News

Debat Soal Cadar Kembali Muncul, begini Pendapat Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah

Debat Soal Cadar Kembali Muncul, begini Pendapat Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah
Ilustrasi perempuan berkerudung (unsolash.com/mustafameraji)

AKURAT.CO, Secara umum, pakaian dimaksudkan sebagai alat untuk menutupi tubuh terutama aurat. AKan tetapi, dalam agama Islam, ada tujuan lain dari berpakaian yakni untuk menjaga martabat sebagai seorang manusia.

Tetapi, sebagai agama yang menyukai keindahan, tentu pakaian yang dianjurkan tidak sembarangan. Misalnya saja Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita untuk mengenakan pakaian terbaik ketika beribadah kepada Allah SWT.

Pakaian dalam agama Islam juga memiliki aturan tersendiri yang membedakan antara laki-laki dan perempuan. Sebut saja pakaian perempuan yang hari ini menjadi perdebatan di kalangan masyarakat yaitu bagaimana hukum mengenakan cadar.

baca juga:

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim, di Indonesia muncul berbagai pro dan kontra terkait cadar. Ada yang menyarankan bahwa perempuan muslim tidak perlu mengenakan cadar dengan alasan agar bisa dikenali dan lain sebagainya. Ada pula yang berpandangan agar perempuan mengenakan cadar untuk menjaga kedudukan perempuan.

Imam Nawawi menilai bahwa aurat wanita adalah seluruh badan kecuali wajah dan kedua telapak tangan. (Al-Majmu’, 3: 122). Hal tersebut juga disinggung dalam Minhajuth Tholibin, 1: 188. Pendapat yang dikemukakan oleh Imam Nawawi tersebut adalah pendapat yang disepakati oleh mayoritas ulama dan merupakan pendapat yang terkuat.

Di era sekarang, perdebatan yang kembali mungemuka tersebut ditanggapi oleh Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Syamsul Anwar, MA.

Syamsul berkata,"Kita sebagai mahluk dalam surah Al-Hujurat itu dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenali. Salah satu cara untuk mengenali itu adalah melalui wajah. Oleh karena itu, sebaiknya wajah itu harus nampak,"

"Kalau saya sebagai dosen di dalam kelas, saya tidak tahu itu siapa yang saya awasi. Supaya kita lebih bisa kenal, dan cepat tahu, jadi sebaiknya dibuka, dan tidak ada perintah untuk menutup wajah. Itu mungkin tradisi berpakaian dari suatu tempat tertentu lalu dikaitkan dengan pemahaman agama. Tetapi sesungguhnya ruh daripada agama itu wajah sangat penting. Di situlah kita mengenal seseorang," tambahnya.

Wallahu a'lam.[]