Tech

Darurat Kebocoran Data, 26 Ribu Orang Tandatangani Petisi Online Desak BSSN

Muncul petisi online melalui laman change.org yang ditujukan kepada BSSN


Darurat Kebocoran Data, 26 Ribu Orang Tandatangani Petisi Online Desak BSSN
Ilustrasi kebocoran data (Pixabay)

AKURAT.CO, Beberapa waktu terakhir masyarakat dihebohkan dengan sejumlah kasus kebocoran data pribadi. Teranyar, data nasabah BRI Life dikabarkan diretas dan dijual di internet.

Banyak juga laporan masyarakat yang ditelepon oleh oknum pinjaman online, atau nomor asing dengan modus klarifikasi akun rekening bank. Hal itu menjadi tanda banyaknya data pribadi masyarakat yang bocor dan disalahgunakan.

Kini, muncul petisi online melalui laman change.org yang ditujukan kepada Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Petisi tersebut berjudul 'BSSN Tetapkan Standar Perlindungan Data Pribadi Kami Lewat RUU PDP'.

Pantauan Akurat.co hingga Kamis (5/7/2021) sore, sebanyak 26.897 orang telah menandatangani. Petisi tersebut dibuat oleh Evan Yonathan dan diharapkan mencapai target 35.000. Dalam tuntutannya, Evan menyebut bahwa BSSN belum menanggapi maraknya kasus kebocoran data.

"Padahal ini masalahnya sudah darurat," tulisnya.

Petisi juga menyoroti kasus 2 juta data nasabah asuransi BRI Life yang diperjualbelikan oleh oknum secara online.

"Sebelumnya juga ada kasus hilangnya uang di akun Jenius Bank BTPN milik seseorang. Setelah mendapatkan telefon yang mengaku call centre. Pembobolan itu dilakukan lewat peretasan aplikasi yang dipakai sehari-hari. Gak tanggung-tanggung uang yang dibobol sampai ratusan juta," demikian bunyi petisi.

"Ada beberapa rekan saya pula yang sudah menerima telepon penipuan mengatasnamakan BPJS Kesehatan, dan sang penipu mengetahui secara detil data-data pribadi calon korban. Selain itu si penipu juga menggunakan nomor telefon dari luar negeri," lanjut Evan.

Dirinya menyatakan patut diduga hal itu adalah buntut dari kebocoran data BPJS Kesehatan beberapa bulan silam yang menurutnya terbukti belum ditangani secara baik.

"Halo BSSN? Tolong diseriusin masalah ini. Kita bayar pajak loh, seharusnya sebagai masyarakat kita dilindungi, termasuk soal data pribadi kita," tukas Evan.

"Jujur saya semakin was-was. Apalagi makin banyak kasus kebocoran data seperti sekarang. Gimana nasib keamanan data pribadi kita ke depan?" kesalnya.

Ia menyesalkan bahwa bank yang seharusnya lebih aman sebagai tempat masyarakat menaruh uang, juga tidak lepas dari kasus kebocoran data. 

"Di mana lagi tempat yang aman? Karena itu saya mau ajak teman-teman untuk terus bersuara agar Badan Siber dan Sandi Negara melindungi data pribadi warga Indonesia, dengan mengawal pembahasan RUU Perlindungan Data Pribadi. Sehingga kedepannya, data-data pribadi kita bisa terjamin keamanannya," pungkas Evan.

Seperti diketahui, perusahaan pemantau kejahatan siber, Hudson Rock menyebutkan dalam akun Twitter-nya bahwa pencurian data dialami BRI Life. 

Dalam tangkapan layar yang dibagikan, terlihat banyak domain dan subdomain dari BRI yang datanya diambil. Pakar keamanan siber Pratama Persadha menjelaskan bahwa pada saat dicek di raidforums, ada akun bernama Reckt sempat mengunggah sampel data yang dia jual, namun beberapa saat kemudian dihapus. 

Akun tersebut menjual database nasabah BRI Life Insurance (2 juta lebih nasabah) dan scan dokumen (lebih dari 463 ribu).