News

Data Kartu Kredit 6 Negara Asia Tenggara Bocor ke Internet, Indonesia Termasuk


Data Kartu Kredit 6 Negara Asia Tenggara Bocor ke Internet, Indonesia Termasuk
Ilustrasi kartu kredit syariah (Pexels)

AKURAT.CO, Perusahaan keamanan Technisanct mengungkapkan bahwa ratusan ribu data kartu kredit dari setidaknya 6 negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, telah bocor ke internet. Technisanct telah menemukan serangkaian pelanggaran data yang melibatkan rincian kartu kredit nasabah bank-bank top di Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, Indonesia, dan Thailand.

"Hasilnya mengkhawatirkan karena tampaknya tidak ada yang menyadari bahwa rincian kartu kredit dalam jumlah besar termasuk CVV dan PIN telah bocor," kata CEO Nandakishore Harikumar, dilansir dari laman Asia One, Senin (9/3).

Harikumar menambahkan, siapapun yang memiliki data tersebut dapat menimbulkan kerugian finansial bagi pemilik kartu.

Perusahaan yang berbasis di India itu mengungkapkan bahwa pemegang kartu kredit di Filipina adalah yang paling parah, dengan 172.828 data kartu kredit yang bocor. Sementara Malaysia dan Singapura masing-masing memiliki 37.145 dan 25.290 kasus kebocoran data.

Harikumar mengatakan, timnya telah mengidentifikasi bahwa ada lebih banyak data kartu yang dijual dari enam negara Asia Tenggara tersebut. Ia juga mengatakan telah mengirim email ke Computer Emergency Response Team (CERT)-yang menangani insiden cybersecurity-di setiap negara dan menyarankan mereka untuk mengambil tindakan, meskipun tidak semua merespons.

Di Malaysia, Cybersecurity Malaysia dan bank sentral selaku otoritas yang mengatur lembaga keuangan menolak berkomentar. Di lain pihak, CIMB Group Holdings, yang diduga sebagai salah satu bank yang terkena dampak, mengatakan tidak ada bukti kredibel bahwa data nasabah bocor dari mereka.

“CIMB memperhatikan privasi data dan perlindungan dengan serius dan telah mengambil langkah-langkah keamanan yang diperlukan untuk memastikan semua informasi pribadi pelanggan tetap aman. Kami terus memantau semua jalan untuk memastikan bahwa data pelanggan kami tetap terlindungi jika memungkinkan,” kata juru bicara CIMB.

Sementara itu, Otoritas Moneter Singapura (MAS) mengatakan pihaknya terus-menerus memantau ancaman dunia maya, termasuk serangan dunia maya yang dapat mengakibatkan penipuan kartu pembayaran, sebagai bagian dari pengawasannya.

"Kami mencatat bahwa vendor keamanan telah melaporkan peningkatan insiden pencurian data secara internasional, termasuk hilangnya rincian kartu dari situs web e-commerce yang dikompromikan," kata seorang juru bicara MAS.

Juru bicara menambahkan bahwa pihaknya memiliki persyaratan ketat bagi lembaga keuangan di Singapura untuk menerapkan kontrol teknologi informasi untuk melindungi informasi sensitif dari pengungkapan yang tidak sah.

"Para penerbit kartu kredit memiliki proses yang baik dalam penanganan data kartu kredit yang bocor. Penerbit kartu juga telah menempatkan pemantauan penipuan waktu nyata untuk mendeteksi dan memblokir transaksi mencurigakan dengan segera,” kata MAS.

Ini bukan pertama kalinya negara-negara Asia Tenggara menjadi korban kejahatan dunia maya termasuk pelanggaran data profil tinggi.

Tahun lalu, anak perusahaan maskapai Indonesia Lion Air mengalami pelanggaran data besar-besaran yang mengakibatkan informasi jutaan penumpang bocor. Informasi tersebut termasuk rincian paspor, alamat rumah, dan nomor telepon. []