yang hanya diikuti dua kubu dan sosok yang bertarung sama persislah yang membuat keterbelahan di masyarakat semakin mendalam. Buka ruang untuk koalisi dan pasangan calon minimal tiga di Pilpres 2024 untuk cegah keterbelahan," terang dia. 

Terakhir yang Ketiga, stop sebar politik kebencian, framing, dan labelling yang merusak. Janganlah demi kemenangan, berupaya sebisa mungkin menghancurkan lawan dalam kontestasi. 

"Tidak lagi kedepankan adu gagasan dan adu program, tetapi menyerang pribadi, bahkan menguliti habis kekurangan pribadi lawan. Bukan beradu kelebihan, melainkan mengeksploitasi habis kekurangan lawan. Bahkan memframing lawan sebagai ancaman yang bisa menghancurkan negeri kalau terpilih. Melabel lawan dengan citra kelompok yang dibenci," jelasnya. 

Maka dari itu, kata Herzaky, partainya akan berupaya melakukan ketiga hal ini yang menjadi kunci mengatasi polarisasi. Bukan memasangkan siapa dengan siapa. Karena kalau memasangkan siapa dengan siapa itu yang dianggap sebagai solusi, sama saja kita menuduh sosok yang dipasangkan itu dan para pendukungnya sebagai sumber polarisasi. []