Olahraga

Demam PON, Jayawijaya Gelar Pertandingan Voli dengan Pakaian Adat

“Memang ada yang bilang ini pelecehan, tetapi tujuan kami adalah melestarikan budaya kami,” tutur Marthin Yogobi tentang pakaian etnik Papua.


Demam PON, Jayawijaya Gelar Pertandingan Voli dengan Pakaian Adat
Pemandangan di Teluk Youtefa, Jayapura, Papua, di mana Lapangan Timbul Tenggelam berada. (WISATA PAPUA)

AKURAT.CO, Euforia olahraga selepas menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2021 sepertinya belum selesai. Di Kabupaten Jayawijaya, Papua, misalnya, pemerintah setempat menggelar pertandingan bola voli namun peserta menggunakan pakaian adat setempat.

Digelar mulai Jumat (3/12) sampai Minggu (5/12) di kawasan wisata Pasir Putih di Distrik Pasugi, peserta di antaranya mengenakan pakaian adat masyarakat setempat yang disebut dengan etnik Baliem.

“Kegiatan yang dilaksanakan anak-anak muda ini tujuannya juga adalah untuk promosi lokal dan pariwisata yang ada di Jayawijaya,” kata Wakil Bupati Jayawijaya, Marthin Yogobi, sebagaimana dipetik dari Antara.

“Ini menarik dan bagus karena dilakukan secara mandiri oleh kelompok yang mengelola wisata. Mereka ini ada sepuluh kelompok obyek wisata.”

Pun demikian, Marthin juga mendapatkan pertanyaan soal kostum tradisional etnik Baliem seperti koteka dan sali yang cenderung terbuka. Dia merespons dengan mengatakan bahwa itu adalah upaya melestarikan kebudayaan masyarakat setempat.

“Memang ada yang bilang ini pelecehan, tetapi tujuan kami adalah melestarikan dan meningkatkan nilai budaya kami,” tutur Marthin.

Acara ini juga bisa diikuti oleh masyarakat dari etnis lainnya, termasuk yang berasal dari luar Papua. Untuk peserta umum, bisa mengenakan pakaian adat dari daerah masing-masing.

“Kami harap peserta dari umum dan itu sesuai budaya masing-masing, misalnya dari Jawa, itu bebas bagi mereka dan mereka harus menggunakan pakaian adat mereka,” kata Marthin.

Marthin mengatakan bahwa acara ini juga menjadi percobaan bagi pemuda setempat sebagai penyelenggara. Jika berlangsung lancar, maka pemerintah setempat berupaya memberikan dukungan untuk perhelatan-perhelatan lainnya.

“Artinya dengan pakaian etnik yang ada di Lembah Baliem ini, memang sempat terlintas (untuk menggelar event lain yang serupa), kita akan lihat perkembangannya, kesiapan dari pemuda yang ada di sini. Pemerintah akan mendukung bagian yang bisa kita dukung,” kata Marthin.

Untuk menyaksikan acara ini, pengunjung membayar Rp500 untuk satu tiket dan Rp20 ribu untuk kendaraan bermotor. Selain menyaksikan pertandingan, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan alam dan membeli cenderamata khas Papua seperti noken, Sali, kare-kare, dan koteka.[]