News

Data BNPB: Bencana Hidrometeorologi Dominan Sepanjang Januari-April

BNPB mencatat 1.205 bencana alam terjadi dari 1 Januari 2021 hingga 30 April 2021


Data BNPB: Bencana Hidrometeorologi Dominan Sepanjang Januari-April
Genangan air merendam akses jalan kawasan depan lapangan Bhayangkara Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (25/1/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa bencana hidrometeorologi masih dominan terjadi di Indonesia sepanjang Januari hingga April 2021. Bencana yang paling sering adalah banjir.

"BNPB mencatat 1.205 bencana alam terjadi dari 1 Januari 2021 hingga 30 April 2021," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati dikutip dari rilisnya, Minggu (2/5/2021).

Raditya menyatakan, bencana hidrometeorologi, seperti banjir, angin puting beliung dan tanah longsor, dominan terjadi pada periode waktu tersebut. Bencana banjir menjadi kejadian yang paling sering terjadi dengan 501 kali, disusul angin puting beliung 339, dan tanah longsor 233. 

"Dilihat dari periode waktu tersebut, total jumlah kejadian mengalami kenaikan 1 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan korban meninggal, total jumlah mengalami kenaikan 1,83 persen," kata dia.

Rincian kejadian bencana alam pada periode 1 Januari 2021 hingga 30 April 2021 yakni bencana banjir 501 kejadian, angin puting beliung 339, tanah longsor 233, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 97, gempa bumi 18, gelombang pasang dan abrasi 16, dan kekeringan 1.

Rentang periode tersebut, bencana alam mengakibatkan korban meninggal 479 jiwa, hilang 60, luka-luka 12.900 dan menderita serta mengungsi hingga 5 juta jiwa. Bencana alam yang mengakibatkan korban meninggal tertinggi yaitu banjir 267 jiwa, gempa bumi 117, tanah longsor 86, angin puting beliung 7, dan karhutla serta gelombang pasang masing-masing 1. 

Sedangkan kerusakan fisik, BNPB mencatat bencana menyebabkan kerusakan sektor perumahan dengan kategori rusak berat 14.936 unit, rusak sedang 23.347 dan rusak ringan 83.629. Selain kerusakan rumah, bencana alam juga menyebabkan kerusakan pada fasilitas umum seperti tempat ibadah 1.363 unit, Pendidikan 1.350, perkantoran 494, kesehatan 347 dan jembatan 295. 

Menyikapi kejadian bencana, masyarakat diimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Ancaman bencana hidrometeorologi belum berakhir, ini terbukti dengan kejadian tanah longsor di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, jelang akhir April lalu.

Di samping potensi bahaya hidrometeorologi, masyarakat diimbau juga mewaspadai potensi bahaya geologi, khususnya gempa bumi. 

"Gempa bumi dapat terjadi kapan dan dimana saja. Oleh karena itu, masyarakat selalu menyiapkan sejak dini upaya-upaya kesiapsiagaan keluarga, yaitu mengenali risiko dan potensi bahaya di sekitar," kata Raditya.

Langkah selanjutnya yaitu menyiapkan strateginya dengan membuat rencana kesiapsiagaan keluarga atau pun latihan di tingkat keluarga. Beberapa waktu lalu BNPB mengajak semua pihak untuk melakukan Latihan, tepat pada Hari Kesiapsiagaan Bencana, yang jatuh pada 26 April. []

Erizky Bagus

https://akurat.co