News

Demi Perdamaian, Pakistan Ajak Komunitas Internasional Terlibat dengan Pemerintah Taliban

Yusuf pun tegas mendesak agar masyarakat internasional mau 'berhubungan dengan Taliban' dan tidak mengulangi kesalahan masa lalu.


Demi Perdamaian, Pakistan Ajak Komunitas Internasional Terlibat dengan Pemerintah Taliban
Dalam foto ini, warga berjalan dengan barang-barang mereka saat menyeberang ke Pakistan di titik persimpangan Gerbang Persahabatan, di kota perbatasan Chaman, Pakistan 6 September 2021 (Abdul Khaliq Achakzai / Reuters)

AKURAT.CO Penasihat keamanan nasional Pakistan, Moeed Yusuf telah meminta dunia untuk 'terlibat' dengan pemerintahan Taliban. Menurut Yusuf, jika hal itu tidak dilakukan, maka dunia akan mengambil risiko kembalinya ketidakstabilan yang menjadi ciri era terakhir saat Taliban berkuasa di Afganistan tiga dekade lalu.

Ajakan itu disampaikan ketika Yusuf bertemu dengan para wartawan media asing di ibu kota Pakistan, Islamabad, Rabu (15/9) waktu setempat. Dalam pidatonya itu, Yusuf pun tegas mendesak agar masyarakat internasional mau 'berhubungan dengan Taliban' dan tidak mengulangi kesalahan masa lalu.

"Kami mencoba untuk memastikan bahwa dunia bisa memahami pentingnya tidak membuat kesalahan masa lalu lagi. 

"Bagi kami, sangat penting untuk mencari perdamaian dan stabilitas di Afganistan, itulah yang menjadi fokus kami," katanya.

Komentar Yusuf itu muncul ketika kekuatan dunia memperdebatkan apakah dan dalam kondisi apa untuk mengakui pemerintah baru di Kabul yang didominasi oleh Taliban. Seperti diketahui, Taliban berhasil menyapu Afganistan dalam serangan kilatnya bulan lalu. Kelompok itu menguasai ibu kota Kabul pada 15 Agustus ketika mantan Presiden Ashraf Ghani melarikan diri dari negara itu.

Baca Juga: Ashraf Ghani Minta Maaf Pada Rakyat Afganistan, Akui Kabur Demi Jaga Perdamaian

Pakistan, tetangga tenggara Afganistan, berulang kali menyerukan kekuatan dunia untuk terlibat dengan pemerintah baru tersebut. Dalam seruan itu, Pakistan juga mendesak dunia internasional untuk segera memberikan bantuan kemanusiaan dan dukungan lain demi menyelamatkan ekonomi Afganistan yang akan runtuh. 

Pada konferensi PBB, Senin (13/9), beberapa negara telah menjanjikan lebih dari USD 1,1 miliar (Rp15,6 triliun) dalam bentuk bantuan untuk mengatasi masalah kemiskinan dan kelaparan di Afganistan. Namun, sekitar USD 10 miliar (Rp142,2 triliun) dalam cadangan bank sentral Afganistan, masih dibekukan di bank-bank di luar negeri, terutama dengan bank sentral AS, Federal Reserve AS.

Demi Perdamaian, Pakistan Ajak Komunitas Internasional untuk Terlibat dengan Pemerintah Taliban - Foto 1
Aamir Qureshi/AFP

Taliban telah mengobarkan pertempuran berdarah selama 20 tahun melawan pasukan pendudukan AS dan NATO. Akibat perang ini, puluhan ribu warga sipil Afganistan dan pasukan keamanan tewas.

Yusuf pun menyerukan kekuatan dunia untuk terlibat dengan Taliban daripada membekukan hubungan dengan pemerintah yang dipimpin oleh kelompok bersenjata tersebut.

"Dengan tetap terlibat, Anda pada dasarnya mengatakan bahwa kita secara konstruktif akan mencoba dan melihat bagaimana cara untuk membantu Afganistan dan rakyatnya," kata Yusuf. 

