News

Debat Pilgubsu, Eramas Tawarkan Penegakan Hukum, DJOSS Fokus Program

Debat Pilgubsu, Eramas Tawarkan Penegakan Hukum, DJOSS Fokus Program
Pasangan Cagub-Cawagub Sumatera Utara Djarot Syaiful Hidayat - Sihar P.H Sitorus. (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Dalam debat ketiga pemilihan gubernur (pilgub) Sumatera Utara (Sumut) kembali digelar tadi malam, Selasa, 19 Juni. Debat yang mengangkat tema penegakan hukum dan hak asasi manusia (HAM) ini semakin mengkukuhkan pembeda antara pasangan nomor urut dua Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (DJOSS) dan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas).

Pada debat semalam pasangan DJOSS lebih mengedepankan pendekatan program dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Salah satu contohnya seperti konflik agraria antara para petani di Perkebunan Ramunia Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang dengan Kodam I Bukit Barisan yang berlarut-larut. Kasus sengketa tanah antara militer dan warga terkait tanah garapan itu sampai saat ini belum menemui titik terang.

Dalam debat tadi malam, Djarot mengklaim ada unsur diskriminatif ada kasus itu. Untuk itu DJOSS membawa salah seorang petani, Open Manurung, di tengah-tengah hadirin. Open adalah petani di Ramunia. “Beliau ingin mengurus haknya. Tapi, dia justru mendapat perlakuan diskriminatif hingga trauma berkepanjangan. Saat konflik agraria terjadi, hukum tak berpihak kepada rakyat kecil,” katanya.

baca juga:

Pernyataan Djarot di awal debat tersebut tentu saja langsung mengkritik penanganan sengketa tanah antara rakyat di Ramunia dan Kodam I Bukit Barisan. Menurut dia, dalam situasi tersebut pendekatan hukum saja tak bisa dilakukan. Sebab, itu berarti pemerintah tutup mata terhadap permasalahan sesungguhnya. “Harus mengedepankan musyawarah dan mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Menanggapi itu, Edy menganggap perkara tersebut sudah final. “Ramunia itu tanah Kodam. Tanah negara. Ada warga sok tahu yang ingin memilikinya. Silakan urus tanah itu ke Kodam. Bukan urus ke saya,” kata Edy.

Edy mengklaim bila kasus tersebut bukan lagi tanggung jawab dia. Sebab, dia sudah tidak lagi menjabat sebagai Pangdam. “Saya Pangdam pada 2015,” katanya. Padahal, pada tahun yang sama terjadi gesekan antara tentara dan masyarakat. Sejumlah warga menjadi korban penganiayaan oleh tentara.

Menurut Edy, penegakan hukum harus tegas. Tanpa pandang bulu. Mereka yang melanggar hukum adalah para pengacau. “Ini kalau saya yang memimpin, (para pengacu) ini saya hilangkan karena merusak demokrasi. Demokrasi harus tegak,” katanya.

Kemudian debat merambah ranah penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Pasangan Edy, Musa Rajekshah, menyebut bahwa Sumatera Utara adalah provinsi kedua dengan jumlah pengguna narkoba paling banyak. “Sedangkan nomor satu adalah provinsi DKI Jakarta,”kata Ijec sapaan akrab Musa Rajekshah.

Padahal, berdasarkan data yang dirilis Badan Narkotika Nasional, provinsi terbanyak pengguna adalah DKI Jakarta kemudian Daerah Istimewa Yogyakarta. Peringkat ketiga adalah Kalimantan Timur. Data itu pernah disampaikan langsung oleh Kepala BNN Provinsi Kaltim Brigjen Pol Raja Haryono tahun lalu.

Debat mulai memanas ketika pertanyaan panelis membahas pemberantasan korupsi. Sumut dinyatakan sebagai salah satu provinsi paling rawan korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penyebabnya, dua gubernur berturut-turut karirnya berakhir gara-gara korupsi. Bagaimana memberantasnya?

Djarot mengatakan bahwa pendekatan sistem mutlak diperlukan. Caranya dengan melakukan transparansi anggaran melalui e-budgetting, e-procurement, e-planning, hingga e-catalogue. Tujuannya, masyarakat bisa berpartisipasi aktif. “Dan jika ada penyimpangan bisa segera melaporkan untuk segera kami tindak lanjuti,” katanya.

Djarot lantas melempar bola kepada Musa. Mantan Walikota Blitar dan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan bagaimana Eramas akan memimpin gerakan pemberantasan korupsi di Sumut jika Musa sendiri pernah dipanggil KPK dalam kasus bagi-bagi dana suap dengan terdakwa gubernur Gatot Pujo Nugroho. Alih-alih menjawab, Musa justru balik menuding Djarot sebagai orang baru di Sumut.

“Pak Djarot musti lebih lama lagi di sumut. Biar tau cerita sebenarnya. Kalaulah kita mau cerita tentang korupsi di Sumut banyak sekali,” tuturnya.