Saat ditanya apakah ada masalah hak asasi manusia di bawah pemerintahan Taliban, Yusuf mengatakan bahwa kekuatan internasional hanya bisa memanfaatkan isu-isu itu jika terlibat dengan Afganistan.

"Jika Taliban telah memberi isyarat dengan jelas bahwa mereka ingin tetap terlibat dengan dunia … dan jika mereka mengatakan dengan jelas bahwa keterlibatan akan membawa legitimasi dan bantuan, bukan Pakistan yang akan memberikan itu.

"Kami tidak dapat memberikan legitimasi itu, itu Barat. Dan itulah pengaruhnya. Tetapi jika Anda terlibat secara konstruktif maka percakapan itu bisa terjadi," sambungnya.

Yusuf lalu mengatakan bahwa keterlibatan dunia dengan pemerintah Taliban akan membantu mengatasi masalah keamanan global. Mengingat, dalam perjanjian bersejarahnya dengan AS Februari 2020, Taliban telah menyatakan bahwa tanah Afganistan tidak akan diizinkan untuk digunakan melawan negara asing.

Yusuf juga mengatakan bahwa Pakistan telah mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin Taliban mengenai masalah keamanan. Ini terutama tentang masalah yang berkaitan dengan kelompok bersenjata Taliban Pakistan yang memiliki banyak pejuang. 

"Kami membuatnya dengan sangat jelas bahwa kami tidak dapat menerima aksi terorisme dalam bentuk apa pun dari tanah Afganistan, dan terus terang tanggapan yang sangat jelas adalah bahwa kami sama sekali tidak ada minat untuk membiarkan itu terjadi

"Dan sekarang tujuannya sekali lagi adalah pengelolaan perbatasan hingga memastikan bahwa (para pejuang ini) tidak akan beroperasi dengan cara yang mereka biasa lakukan," katanya.

Pakistan telah menyaksikan peningkatan serangan terhadap pasukan keamanan di wilayah barat lautnya, terutama di distrik-distrik dekat perbatasan Afganistan. Eskalasi serangan ini terjadi usai Taliban mengambil alih kekuasaan bulan lalu.

Demi Perdamaian, Pakistan Ajak Komunitas Internasional untuk Terlibat dengan Pemerintah Taliban - Foto 2
 Bernat Armangue/AP Photo

Yusuf juga memperingatkan bahwa bantuan kemanusiaan tidak akan mengatasi keberlanjutan jangka panjang ekonomi Afganistan. Ia mengatakan bahwa kekuatan dunia perlu berbuat lebih banyak untuk memastikan negara itu – yang sangat bergantung pada bantuan asing selama beberapa dekade – tidak jatuh ke dalam krisis ekonomi.

"Bantuan kemanusiaan hanyalah pengaturan sementara untuk memastikan bahwa tidak ada krisis kemanusiaan segera. Itu tidak sama dengan dukungan pemerintahan, kelembagaan dan ekonomi," katanya.

Baca Juga: Krisis Ekonomi Afganistan Mulai Terasa, Warga Ramai-ramai Jual Perabotan demi Sesuap Nasi

Pada hari Selasa (14/9), Menteri Luar Negeri Afganistan Amir Khan Muttaqi juga meminta donor internasional untuk melanjutkan bantuan asing.

"Afganistan adalah negara yang dilanda perang dan membutuhkan bantuan masyarakat internasional di berbagai sektor, terutama pendidikan, kesehatan dan pembangunan," kata Muttaqi saat berbicara kepada wartawan di Kabul saat itu.

Sementara itu, pada Kamis ini, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan dijadwalkan terbang ke ibu kota Tajikistan, Dushanbe. Dalam kunjungannya ini, Khan akan menghadiri pertemuan puncak Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), di mana situasi di Afganistan diperkirakan akan menjadi topik yang menonjol.

Yusuf juga telah membeberkan dalam pertemuan itu, Khan akan mendesak kekuatan dunia di SCO, yang meliputi Rusia, China, India, dan beberapa negara Asia Tengah, untuk 'terlibat' dengan pemerintah Taliban di Afganistan.[]